Senin, 17 Februari 2014

Deep

Satu malam yang lalu, saya terenyak ketika mendapati sebuah twittpict cover novel sebuah akun yang menjadi following saya. "Tweetnesian". Tentu sebagian kalian sudah mengenal akun twitter yang satu ini. Novel ini berjudul "Deep" karya Hendra Putra.Dengan kalimat, "Tak ada jalan pintas menuju kebahagiaan" di cover depannya. Menjadikan buku ini menarik, sekaligus menggelitik. Jadi, diam-diam saya menyimpan kagum, dan berinisiatif akan mengumpulkan uang saku saya (meskipun selalu hanya wacana) untuk membeli novel ini.

Dan,

Mungkin inilah yang disebut sebagai telepati.

Tiba-tiba saja, tadi pagi seseorang mengulurkan sebuah benda kepada saya. Tepat disaat saya menghampiri mejanya dan menanyakan novel "bumi" nya yang sedang ia baca. Kemudian tangannya terjulur, mengulurkan sebuah benda dibalik kertas kadonya yang dibentuk serupa tas mungil. Saya terkesiap, tersenyum kecil.
"Apa?"
"Buat kamu." katanya. Dia tersenyum.
Saya menatapnya lurus-lurus, "Serius?"
"Iya! Serius lah." jawabnya, tergelak.
"Makasih ya!"

Dan, sesumringah itu saya menerima bingkisan itu.

Dirumah, sepuluh menit lalu saya teringat, lalu dengan semangat membuka tas saya dan mendapati bingkisan itu masih di dalam sana.
Saya lantas membukanya, pelan-pelan. Dan eufhoria itu seperti memuncak begitu saja ketika mengetahui benda di balik bingkisan itu adalah Novel yang sedang saya cari-cari. It's magic! Mungkin ini yang disebut telepati. Berlebihan tidak jika saya menyebutnya telepati? Hahaha.

Jadi, terimakasih untuk sahabat saya Ella Bahar, atas bingkisan manisnya.

Dan lebih dari itu, thanks a lot untuk tulisan-tulisan indahmu di dua 'benda  rahasia' yang kamu selipkan di dalamnya. Terimakasih. :)



17/02/2014
Langit Senja
Yogyakarta



Sabtu, 15 Februari 2014

Bukan Cappucino



Sebelumnya, Yogyakarta tak pernah sedingin ini. Suhu udara dengan angka mencapai 16 derajat celcius. Menggigilkan  tubuh mungil seorang gadis yang sedang duduk di salah satu kursi kedai kopi. Seseorang dengan sweater abu-abu membungkus tubuhnya, yang matanya dibingkai dengan kacamata berframe hitam,yang di lehernya terselempang syal sewarna senada, membuat rambutnya yang panjang terurai terlihat semakin surealis.
            Dan, ia terlihat manis.
Dan, nama gadis itu Kanatya. Ya, namanya Kanatya.

 Tangannya sesekali saling bergesekan untuk meredakan hawa dingin. Bibirnya yang mungil sesekali merapalkan sesuatu, semacam kalimat permintaan. Ia sebenarnya sedang menunggu. Dan, menunggu bagi sebagian orang memang membosankan, lebih dari bosan, lebih semacam kekesalan

, dan untuk yang satu ini, dia bukan perkecualian.
            Ia mengalihkan kebosanannya dengan menatap sekeliling, udara dan atmosfernya tampak begitu asing. Tapi, tidak dengan interior dan segala sudut di kedai itu. Ia sudah hapal di luar kepala, menikmatinya sebagai candu yang diam-diam menghinoptisnya untuk datang ke tempat ini, lagi dan lagi.
            Kedai dengan gaya klassik sederhana. Tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman. Bangku dengan kursi-kursi kayu berukiran kayu jati, lampu gantung dengan anyaman bambu yang dipasang di setiap meja, serta panorama eksotis dari jalanan kota yang temaram tetapi begitu bersahabat.
            Ia suka tempat ini, dan akan lebih menyenangkan lagi apabila ada seseorang yang duduk di depannya, menemaninya mengobrol sambil menikmati kopi. Tapi sekali lagi, ia sedang menunggu. Ia tidak datang sendiri,  hiburnya pada diri sendiri, mencoba memprediksi.
            Tepat saat Kanatya mulai berpikir bahwa hasil menunggunya akan sia-sia, seseorang tiba-tiba muncul di depannya. Cowok jangkung berkaos hitam dan dilapasi jaket jaens denim biru dongker, dengan potongan rambut jabrik yang di tata seadanya. Tersenyum. Membuatnya sedikit canggung, sekaligus bingung.
            Bukan. Bukan orang itu.
            Tapi, orang itu nampaknya tidak peduli. Buktinya ia masih berdiri di depannya, mengabaikan air muka dengan penuh tanda tanya di wajah Kanatya. “Boleh aku gabung disini?”
            Dan sebelum gadis itu mengangguk, seseorang itu sudah duduk sempurna persis di depannya, “Aku rasa kita perlu kenalan,” ujarnya dengan intonasi pelan tetapi menghanyutkan, kemudian tangannya terjulur, “Leo.”
            Kanatya masih belum menyadari keberadaan manusia asing di depannya ini. Ia mengajaknya berkenalan dengan cara yang menurut gadis itu aneh, sedangkan ia sendiri bingung kenapa bisa orang ini sekarang duduk di bangkunya. Tanpa harus merasa perlu meminta persetujuannya. Berani-beraninya.
            Merasa tidak mendapat respons, Leo-nama cowok itu menarik kembali jabat tangannya. “Oh oke. Nggak apa-apa. Kamu takut sama orang asing ya?” tanyanya dengan suara jenaka, seolah-olah  ia sudah mengenalnya dengan cukup lama.
            Kanatya melotot, menggeleng kuat-kuat.
            Leo tergelak, “Kalau gitu, kenapa nggak mau diajak kenalan?”
            Gadis mungil itu menghela napas, “Kanatya.”
            Akhirnya.
            Leo tersenyum penuh arti, memandangi gadis di depannya itu lamat-lamat. “Bagus.”
            “Apanya?”
            “Namamu. Namamu bagus.”
            Kanatya tersenyum, meskipun samar. Tapi, laki-laki pemilik wajah tirus itu masih bisa menangkap sebersit senyum di wajah Kanatya yang oval.
            “Udah pesen minum?”
            Kanatya menggeleng.
            “Espresso dua Mbak!”tiba-tiba  Leo sudah berteriak, memanggil salah satu waiter yang kebetulan sedang melewati mejanya.
            Benar-benar gila. Leo, cowok asing di depannya ini sudah benar-benar gila. Ia seenaknya saja memesankan espresso untuknya.  Memangnya ia suka? Cowok itu bahkan belum bertanya minuman apa yang ingin di pesannya. Keterlaluan.
            “Aku nggak suka espresso!” suaranya terdengar antara geram, jengkel, kesal dan entahlah. Ia baru pertama kali bertemu cowok asing ini. Tapi lagaknya sudah nyaris membuatnya habis kesabaran.
            “Oh gitu ya?” Leo menjawab santai, mengedikkan sebelah bahunya. “Sorry.”
            Apa dia bilang tadi? Sorry? Hanya sorry?
            Ia tidak merasa perlu untuk menanggapi cowok aneh di depannya itu lagi. Matanya mulai gelisah menatap jam tangan bermotif vintage di pergelangan tangannya yang kecil. Kemana dia? Kenapa belum datang?
            “Lagi nunggu orang ya?” tanya Leo setelah ia menyadari perubahan ekspresi dari wajah gadis di depannya.
            Merasa itu pertanyaan retoris, Kanatya tidak menjawab. Leo tergelak, tertawa kecil. “Percuma, dia nggak bakal dateng.”
            Oke. Kanatya diam, mencoba mengontrol emosinya. Lihatlah, ia bahkan tidak tahu menahu soal apa dan siapa yang sedang ia tunggu. Tapi kenapa ia bisa begitu santai mengucap kalimat itu seolah merasa sok paling tahu?
            “Kenapa nggak suka espresso?” dia bertanya lagi.
“Pahit.”
Leo tergelak. “Cuma itu? Terus ngapain kamu kesini dan belagak menikmati kopi padahal kamu nggak suka rasa pahit?”
Skak mat!
Kanatya berpikir sejenak, “Capuccino lebih favorite.” Ia menyangkal.
“Masih mau bilang capuccino itu kopi?  Apa esensinya minum kopi kalo cappucino? Itu nggak lebih dari susu yang diberi pernak-pernik kopi.” Matanya awas menatap lurus ke depan, “Kopi itu pahit, dan jangan ngaku pecinta kopi kalo kamu cuma suka sama yang manis-manis.”
            Kanatya diam. Tidak menjawab.
            Ayolah, berhenti mengajaknya berbincang lagi. Cowok itu tahu kan, Natya sedang menunggu seseorang? Dan, itu bukan dirinya. Ia bahkan tidak sama sekali mengharapkan cowok aneh ini muncul di depannya. Tapi kenapa­­­­-
            “Kamu siapa? Ngapain ke sini?”
            “Aku Leo, minum kopi.”
            Dan, ia merasa tidak perlu bertanya lagi. Cowok ini menyebalkan. Berdasarkan statistik, ada kemungkinan 75% ia mengidap gangguan jiwa, tapi senyum dan caranya berbicara menghapus habis seluruh ketidaknormalannya. Ia berbeda. Skeptis tetapi asik, terlalu asal-asalan tapi terlihat wajar.
            Sebenarnya ia tidak mau lagi menanggapi. Ia sudah berniat akan mendiamkan cowok aneh bin misterius ini kalau saja, ya, kalau saja ia tidak butuh teman bercerita. Ia bosan menunggu. Sudah terlalu lama, sudah hampir dua jam. Hingga cangkir espressonya sudah tandas tanpa ia duga-duga, karena ternyata ia mulai menikmati rasa pahitnya. Tapi seseorang yang ditunggunya tidak kunjung datang. Dan Leo, adalah satu-satunya orang yang bisa diandalkannya saat ini untuk mengusir rasa jenuh. Setidaknya Leo pencerita yang baik.
                Dengan segala tingkah konyolnya, membuat persepsi menyebalkan yang sebelumnya disematkan Kanatya dalam diri cowok itu, musnah entah kemana. Yang ada hanya obrolan seru, yang ada hanya cerita lucu, yang ada hanya riang, yang ada hanya gelak tawa.
            “Aku bilang juga apa, dia nggak bakal dateng.”
            “Kenapa kamu bisa tau?”
            “Simple, kalau dia menganggapmu istimewa dia nggak akan membiarkanmu menunggu.”             
                Lalu gadis itu akhirnya sadar, ia telah salah menunggu. Dan kali ini ia tahu, seseorang yang mengajarinya minum kopi sepahit espresoo, tidak sepahit perkiraannya. Buktinya, Leo manis. 

14/02/2014
Langit Senja
Yogyakarta
PS: cerita ini dibuat tanggal 14 Februari memang, tapi jelas bukan untuk sebuah peringatan tentang kasih sayang dan sebagainya, jika kalian beranggapan begitu. Ini hanya semacam, apa ya? Keseloan? Mungkin. :)

Kamis, 13 Februari 2014

Beda Embun dengan Abu

Pagi ini, Tuhan
tentang hari Jumat yang berkabung
langit membungkus kota kami
dengan gerimis abu yang mengepung

Gelap

Pekat

Pukul enam pagi
seperti dini hari

hingga tak ada celah
meski sejengkah
bagi sinar fajar yang biasanya datang
memberi hangat pada kami
tapi lupa kami syukuri

Pagi ini, Tuhan
tentang hari Jumat yang merengut
gugusan abu menjatuhi tanah kami satu-satu
erupsi gunung kelud

Pagi pukul setengah tujuh
seperti malam pukul sepuluh
tidak ada kristal bening itu lagi
di kaca jendela kami
yang hadirnya memberi kesejukan
tapi kami seringkali lupa, tidak memerhatikan



butir embun yang membasahi dedaunan

menghilang
tergantikan dengan butir abu
yang meradang

 Apa beda embun dengan abu?

Embun adalah apa-apa yang sempat kami lupa
di bulirnya yang memberi sejuk pada tanaman-tanaman kami
tapi lupa kami syukuri

Dan Abu,
adalah apa-apa yang kami rutuki
tentang sesak yang melanda
tentang pagi yang tak juga terang
tentang kota yang pucat pasi
tentang segala keluh yang membuat kami angkuh

Maafkan kami karena kami alpa

Dan, nikmatMu yang mana lagi kah yang kami dustakan?

Maafkan kami karena kami lupa caranya bersyukur

Dan, nikmatMu yang mana lagi kah yang kami dustakan?


Karena dengan begini kami baru akan mengerti

Ketika hanya ada abu yang kami lihat di jendela kami pagi ini, kami baru akan mensyukuri kehadiran embun yang menyejukkan kami setiap pagi.




 5.30 WIB
Jumat 14/02/2014
diantara langit gelap
dan hujan abu yang menyekap 
Langit Senja
Yogkarta




Senin, 20 Januari 2014

Sudahlah Tuan

Bibir gemetar
kulit membeku
kaki gatal
tenggorokan sakit
kepala berat
sudah cukup

perut keroncongan
melilit tak karu-karuan
jerit-jerit tak tertahankan
makan! makan!
sudah cukup

Ini ada nasi
kata pejabat tinggi
untukmu wahai para pengungsi
kami disini berbelas kasih
memberimu ini dan itu
tapi kenalkanlah dulu
kami calon wakilmu
coblos partai nomer itu
uangku sudah masuk di perutmu

Bah!
mereka tak peduli tuan
kau siapa
dasimu pangkat berapa
dompetmu tebal atau tipis
tungganganmu angkot atau lamborgini
siapa peduli?

Bah!
mereka cuma butuh nasi
ini soal afeksi dan peduli
bukan ajang memamerkan diri
alih-alih mencari suara paling tinggi

Kau tuan, sungguh
buang saja omong kosongmu itu
turunkan saja bendera partaimu
sungguh, mereka tidak butuh

Suaramu yang tak banyak cengkok
uluranmu yang tak banyak mau
rengkuhanmu yang tak banyak paksa
sungguh bagi kami lebih hakiki
sebagai bukti bahwa kau pantas jadi pemimpin sejati

bukan malah sebaliknya
hanya ingin cari muka
biar banyak suara saja
Senin, 20/01/2014
Langit Senja
Yogyakarta

Senin, 13 Januari 2014

Aku tidak berjanji

aku ingin mencintaimu
tanpa menjanjikan apa-apa
mengalir saja

seperti titik embun yang membasahi dedaunan
yang tidak pernah berjanji pada daun
untuk menjatuhkan bulir air yang lebih besar
tapi senantiasa hadir
untuk menyejukkannya setiap pagi

aku ingin mencintaimu
tanpa sedikitpun kalkulasi
satu tambah satu pun tak perlu
seperti bilangan asli yang di bagi dengan angka satu
hasilnya akan selalu sama
tidak berubah-ubah
pun nihil akan berkurang
meski dengan angka desimal paling maksimal


aku ingin mencintaimu
tanpa mengukur jerat waktu
siang sore malam
bagiku sama saja
hanya poros sama dalam sekali putar
meski besok atau lusa pun entahlah 


aku ingin mencintamu
tanpa isyarat yang dibuat-buat
selalu sederhana
tanpa jika
tanpa karena


aku tidak berjanji apa-apa
tidak menjanjikan hal apa pun kepadamu
aku hanya mencintaimu
sesederhana itu


20.42
13/01/14
saat gerimis mengguyur
Langit Senja 
Yogyakarta


Sabtu, 04 Januari 2014

Miss Holiday

Sebenarnya, liburan tahun ini ingin rasanya saya pulang ke tanah kelahiran. Di Maluku. Sudah hampir 10 tahun, dan saya belum pernah berkunjung. Sedih memang, tapi apa mau dikata? Simbah saya sedang sakit, opname di rumah sakit. Egois rasanya jika saya memilih berlibur dan bersenang-senang disana sedangkan simbah saya disini sedang terbaring kesakitan.
Tapi, kalau boleh jujur sebenarnya saya ingin berlibur saja. Saya sudah merencanakan liburan ini jauh-jauh hari, sudah membayangkan hal-hal seru selama dua minggu selama saya disana, juga merasakan eufhoria saya yang begitu memuncak setelah sekian lama tidak mengunjungi kampung halaman saya dan sekarang bisa saya kunjungi lagi. Tapi ternyata, Tuhan punya rencana lain. Dia memerintah saya agar bersabar menunggu satu tahun lagi. Tidak apa-apa. Mungkin lain kali, atau esok kapan-kapan.

Jadi, selamat berlibur. Jangan sia-siakan dua minggumu dengan hanya tidur-tiduran dikamar sambil ngemil nonton film atau drama korea! Sayang sekali. Pergilah, ketempat-tempat baru, menjelajah dan hilangkan semua penatmu bersama teman-teman atau keluarga tercinta. Biar nanti, waktu masuk sekolah, pikiran kita bisa jadi fresh kembali. Bukannya gitu? :D



Jumat, 15 November 2013

Di Kolong Jembatan


Sebuah naskah, untuk siapa pun pahlawanku.

Meskipun kita belum bisa menyamai jasa para pahlawan
Setidaknya kita masih bisa menginspirasi dan mencerahkan
-Chintaro-


Seperti biasa, siang ini aku kembali harus sibuk dengan debu, polusi, terik matahari juga kemacetan jalanan kota. Berjalan dari kendaraan satu ke kendaraan lain, bermodalkan gitar tua dan satu kantong plastik bekas, aku siap menjual suara. Harus kuakui memang, suaraku jauh dari kata merdu. Fals disana-sini, tapi toh aku sedang tidak mengikuti ajang kontes menyanyi, aku hanya sedang bekerja, biar dapur kami tetap mengepul dan hari ini aku dan keluargaku bisa nyaman tidur.
            Lihatlah, ketika anak-anak sebaya kami tengah sibuk bermain dan tertawa sepanjang hari, belajar di sekolah, menggunakan seragam lengkap, bersepatu, menenteng tas dipundak. Aku sungguh sangat ingin seperti mereka, nasib anak-anak yang beruntung. Sayangnya, aku tidak seberuntung itu, yang aku tahu hanya sibuk bekerja membantu perekonomian keluarga. Pendapatan bapak yang hanya menjadi pemulung tidaklah banyak, terlebih lagi ibuku yang hanya menjadi buruh cuci. Masih ditambah lagi dengan biaya kebutuhan adikku yang tahun ini memasuki tahun pertamanya di taman kanak-kanak.
            Maka demi adikku, aku rela putus sekolah. Hanya tamat kelas satu sekolah menengah pertama. Tidak apa-apa, aku masih bisa belajar meski tanpa duduk di bangku sekolah formal. Aku masih bisa membaca dari buku-buku bekas yang kubeli dari tukang rongsok di tengkulak bapak. Terlebih, aku masih bisa belajar banyak hal bersama teman-temanku yang lain-yang nasibnya juga sama tidak beruntungnya dengan aku-hal yang sepatutnya harus kusyukuri karena setidaknya kami masih memiliki seseorang yang peduli, seseorang yang bagiku sudah seperti malaikat kami.
            Namanya Galih. Entah kami harus menyebutnya dengan nama apa, relawan? guru? Atau malaikatkah? Yang jelas, jika ada istilah manusia berhati malaikat dalam kamus besar bahasa Indonesia, aku sudah pasti akan menggunakan kata itu untuk merujuk sosoknya.
            Dia pemuda berusia sekitar dua puluh satu, prediksiku. Seorang mahasiswa salah satu universitas negeri di kotaku, kota metropolitan. Jakarta. Kota dimana banyak senyum-senyum mengembang juga tangis-tangis yang meradang. Sangat kontras jika melihat gedung-gedung pencakar langit di kota ini disandingkan dengan rumah tinggal kami; kolong jembatan dipinggir kali. Miris.
            Kami semua memanggilnya Kak Galih. Biasanya dan seperti itulah rutinitasnya, dia akan datang ke ‘rumah’ kami setiap hari Jumat dan Minggu sore. Sesekali dia datang bersama teman-temannya yang lain. Membawa banyak buku-buku bacaan, papan tulis mini, juga tak jarang sembako untuk keluarga kami dan makanan ringan. Mengajari kami banyak hal. Dan ajaibnya tidak peduli meski tugas kuliahnya menumpuk, demi memberikan kami ilmu, dia masih meluangkan waktu.
Dan lagi, setiap minggu dia tak pernah alpa membawa gitar. Mengajari kami cara bermusik yang baik, sekaligus sebagai hiburan bagi kami setelah seminggu melepas peluh.
            Kami memulai “kelas jelajah dunia”-nama yang dia gunakan untuk kelas itu- tepat pukul empat sore. Selepas kami pulang dari mengadu nasib di jalanan.
            Berhubung sekarang hari Jumat dan sebentar lagi pukul empat, maka aku memutuskan pulang. Jadwal yang sengaja aku ubah lebih awal dari biasanya.
            Disana, mereka sudah duduk takzim diatas tikar. Menyimak penuh antusias ke arah Kak Galih yang berdiri di depan. Mereka sebagian besar anak-anak sebayaku, sebagian lagi sepadan dengan adik kelasku dan ada beberapa yang setingkat dengan kakak kelasku. Semua belajar menjadi satu. Kami belajar bersama, tidak memedulikan usia.
            Begitu aku tahu kelas sudah dimulai, maka aku segera menghambur, mengambil tempat diantara mereka.
            “Baru pulang Rud?” Kak Galih bertanya, aku mengangguk. Mengiyakan.
            “Kesini!” wajahnya yang selalu tulus itu tersenyum, tangannya melambai ke arahku.
            Aku menurut, beranjak ke arahnya.
            “Ini ada kertas, kamu isi ya. Tulis apa cita-cita kamu disana, apa pun yang ingin kamu tulis, tulis! Mengerti?’
            Aku mengangguk, meski separuh otakku bersikeras menyatakan protes tidak terima. Cita-cita? Aku bahkan asing mendengar kata itu. Bagiamana pula mau menuliskannya?
            Aku menyikut Reno, salah satu temanku yang tengah asyik menuliskan sederetan cita-citanya di atas kertas. Sekilas melirik selembar kertas ditanganku, masih kosong. Aku menghela napas. Reno menoleh.
“Kenapa Rud?” tangannya masih asyik menulis.
“Gua bingung No mau nulis apa. Gua nggak ngerti sama cita-cita gua, boro-boro No gua ngerti, denger namanya aja gua asing.” Aku berkata lesu.
Reno menghentikan gerakan tangannya, menatapku ganjil. Lalu tertawa, menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ckck, Rudi, Rudi! Lu kan bisa nulis apa pun semau lu. Lu pengen punya rumah mewah, sedan gede, pesawat, helikopter, kapal pesiar atau apa pun! Gitu aja masak lu nggak ngerti?” kali ini dia nyengir, mengacak-acak rambutnya yang semakin terlihat gimbal, jarang keramas.
“Itu termasuk cita-cita ya No?” aku bertanya ragu, Reno dengan cepat mengangguk sebelum bergelut dengan kertas ditangannya lagi.
            Aku butuh waktu lima belas menit untuk berpikir, sampai akhirnya dikepalaku terlintas kata yang menurutku spektakuler. Karena setidaknya, dulu ketika aku masih sekolah, aku sering mendengar kata itu. Paling sering di mata pelajaran kewarganegaaran tak jarang juga di mata pelajaran sejarah.
            Ragu-ragu aku menuliskannya, karena sejujurnya aku masih belum yakin apakah kata ini bisa disebut sebagai cita-cita atau tidak.
            Aku ingin jadi pahlawan. Yang membela tanah airku dari penjajah. Dan berperang gagah di medan perang.
            Aku tersenyum membaca tulisanku sendiri. Pertama karena setidaknya kertasku tidak lagi kosong. Kedua karena aku sadar benar, kalimatku barusan terdengar konyol.
            Kak Galih menyuruh kami segera mengumpulkan kertas itu. Kami menurut, ditangannya sudah ada berlembar-lembar kertas berisi cita-cita kami.
“Kalian tahu cita-cita apa yang paling mulia?” matanya tajam menatap kami satu persatu..
“Semua cita-cita itu mulia, adik-adik. Kalian tahu kenapa?” Dia memberi jeda pada kalimatnya. Semua serius mendengarkan, tidak sabar menunggu jawaban
“Karena cita-cita itu sendiri adalah harapan indah yang selalu ingin diwujudkan. Sesulit apa pun cita-cita kalian, kalau kalian mau berusaha keras untuk menjadikannya kenyataan, maka tidak ada yang mustahil. Jarak antara mimpi dan cita-cita kalian, hanya seperjuta mili saja.”
Kami semua fokus mendengar kalimatnya. “Dan lagi, apa pun pekerjaan kalian kelak, apa jabatan kalian besok itu bukan yang terpenting. Yang terpenting adalah apa yang kalian kerjakan bisa bermanfaat untuk orang lain, orang-orang di sekitar kalian. Membantu banyak orang, berbagi kebahagiaan. Itu sudah lebih dari cukup.” Lantas Kak Galih tersenyum. Wajahnya yang selalu tulus kepada kami terlihat berseri-seri.
Selembar kertas terjatuh dari tangannya, Kak Galih mengambil kertas itu kemudian mengamatinya beberapa detik. Setelahnya aku bisa melihat ekpresinya berubah, sulit ditebak.
“Ah ya! Dan kamu Rudi!” Kak Galih menatapku. Membaca isi kertas itu keras-keras.
“Cita-citamu ingin jadi pahlawan?”
            Sontak semua temanku tertawa, aku nyengir menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kak Galih menatapku dengan senyum jumawa.
            “Rudi, seorang pahlawan itu nggak harus selalu ikut perang di medan perang, nggak harus selalu mengusir penjajah, Dik. Nggak harus bawa senjata, pakai baju tentara. Banyak pahlawan-pahlawan di sekitar kita yang tanpa kita sadari, perannya sangat luar biasa. Kalian lihat ibu kalian, ayah kalian. Mereka setiap hari bekerja keras, banting tulang. Tanpa peduli meski hujan deras, meski mereka sedang sakit. Semua itu demi kalian.”
Aku mencerna kalimat itu dalam-dalam. Kemudian refleks kuedarkan pandanganku ke penjuru kolong yang merangkap rumah bagi beberapa kepala keluarga. Ibu dan Bapak ada diantaranya. Pertama, mataku terfokus pada Ibu yang sedang menggendong Tina-adikku satu-satunya. Tangannya yang lain membantu Bapak memilah-milah sampah hasil keringatnya hari ini. Ada getir yang diam-diam menyelinap di dadaku. Kak Galih benar. Mereka berdua adalah pahlawan. Setidaknya untuk diriku sendiri dan adikku.
Kak Galih mengehentikan kalimatnya sejenak. Memperbaiki letak kacamatanya. Matanya menyusuri setiap fokus pandangan mata kami.
“Nah dengar, jadilah anak-anak yang baik. Jadilah pahlawan untuk orang-orang di sekitar kalian. Kalian harus punya mimpi, punya cita-cita. Tidak ada yang mustahil selama bumi ini masih berputar. Kalian yang akan mengubah nasib kalian sendiri. Kalian sendiri yang akan menentukan masa depan kalian.” Kak Galih berhenti sejenak, melirik arloji di tangannya.
“Kalian paham adik-adik?” senyumnya kembali hadir. Kami semua seperti terhipnotis mendengar seluruh kalimat-kalimatnya.
Bengong, terpaku, berapi-api, jadi satu.
Begitulah, sore ini kami menghabiskan waktu dengan bercerita tentang masa depan, semangatku dan teman-teman seketika berkobar-kobar mendengar seluruh kalimat dan nasehat yang dia berikan.
Sungguh, jika Kak Galih tadi bilang bahwa pahlawan itu berarti melakukan hal yang bisa bermanfaat untuk orang lain. Maka bagiku, dia juga adalah pahlawan. Dia tulus meluangkan waktunya demi kami. Membagi ilmu, mengajari kami banyak hal, memotivasi kami tanpa pamrih. Bagiku dan teman-teman, kehadirannya dua kali seminggu di ‘rumah’ kami sudah lebih dari cukup.
Kehadirannya membuat kami sedikit berkompromi dengan masa depan, meskipun dalam keterbatasan. Dia merengkuh aku, teman-temanku juga orang-orang yang tinggal di kolong jembatan ini tanpa pamrih. Membebaskan kami dari jeratan kebodohan, dengan apa-apa yang ia ajarkan.
Sungguh dia orang yang baik. Manusia berhati malaikat, orang yang masih mau peduli dengan nasib orang-orang seperti kami. Karena sejujurnya, rasa kepeduliaan mengalahkan apa yang tidak bisa kami miliki. Dan kepeduliannya melengkapi apa yang selama ini sudah kami punya.
“Nah kita ketemu lagi hari Minggu ya! Sekarang kakak mau pulang dulu. Sebentar lagi hujan.”
Kak Galih tersenyum sekali lagi pada kami. Lalu kakinya melangkah, menyusuri setiap tempat di lorong ‘rumah’. Meminta izin pulang pada penghuni lainnya, termasuk orang tua kami. Mereka menyambut izinnya dengan ramah, seperti biasa berkali-kali bilang terimakasih. Atas sembako yang dia bawa dan ilmu yang dia ajarkan untuk anak-anak mereka.
Lihatlah, dia berjalan di jalan tanjakan menuju jalan raya. Berlari-lari kecil, sambil tangannya melambai pada kami. Tidak peduli karena ternyata hujan lebih dulu turun dari prediksinya saat ia menengok arloji. Hujan membungkus tubuhnya yang jangkung itu dengan titik air, jaket jeansnya basah.
Tapi sekali lagi, dia manusia berhati malaikat. Dan seorang malaikat tidak pernah takut dengan air hujan.
Jumat, 8 November 2013
20:32 WIB
Yogyakarta
Langit Senja.

Sabtu, 09 November 2013

Omong Kosong

Lupakan soal korupsi dan tipu daya yang membabi buta
Sekarang bukan saatnya kita bersuara
Yang katanya minta keadilan
Kesejahteraan
Kemakmuran
Kebahagiaan
Omong kosong!
Ini waktu bukan mengintimidasi
Mari beranjak dan jangan sesali
Melangkah dan bertempur di arah yang hakiki
Lupakan soal porakporanda dan kemiskinan yang merajalela
Sekarang bukan saatnya kita memelas dan bermuram durja
Yang katanya minta perubahan
Kekayaan
Kehormatan
Jabatan
Omong kosong!
Ini waktu bukan mengekang
Majulah dan terus berjuang
Ini bukan soal jabatan apalagi uang
Negeri kita kaya loh jinawi
Akar-akarnya kamakmuran dari surgawi
Benderanya sang saka merah putih
Sisa bukti dari jiwa-jiwa yang gigih
Berkibar gagah tanda kemerdekaan
Bak fenomena nyata perjuangan
Indonesia kita bukan hanya sekedar peta; tanpa makna
Tapi soal hidup dan mati atas tiap peluh yang mendera
Ini kali waktu untuk maju
Berdiri di depan kobarkan api kejayaan
Hentikan omong kosong
Segera bangkit dan berdirilah
Demi jiwa dan tumpah darah
Di negerimu; Indonesia
Sabtu 12 Oktober 22.31 WIB
Langit Senja
Yogyakarta
 

SKETSA TANPA RUPA Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger