Senin, 26 Mei 2014

Na (bagian 2)



Mata Na yang hitam pekat itu mengerjap sekali. Mendongak menatap langit. Lalu bola matanya beralih menatapku, mengehela napas pelan.
            “Gerhana,” ucapnya lirih.
            Aku yang tidak mengerti kemana arah kalimatnya memasang wajah kebingungan, siap melemparnya dengan pertanyaan berikutnya.
            “Namaku,” ia mengangguk, memberiku penjelasan lebih dulu.
            Seperti ada belut-belut listrik yang mengaktivasi seluruh indraku. Seketika itu juga tubuhku beku. Tercengang, unbelieveable dan entah apa lagi. Aku merasa bukan lagi manusia dari planet bumi yang ada di depanku kini, barangkali ia memang alien dari palnet lain. Atau makhluk muliseluler dari sebuah UFO yang kebetulan mendarat di bumi.
            Apa pun itu, aku tidak pernah membayangkan bahwa Na adalah Gerhana.
            “Namamu? Namamu benar-benar Gerhana?”
            Na tersenyum, sialnya lagi ia bersikap seolah tidak peduli dengan keterkejutanku barusan, reaksi dari kalimatnya. Ia justru santai mengangkat bahu, kali ini membidik kepulan asap rokok yang di latari temaram lampu tiang.
            “Aku memang lahir saat gerhana, nggak perlu seterkejut itu.” Tangannya berhenti sejenak dari tombol kamera, “kamu ini masuk spesies teoritis.”
            Na tertawa. Aku tidak mengerti apa maksudnya, jadi aku diam saja.
            “Sebagian orang lebih sering dikendalikan oleh teori, jadi wajar saja kalau kamu tidak percaya. Teori mengatakan bahwa gerhana merupakan salah satu fenomena alam dimana terjadi kegelapan pada matahari atau bulan, baik total maupun sebagian.” Na meraih gelas kopinya, menjeda kalimatnya dengan satu tegukan.
            “Jadi orang-orang akan berpikir, mustahil sekali di zaman modern seperti sekarang ini lambang kegelapan dijadikan sebagai nama. Begitu kan?”
            Na tertawa lagi. Lebih lepas. Ditambah dengan ekspresi supertololku, aku kembali sukses dibuatnya menjadi orang paling bodoh semuka bumi.
Tapi Na, jelas bukan kegelapan. Tawanya yang lepas, senyumnya yang sumringah, outfitnya yang ceria. Na hidup. Cerah. Sama sekali tidak gelap. Tega sekali kedua orang tuanya memberinya nama Gerhana.
“Jangan bilang setelah Gerhana, ada embel-embel matahari, bulan bahkan lengkap dengan cincin, total, dan sebagian di belakang namamu,” aku bergurau.
“Matahari,”
Aku nyaris tersedak. Wajah Na sama sekali tidak terlihat sedang bergurau saat mengatakan itu. Ia justru nyengir lebar, membuat lambang victory dengan telunjuk dan jari tengahnya. Aku terperangah.
“Gerhana Matahari? Hei! Orang tuamu tega sekali memberimu nama Gerhana, Matahari pula.”
Tangan Na ganti sibuk merapikan topi rajutnya yang sebagian menutupi poninya yang membelah samping.
“Apa salahnya orang tuaku memberiku nama Gerhana? Memang kenyataannya aku lahir saat gerhana matahari.”
“Tapi menjadi sangat kontras dengan artifiusalnya. Meski harus kuakui, namamu sebenarnya unik.”
“Kamu memperdebatkan artinya?”
“Ya, Gerhana berarti gelap. Ditambah gerhana matahari, lebih gelap lagi.”
“Lalu bagaimana pendapatmu dengan nama Marah Laut yang diberikan oleh seorang penyair kepada salah satu anak laki-lakinya? Bisa kamu jelaskan interpretasi sebagian orang yang bisa saja mengartikan bahwa penyair itu mengharapkan anaknya, si pemilik nama itu kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang sering marah-marah? Kemarahan yang dahsyat seperti laut.” Na mengangkat bahu, tertawa kacil menjelang kalimatnya yang terakhir.
“Kuberi tahu, banyak sekali orang-orang yang terlanjur keliru menterjemahkan suatu simbol, cerita, peristiwa dari suatu fenomena. Mereka hanya melihat dari sisi mana simbol, cerita atau peristiwa itu berasal. Dan seperti yang kubilang tadi, semua hanya berdasarkan teori. Tidak benar-benar mengkaji isinya secara detail. Luarnya terlihat nyata padahal di dalamnya fatamorgana. Kosong. Tidak terbukti. Nol besar.”
Aku seluruhnya dibuat bungkam. Lihatlah, Na di depanku ini sedang berfilosofi. Padahal aku hanya bertanya masalah sepele, hanya soal kenapa orang tuanya tega sekali memberinya nama Gerhana. Ia menjawabnya sudah seperti seorang mahasiswa semester akhir yang sedang mengikuti sidang skripsi.
“Kamu mahasiswa filsafat?” ragu-ragu aku bertanya, memotong sejenak sambungan kalimat Na.
Na tersenyum lebar, menekan salah satu tombol pada kameranya. Matanya sibuk kembali dengan lensa. Menggeleng.
“Aku belum selesai menjelaskan.” Lanjutnya.
Mengangguk kupersilakan ia berpikir sejenak. Membiarkan Na mencerna kalimatnya lebih dulu sebelum disampaikan kepadaku.
“Soal nama tadi, lupakan saja. Yang gelap belum berarti gelap. Yang terang belum tentu terang. Simple.”
“Tapi menjadi rumit dengan relevansi kehidupan zaman modern seperti saat ini kan, Na?”
“Benar, seperti Marah Laut tadi. Kamu menebak pemilik nama itu nantinya akan tumbuh jadi seorang emosianal yang meledak-ledak, iya kan? Hanya karena ada kata Marah dinamanya.”
Aku mengangguk, cengengesan. Tadinya juga kupukir begitu.
“Padahal anak penyair itu bisa jadi lahir bertepatan dengan fenomena gelombang dahsyat memuntahkan lautan. Saat laut menjadi marah, saat gelombang menjadi ganas. Who knows.”
Aku sekarang mengerti, meski kalimat Na masih saja sulit kupahami. Aku menatap Na, lebih intens. Kuraih kamarenya yang saat ini bebas diletakkannya di selesar tikar.
“Kamu lupa mengambil gambarmu sendiri. Mau kufoto?”
Na tidak menjawab, sudah siap dengan  pose senyum tiga jarinya. Tangannya membentuk simbol victory. Aku cekatan menekan tombol kamera. Cheers! Gambarnya berhasil terbidik pada hitungan ketiga.
“Jadi semua inti kalimatmu adalah, semua hanya soal interpretasi. Bagaiamana kejadian sesungguhnya memaparkan, bukan soal teori dan apa yang dikatakan orang lain. Iya kan?”
Tersenyum lebar aku menatap Na sambil mengulurkan hasil bidikanku di kameranya. Na tersenyum, mengambil alih kameranya. Memotret lagi. Aku tidak tahu sudah berapa foto yang  berhasil diabadikannya. Tapi sepertinya lebih dari gabungan jumlah semua jari tangan dan kaki kami.
Aku melambaikan tangan pada bapak peracik kopi, memesan satu gelas kopi hitam berisi arang. Kalian tahu kan? Gelas kopiku sudah tumpah. (remember?)
“Na, kamu belum bercerita soal kenapa kamu bisa ada di sini dan kenapa kamu datang sendiri. Aku sudah memesan kopi lagi, siap mendengar interviemu. Kamu sendiri yang bilang aku cocok jadi wartawan,” aku tersenyum penuh kemenangan.
Na di depanku menghentikan gerakannya membidik lalu lalang motor melintasi gang. Melirik jam tangan hitam metalik di pergelangan tangannya.
“Tidak sekarang.” Cekatan ia membereskan kameranya ke dalam tas mungil di gantungan lehernya,
“Aku harus pulang. Mungkin lain kali  kalau aku ketemu sama kamu lagi,”
Na sudah berdiri, melenggang cepat menghampiri bapak peracik kopi. Mengulurkan sejumlah uang.
Bersamaan dengan itu, aku terbengong-bengong di tempatku, tidak kuasa mengucap sepatah kata pun. Tidak lama setelahnya, bapak peracik kopi itu datang, menyerahkan segelas kopi arang pesananku.
Kutatap siluet tubuh Na yang berjalan santai melintasi trotoar di pembatas pagar. Tidak sempat menanyakan nomor ponsel, kartu nama atau sebuah deadline untuk pertemuan kami selanjutnya. Sekarang, Na benar-benar sukses membuatku menjadi orang paling bodoh sedunia. Bukan pada saat ia tertawa, tapi dalam kepergiannya.
***


Senin, 26 Mei 2014
23.45 WIB
Langit Senja
Yogyakarta

Minggu, 25 Mei 2014

Na (bagian 1)



Na.Nama perempuan itu Na.
Barangkali bumi memang berisi dengan banyak misteri, sesuatu yang sulit dijabar nalar, atau gerak waktu dan tragedi yang tidak bisa dicerna otak manusia, karena faktanya sekeras apa pun kita berekspektasi bumi berdalih memaparkan sesuatu yang lain. Hal-hal yang tidak bisa kita duga, penuh ledakan dan kejutan.
            Seperti malam itu.
            Aku yakin, selain rambutnya yang keriting dan gaya fashionnya yang tidak tercantum dalam mode apa pun, ia sama saja dengan perempuan lainnya. Tubuhnya proporsional untuk perempuan seusianya. Hanya saja, sedikit kutekankan di sini, aku tidak tahu ia berada dalam kisaran seorang remaja usia 17 tahun, atau seorang mahasiswi yang hampir kelar skripsi. Wajahnya terlalu innocent untuk kusebut mahasiswa, tetapi kaca mata tebalnya, analitiknya dan segala aspek yang kuamati darinya belakangan membuatku sangsi kalau ia masih tercantum sebagai siswa berseragam putih abu-abu.
            Tetapi berapa pun usianya, nama perempuan itu tetaplah Na.
            Ia berjalan sendirian melintasi trotoar di samping pagar pembatas jalan. Membawa tas ranselnya di pundak, bercorak tentara, lengkap dengan tas mungil lain yang ia gantung dilehernya-prediksiku di dalamnya ada kamera. Bawahan celana jeans belel menjadi sangat kontras dengan baju kurungnya yang berwarna kuning, yang dipadukan dengan scraf cokelat tua. Dan rambutnya itu, yang keriting panjang sampai punggung dibiarkan terurai begitu saja, dibagian kepalanya dibalut dengan topi rajut warna merah muda.
            Aku sedang menyeduh kopiku ketika kulihat ia berjalan menuju angkringan tempatku sekarang. Berdiri sebentar menunggu giliran untuk memesan, sampai akhirnya samar-samar kudengar konversasi singkatnya dengan seorang bapak setengah baya peracik kopi.
            “Kopi josnya satu Pak.”
            Na lalu menunjuk sebuah sudut di selasar tikar tempat lesehan, bapak peracik kopi itu mengerti, mengangguk kecil.
            Ia memilih tempat yang masih memiliki sisa ruang diantara banyak orang yang duduk menikmati kopi dan menu makanan khas angkringan di tikar itu. Mereka datang membentuk kelompok-kelompok, sepasang kekasih, sekelompok anak muda, atau beberapa kumpulan dari jenis kalangan yang berbeda. Tetapi seperti tidak ada sekat, semua kalangan menjadi satu, menambah suasana malam yang temaram menjadi lebih hangat.
Dan ia, yang datang seorang diri malam itu, di warung kopi pinggir jalan yang ramai dipenuhi oleh banyak orang yang tengah menikmati suasana Jogja yang melankolis, berhasil membuatku bertanya-tanya.
            Eh, tapi aku juga datang sendiri. Membuat tanyaku berubah pulih menjadi sesuatu yang biasa. Ia datang sendiri ke kedai kopi, aku juga datang sendiri. Normal. Tetapi aku laki-laki dan ia perempuan. Itu jelas berbeda. Aku memikirkan banyak hal saat menyendiri, pria memiliki banyak sisi irasional untuk dipahami dalam ketersendiriannya. Dan ia perempuan, aku berpikir akan jauh lebih menyenangkan kalau saja ia datang kemari bersama sekelompok teman perempuannya. Menceritakan artis idola, membahas bedak, lipstik, atau kosmetik, curhat tentang kekasihnya atau laki-laki tampan yang tidak sengaja ditemuinya di pusat perbelanjaan, toko buku, atau mungkin restaurant. Sesimple itu bukan?
            Kopi pesanan Na datang. Pada bapak peracik kopi itu, ia tersenyum kecil dan lirih mengucapkan terimakasih. Sekilas, kulirik ia saat menyeduh kopi. Posisinya berada horisontal dengan posisiku.
            Namun sayangnya, tepat ketika lirikan ekor mataku masih mengunci, ia menghentikan kegiatannya menyeduh kopi. Begitu saja, menoleh menatapku. Aku yang gugup, seperti pencuri yang tertangkap kamera cctv, seketika refleks terlonjak. Menimbulkan gerakan cepat, berakibat pada gelas kopi di depan lututku yang sontak terguling, menumpahkan isi di dalamnya. Membuat sebagian tikar dan celana jeans di bagian lututku basah.
            Aku kikuk setengah mati. Tertawa kecil ketika kemudian ia menatapku dengan sorot kebingungan. Tidak lama, sebelum akhirnya sorot itu berubah menjadi tawa kecil. Aku sedang akan meraih gelas kopiku dan membereskan tikar yang saat ini basah tersiram air kopi, ketika kusadari ia perlahan mendekat.
            “Eh.. sorry.” Ia sudah di depanku. Membuat canggungku bertambah dua kali lipat.
            Aku tertawa, mengusir canggung, “Kenapa malah kamu yang bilang sorry?”
            “Aku bikin kamu kaget ya?” tangannya cekatan mengevakuasi gelas kopi itu, sebelum aku melakukannya lebih dulu.
            Aku tidak menjawab. Diam dalam keterpanaan yang luar biasa. Lihatlah, perempuan di depanku ini manis. Di balik kacamatanya, ada lensa hitam pekat memesona. Wajahnya bulat telur dengan alis hitam lebat yang memanjang. Hidung mungil meski tidak terlalu mancung dengan tulang pipi yang menawan. Dan yang membuatku lebih terkesima adalah dua lesung pipitnya yang mencekung sempurna bahkan hanya dengan sedikit tarikan bibir.
            Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya. Mengulurkan satu box tissue.
            “Bersihkan noda kopinya pakai ini.”
            Aku mengangguk, tersenyum kecil.
            Ia membantu membersihakan bagian tikar yang terkena siraman kopi.
            “Nah, selesai! Kalau kamu nggak keberatan, kamu bisa pindah tempat duduk disana.” ia tersenyum lebar, menunjuk salah satu spot lesehan. Berdiri dan berjalan menghampiri tempatnya semula. Aku dibelakangnya mengikuti.
***
            “Jadi namamu Na?”
            Ia menggangguk. “Dan namamu Bagas?”
            “Ya. Bagas dan bukan Ba atau Gas.” Aku bergurau, “hanya Na saja?”
            “Anggap saja begitu.” Ia mengangkat bahu.
            “Kalau begitu, berarti namamu adalah yang paling singkat sepanjang yang kuingat.”
            Ia justru tertawa, mengabaikan kalimatku. Tangannya beralih pada tas mungil di gantungan lehernya, mengeluarkan sesuatu di dalamnya. Sebuah kamera mirrorles.
            “Mau kufoto?” tangannya sudah lebih dulu handal memainkan fokus dan membidik wajahku sebelum aku berpose.
            “Hei curang! Kamu mengambil gambarku tanpa izin!” aku pura-pura marah, melotot ke arahnya. Ia sekali lagi tertawa, mengabaikan kalimatku.
            “Aku sudah minta izin tadi, kan?”
            “Hanya meminta dan belum tentu diberi .”
            “Itu karena posemu jelek, coba kalau posemu bagus. Kamu nggak mungkin keberatan.” Ia nyengir kuda memamerkan hasil jepretannya.
            Aku mengalah, menimpali kalimatnya dengan tawa.
            “Eh, aku belum selesai menginterogasimu tadi. Namamu sungguh benar-benar hanya Na?”
            Sayangnya lagi-lagi Na cuma mengangguk, menerjunkan diri membidik gambar di sekitar kami. Entah kucing kampung yang kebetulan lewat di gang kecil depan lesehan ini, tukang becak yang melintas, lampu tiang yang meredup, atau bahkan gelas kopi di depannya. Dan aku yakin, tawarannya untuk mengambil gambarku tadi adalah semacam permintaan izin agar ia bisa memotret lebih banyak obyek tanpa merasa tidak enak hati karena ia sedang mengobrol bersamaku. Karena setelah itu, ia tidak membidikkan kameranya ke wajahku lagi.
            “Memangnya kenapa? Ada yang aneh sama namaku?”
            Aku menggeleng. Sepertinya tidak akan berhasil dengan topik yang satu ini. Aku beralih ke topik lain.
            “Kamu asli Jogja?”
            Na menggeleng, melihat hasil jepretannya yang terakhir.
            “Cuma pendatang baru.”
            Aku melafalkan kata ‘oh’ sambil menangguk-anggukan kepala, “Sering ke sini juga?”
            Na akhirnya menoleh, fokus pada kalimatku. “Lumayan.”
            “Kenapa cuma datang sendiri? Eh, maksudku, ngumpul minum kopi disini bareng temen-temen jauh lebih asik.”
            Ia tidak menjawab, justru menodongakkan kepalanya ke arahku. Menatap tajam. Maksudnya adalah, “Kamu juga datang sendiri kan?”
            Menepuk jidat aku tertawa, “Lagi pengin sendiri aja.”
            Na kembali sibuk dengan kameranya. Kali ini pada gerobak angkringan berpenerangan lampu petromaks, kesibukan bapak peracik kopi menyiapkan bergelas-gelas pesanan, atau kumpulan beberapa orang yang tengah asik terlibat dalam obrolan seru. Mereka membicarakan apa saja, perbedaan status sosial tidak lagi penting. Angkringan seperti mempunyai magnet tersendiri untuk menyatukan semua kalangan di tempat itu. Semua orang membaur jadi satu.
            “Cita-citamu jadi wartawan?”
            Eh, apa tadi dia bilang? Wartawan? Aku jelas saja menggeleng.
            “Tapi kamu cocok jadi wartawan, pintar menginterogasi orang.” Ia tertawa pendek. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, cengengesan.
            “Begini sepertinya kamu memang penasaran kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa namaku Na? Atau kenapa aku datang sendiri?”
            Aku merapatkan jaket, melipat lengan. Antusias. Bersiap mendengarkan sambungan kalimatnya.
            “Kalau begitu baik. Sepertinya aku memang nggak punya pilihan lain. Daripada setelah ini aku nggak bisa jamin kamu nggak bakal pingsan karena penasaran.” Ia tertawa lagi melihat tampang seriusku, tawa yang renyah. Tawa yang berhasil membuatku menjadi orang paling bodoh sedunia.
            “Gimana sudah siap mendengarkan?”
***

             


                                                                                                                                 Minggu. 25 Mei 2014

                                                                                                                                          Langit Senja

                                                                                                                                        Yogyakarta


Kamis, 08 Mei 2014

Kesempatan? Omong Kosong

Saya tidak tahu apa itu artinya kesempatan. Apa? Omong Kosong? Maaf jika saya mengatakannya demikian. Silakan marah dan mengumpat jika kalian tidak sependapat. Saya hanya sedang merasakan bagaimana rasanya terbuang, terasing dan tersisihkan. Ini sesuatu yang sejak lama saya impikan bertahun-tahun. Sepuluh tahun lalu.Tentang kesempatan hadir dan kembali. Kesempatan bertemu dan bersama lagi. Ini sungguh menyesakkan.
Bertahun-tahun lamanya saya menunggu. Kapan waktu itu tiba. Saat dimana saya bisa bersama-sama lagi dengan wajah-wajah yang-Demi Tuhan-sangat saya kangeni. Wajah-wajah yang dulunya polos dihiasi dengan gelak tawa ciri khas anak-anak, dan kini sudah bermetamorfosa menjadi remaja seperti saya. Yang dulu kepada mereka sering saya habiskan sebagian besar waktu; menjelajahi petak-petak sawah sampai ke pedalaman hutan kemudian petualangan itu berlanjut dengan mencari tumbuhan langka di dalamnya, mencari ikan di sungai, memanjat pohon kersen, bermain petak umpet selepas mengaji di mushola, bermain kasti di kebun belakang sekolah yang luas dan ditanami banyak pohon trambesi, atau bersama-sama berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya saat lebaran. Sesuatu yang langka, bahkan nyaris tidak pernah saya lakukan saat saya sudah tinggal di Yogya.
Tinggal di kampung halaman, di rumah yang terletak di pinggir jalan kecil beraspal, yang selalu dilewati banyak kendaraan karena jalan itu adalah jalan utama yang menghubungkan kampung itu menuju kota-kota kecil di provinsi kami. Menjadi anak perempuan yang disebut-sebut sebagai anak paling nakal oleh seluruh warga kampung. Anak paling bandel yang setiap hari selalu membuat keributan. Saat itu, saya kecil masih belum paham soal apa itu teman. Terlalu asyik dengan keributan dan kenakalan yang saya ciptakan sendiri. Saya seperti autis, terlalu hiperaktif, dan menganggap orang-orang di sekitar saya adalah orang asing. Tidak peduli jika implikasinya adalah orang-orang tidak suka lalu akan membenci saya. Untuk seorang anak berumur 6 tahun, adakah pikiran sekritis itu terbesit dalam kepalanya?
Hingga karunia itu datang. Sore itu, di halaman belakang rumah saya yang memiliki ruas jalan di sampingnya, saya berdiri. Di kepala saya, sudah terlintas ide cemerlang untuk membuat Ibu dan beberapa karyawannya yang sedang bekerja kelimpungan. Saya sudah berniat memasang amunisi untuk mengganggu aktivitas mereka di gudang, merusak barang apa saja, membuat keributan apa pun, menghentikan aktivitas mereka, asal saya bisa mengalihkan kebosanan. Tidak ada hal lain yang saya inginkan; selain mereka berhenti bekerja lalu ikut bergabung menemani saya bermain.
Maka saat itu, persis ketika saya mulai merengek meminta Ibu agar menghentikan pekerjaannya, persis ketika Ibu setengah mati membujuk saya agar saya berhenti berulah, datanglah dua anak itu. Seorang anak perempuan dan laki-laki berkisar 7 tahun, berjalan di ruas jalan kecil persis di samping kanan tempat saya berdiri. Kaki-kaki mereka dibalut dengan sepatu boots mini. Saya masih ingat warnanya. Biru dan Merah.
Seketika itu juga, seperti melihat malaikat penolong, mata Ibu berbinar-binar. Dicekalnya tangan saya agar berhenti meronta menarik bajunya, lalu dalam sekejap waktu yang tidak sempat saya sadari, Ibu berteriak memanggil kedua anak itu.
"Hai Umah, Amri! Sini!"
Kedua anak itu menoleh. Bersamaan dengan gerakan tangan saya yang kontan berhenti menarik baju Ibu. Detik yang sama ketika akhirnya saya juga menoleh dan terpaku. Seperti kebiasaan saya sebelumnya, tidak banyak menunjukkan reaksi terhadap orang yang baru saya temui. Sesuatu yang sejak kecil menjadi kelemahan saya; antipasi luar biasa terhadap orang asing.
Saya menatap mereka. Dua bocah itu. Anak kecil yang kisaran umurnya mungkin hanya berjarak satu tahun lebih tua dari saya. Dan sepatunya, sepatu boots mini itu berhasil menyita habis perhatian saya. Mengalihkan saya dari ide gila mengganggu pekerjaan Ibu.
"Iya Bu, ada apa?" tanya seorang anak perempuan yang tadi Ibu menyebutnya dengan nama 'Umah'.
"Kalian mau kemana?"
Kedua anak itu saling pandang, memberi isyarat satu sama lain, "Mau ke ladang Bu, nengok saudara yang sedang bekerja di sana."
Ibu mengangguk, lantas beralih menatapku yang kini memandangi mereka berdua dengan sorot mata ingin tahu. "Sinta mau ikut? Ikut ya? Main sama Mbak Umah sama Amri. Mau?"
Awalnya saya menggeleng kuat-kuat, masih memandangi kedua anak itu dengan tatapan mengintimidasi. Interogasi tak langsung lewat tatapan mata. Tetapi ketika kemudian saya lihat mereka tersenyum, gelengan kepala saya terhenti. Sesuatu yang hingga kini selalu saya percayai; mata seseorang selalu bisa menyingkap hal-hal yang tersembunyi. Dan melihat mata mereka berdua, yang berbinar seolah meyakinkan saya, saya percaya bahwa mereka anak yang baik. Saya bisa melihat auranya. Tenang dan bersahabat. Dua kata yang mati-matian saya cari keberadaannya sewaktu saya masih anak-anak.

"Ikut ya?" Ibu mengulang pertanyaannya, kemudian dipandanginya lagi dua anak itu, tersenyum, "Sinta ikut main sama kalian nggak apa-apa kan?"
Mereka berdua mengangguk, saling membuat keputusan kolektif tanpa musyawarah.
Saya masih memandangi mereka, yang kemudian juga balas menatap saya sambil tersenyum.
"Ayo ikut!"
Dan mendengar kalimat itu, saya tidak perlu berpikir dua kali, langsung mengangguk kuat-kuat.
"Kalau gitu, tunggu disini, Ibu ambilkan sepatu boots kamu dulu."
Ibu datang tak lama kemudian dengan membawa sepasang boots mini warna hijau milik saya. Ditentengnya boots itu dengan sorot mata bahagia-saya jelas tahu apa sebabnya-kepergian saya bisa membuatnya tenang melanjutkan pekerjaan. Karena itu artinya, tidak akan ada yang merecoki pekerjaannya.
"Kami pergi dulu Bu." Umah, anak perempuan bersepatu boots biru itu meminta izin.
Ibuku mengangguk, tesenyum bilang, "Hati-hati."
Saya yang masih belum kenal betul dengan dua anak yang kini berjalan bersisian bersama saya, kagok berjalan dengan langkah patah-patah. Beberapa langkah jaraknya dari tempat semula saya menoleh, menatap ibu dengan pandangan ragu. Namun kemudian saat saya lihat Ibu mengangguk, saya menoleh lagi, menghela napas lega, merasa semua akan baik-baik saja.
Sore itu, di temaram sinar yang samar-samar menjadi latar, tiga orang anak manusia berjalan di atas setapak jalan kecil. Tiga pasang kaki dengan tiga warna sepatu boots yang berbeda. Biru, Merah, dan Hijau.
Sore itu, untuk pertama kalinya, saya-anak perempuan paling nakal di seluruh kampung, mulai belajar berinteraksi dengan makhluk yang bisa ia sebut sebagai teman. Untuk pertama kalinya juga, setelah hening yang sebelumnya begitu lama melingkupi keberadaan kami bertiga, saya bersuara. "Eh, kita mau kemana?"
"Berpetualang, menjelajah. Kamu pasti suka!" Itu suara anak laki-laki kecil di sebelah kiri saya. Amri.
"Benar?" saya menatapnya dengan kilat mata yang bercahaya. Bersungguh-sungguh.
"Iyaaa!" mendengar suara itu saya menoleh, ganti memalingkan muka ke samping kanan. Itu suara Umah.
Lantas, kami bertiga sama-sama tertawa.

***
Masih banyak hal lain. Itu hanya salah satu dari sekian banyak hal-hal menyenangkan yang pernah menjadi kenangan saya di masa kecil. Umah dan Amri. Dua sahabat saya yang memperkenalkan saya dengan dunia luar. Tanpa mereka, mungkin saat ini saya masih tumbuh menjadi anak yang nakal dan apatis. Yang memilih mendekam di dunianya sendiri dengan segala kenakalan.
Mereka yang memperkenalkan saya, bahwa sesuatu yang mengerikan dan menakutkan kadang-kadang tidak separah yang kita kira. Seperti misalnya sore itu, saat pertama kalinya kami bertiga main bersama. Di belakang rumah saya, selain kebun jeruk tidak ada lagi yang bisa saya kenali. Selebihnya hanya ada persawahan dan kemungkinan besar adalah jajaran hutan. Sampai saya membuktikan sesuatu yang benar-benar terdapat di dalamnya.
Ternyata, jalan setapak kecil di samping rumah saya itu menghubungkan rute rumah saya dengan lokasi-lokasi menakjubkan. Membuat saya berpikir bahwa apa yang saya lihat untuk pertama kalinya itu adalah harta karun terpendam. Saya tak habis pikir ketika menyaksikan bahwa belasan kilo dari lokasi tempat tinggal saya, yang sebelumnya saya anggap berbahaya, berdiri sebuah sauh dengan deretan tanaman di sekelilingnya. Segala jenis sayuran dan beberapa jenis tanaman buah. Bukan itu saja, lengkap dengan beberapa orang yang saya tahu itu adalah saudara Umah dan Amri yang mereka ceritakan tadi. Bayangkan, di tempat seterpencil itu, yang bahkan saya berani menyebutnya hutan belantara, siapa sangka ada aktivitas manusia di dalamnya?
Petualangan itu masih berlanjut ketika akhirnya Umah dan Amri memutuskan untuk berjalan kaki lebih jauh. Tujuan mereka adalah sudut hutan yang lain, dengan objek sebuah pohon yang hingga kini saya lupa apa namanya.
"Ini bisa dimakan?" saya takjub mengamati buah yang menempel di batangnya yang rendah.
"Iya, bisa, tapi masih belum matang. Besok dua tiga hari lagi kita kesini ya. Nunggu buahnya matang dulu."
Saya mengangguk. Kemudian menyadari bahwa buah itu bentuknya mirip dengan buah cokelat.
"Kok mirip cokelat?"
"Iya, memang mirip. Tapi bukan cokelat."
Saya mengangguk lagi.
Dan ketakjuban itu masih susul menyusul seiring dengan setiap tempat yang kami lewati. Sungai kecil dengan aliran air yang jernih dan tenang, memperlihatkan bebatuan dari dasar sungainya yang dangkal. Pepohonan dengan aneka macam jenis tanaman, membentuk hutan seperti kanopi-kanopi. Indah sekali. Dan tidak ada satu pun yang saya lewatkan selama perjalanan ini.
Saya menikmati semuanya, dengan keingintahuan besar dan perasaan bebas tiada tara, karena sejujurnya kenakalan saya selama itu bukanlah tanpa sebab. Saya hanya membutuhkan orang-orang yang mau memahami, yang mau membagi dunianya kepada saya betapa pun buruknya dunia yang saya bagi pada mereka. Hanya itu. Dan di atas itu semua, ternyata saya hanya membutuhkan seorang teman. Ya, teman. Definisi yang baru saya temukan saat usia saya 6 tahun.
Dan kembali ke soal kesempatan. Bagi saya itu cuma omong kosong. Marahlah jika kalian tak suka. Saya hanya sedang menafsirkan emosi saya lewat kata-kata.
Sepuluh tahun, angka fantastis untuk sepenggal jarak yang terpaksa harus dimusnahkan. Sepuluh tahun berlalu ketika akhirnya saya dengan senang hati mengikuti permintaan ayah saya, yang saat itu memutuskan untuk pindah dan bekerja di Yogyakarta. Saat dimana ketika saat ini saya baru menyadari, bahwa saya harus meninggalkan keceriaan masa kecil saya di Maluku, kota saya dahulu. Saya harus meninggalkan sahabat-sahabat yang saya sayangi dan semua petualangan kami di masa kecil yang menakjubkan itu. Saya harus pergi meninggalkan sahabat-sahabat saya tak lama setelah saya merasakan bagaimana eufhorianya memiliki seorang teman. Dan ya, cukup bagi saya saja, itu menyesakkan.
***
Dan, apalagi sekarang yang bisa saya sebut sebagai kesempatan? Sepuluh tahun lamanya. Saya terpaksa memendam keinginan untuk berkunjung. Mati-matian menahan diri agar tidak mengunjungi tanah kelahiran saya sendiri. Sudah tak terhitung berapa ratus kali saya memohon dan mengiba, tetapi sepertinya untuk meluluhkan hati mereka itu cuma hal sia-sia.
Dan saat ini, ketika kesempatan itu datang, ketika ada secercah harapan untuk kembali meraih apa yang dulu sempat hilang, entah dengan kekuatan magis dari mana, semuanya musnah, raib dalam sekejap.
Akhirnya Ibu mengizinkan saya pulang, lebaran tahun ini. Mendengar kalimatnya mengatakan persetujuan, rasanya tidak terjabarkan semua aksara lewat kata-kata. Tapi perasaan tetaplah perasaan. Bisa berubah kapan saja. Seperti ketika akhirnya saya mengetahui dan disadarkan oleh sesuatu. Tidak sengaja membuka laman dunia maya. 'Mereka', orang-orang yang saya sebut lakon dalam tulisan ini, menuliskan sesuatu yang sukses membuat perasaan saya remuk redam seketika. Mereka pergi. Ya. Hanya itu. Mereka hanya menulis mereka akan pergi.
Tuhan, lihat betapa lucu skenarioMu. Engkau mengizinkan apa-apa atasku yang dulu tidak Engkau kehendaki, di saat sesuatu yang menjadi alasan saya untuk pergi justru tidak akan bisa lagi saya temui. Mungkin bisa Tuhan, tapi bukan tempat dimana saya dilahirkan. Kami sudah berbeda, bukan kanak-kanak lagi. Mereka bilang kami sudah dewasa. Tapi bisa kah Kau ulang lagi waktu kanak-kanakku bersama mereka, sebentar saja?Aku mohon, tolong.
Dan Tuhan, saya tidak marah kepadaMu sungguh! Saya hanya marah pada diri saya sendiri, karena selemah ini menghadapi perpisahan. 
PS: Maaf untuk tulisan menyebalkan ini ya, kamu. Iya kamuuu *ala Dodit* jangan dibaca kalau hanya menyesakkan dada dan membuat mood kalian menurun drastis *memangnya siapa yang mau baca?* Yasudah. Intinya saya cuma mau minta maaf. Tulisan ini agaknya teramat menyebalkan. Setidaknya, bagi diri saya sendiri.


Langit Senja
Yogyakarta
8/05/2014
 20.00 WIB

Minggu, 04 Mei 2014

Hujan Tanpa Jaket

         Ingatkah tentang sore yang dilingkupi kabut pekat dan gugusan berjuta-juta partikel air dari awan? Tentang kereta yang terlalu lama untuk ditunggu kedatangannya. Dan waktu yang terasa cepat berlalu sekalipun sebenarnya kita sudah lama menunggu. Kau ingat?
          Bajumu basah dilahap titik-titik air yang  saat itu dengan nyalang menggelontor ke tubuhmu satu-satu. Bibirmu bahkan bergetar menahan gigil dan bisa kudengar gemeletuk gigimu akibat beku. Ya, kau benar. Aku mengamati detailmu seluruhnya. Saat itu, dengan hati tercabik-cabik menahan ngilu.
          "Kau pulang saja, biar kutunggu keretanya sendirian. Pulanglah," kau katakan itu tanpa menoleh ke arahku sedetik pun, dengan intonasi selirih embusan angin tetapi dengan ketajaman sebilah pedang.
          "Tak apa, biar aku di sini sampai keretamu berangkat."
           Aku dengar kau menghela napas, aku menunduk. "Apakah.. apakah kau keberatan aku ada di sini?"
           "Tidak. Tapi akan jauh lebih melegakan jika kau pergi."
            Embun di mataku mulai menggantung. Sekilat gerakan petir aku menatapmu, secepat yang kubisa. Sama sekali tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulutmu. "Kenapa?" tanyaku lirih.
            "Karena memang seharusnya begitu."
             Aku tahu cinta dan perasaan adalah soal harga diri, bukan irasionalitas. Maka selepas kudengar kalimatmu yang terakhir, dengan suasana hati yang porak-poranda tak terjabar kata-kata, aku segera berdiri. Bangkit dari dudukku yang semula berada di samping kirimu.
            Aku sudah melangkah beberapa kaki jaraknya, diselingi dengan gerak telapak tanganku sesekali menyeka pipi. Tetapi tepat pada langkah ke lima, aku berhenti. Jangan bertanya 'mengapa' karena aku juga    tidak tahu jawabannya. Sesuatu yang lebih dahsyat dari magnet tiba-tiba menarikku. Seketika itu juga aku berbalik. Menatapmu lagi dari kejauhan. Kau masih di sana, dengan kemejamu yang kebahasan dan getar di bibirmu yang masih belum hilang.
              "Di kereta nanti pasti jauh lebih dingin. Kau tidak bawa jaket bukan? Ini, ambillah." kuulurkan jaket tebalku di depanmu.
              Kau mendongak, menatapmu sejenak."Terimakasih."
             Maka setelah memastikan kau menerima jaket itu tanpa sedikit pun penolakan. aku membalikkan badan. Menarik napas panjang. Lalu pergi dari hadapanmu. Dengan langkah-langkah lebar dan memastikan aku tidak akan pernah kembali menoleh ke belakang.

Mereka benar, bahwa cinta adalah soal harga diri, bukan irasionalitas. Memilih terus-menerus disakiti karena menganggap cinta itu irasional sehingga rasa sakit yang ditimbulkan adalah sebuah pembenaran, atau memilih pergi dan melindungi hatimu sendiri menuju sebenar-benarnya kebahagiaan.

4/05/2014
23.10 WIB
Langit Senja
Yogyakarta
PS: Ini cuma fiksi. Tentu saja. Maaf jika pilihan diksinya membuat kalian risih. Saya hanya sedang melatih diri untuk kembali peka dengan kata-kata. Berhubung saya sudah lama tidak menulis cerita bergenre romance, maka ini adalah salah satu cara agar saya bisa aktif menulis lagi.













 

SKETSA TANPA RUPA Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger