Jumat, 10 Juli 2015

Denganmu Segalanya Berbeda

Aku tidak suka laki-laki perokok. Tapi denganmu, segala hal berbeda. Aku tidak sempat bertanya rokok jenis apa yang kauhisap, berapa putung rokok yang kauhabiskan dalam sehari, atau menyerangmu dengan sinisme bertubi-tubi. Ketidaktoleransiku tiba-tiba menghilang. Atau mungkin, kamu pengecualian.

Aku tidak suka bercerita panjang lebar soal perasaan kecuali lewat tulisan. Tapi padamu, segala hal berubah. Seolah ada kekuatan magis yang menggerakkan lidahku untuk bercerita banyak hal padamu. Tanpa peduli diksi dan narasi, cukup dengan menyuarakan segala isi hati.

Aku tidak suka es krim rasa strawberry, atau apa pun yang bungkusnya berwarna merah muda. Tapi jika itu kudapatkan darimu, rasanya berbeda. Aku tidak lagi peduli rasa dan warna, jadi tetap kunikmati saja.

Banyak hal yang tidak kusuka sebelumnya, menjadi tidak seburuk yang kukira, jika itu menyangkut kamu di dalamnya.

Sebut aku gila, karena bisa jadi ini hanya efek dophamine yang berlebihan saja.

Tapi tunggu dulu, aku cuma ingin bilang satu hal kecil. Beberapa kalimat sederhana yang ingin kukatakan padamu saat ini juga.

"Terimakasih sudah memperlakukanku dengan baik, seburuk apa pun kamu di mata orang lain. Terimakasih sudah menjadi ada dan tak pernah menuntut apa-apa, meski seringkali kuabaikan karena aku tak juga peka. Terimakasih banyak untuk apa pun yang telah kauberi, aku berhutang padamu soal ini."

Langit Senja
Yogyakarta

Senin, 15 Juni 2015

Berhenti atau Pergi

aku tidak paham, kenapa kamu suka sekali datang. tersenyum dari kejauhan, melambaikan tangan, mendekat dan mengisi seluruh kekosongan. anggap saja aku ruang hampa, lalu kamu bebunyian dari seluruh gema yang berhasil menembus kedap udara.
datangmu, membuat seluruh ruangku dipenuhi notasi, tak lagi sunyi.

tapi bisakah kamu datang tanpa mengenalkanku dengan apa yang disebut frekuensi? tanpa menunjukkan padaku apa itu rutinitas? tentang hadir dan alpa, datang dan pergi, tanpa skala waktu yang tidak pernah terprediksi?

aku tidak memaksamu tinggal, sebab tahu diri bahwa selamanya aku bukanlah rumah. tapi juga bukan teras dengan kanopi yg bisa leluasa disinggahi.

berhenti atau pergi.

hanya itu dua pilihan itu yang kuberi.

31 Mei 2015
Sinta If

Selasa, 30 Desember 2014

Kamu Bisa Bertanya Dua Tahun Lagi


“Sudah berapa lama?”
“Tujuh ratus tiga puluh hari yang lalu.”
“Terlalu sebentar kedengarannya.”
“Baik, enam puluh juta sekian ratus ribu detik?”
            “Itu terdengar lebih baik.”
             Ia, laki-laki itu tersenyum. Perlahan merobohkan diri, duduk di sebelahku. Udara dan terik membuat anak rambutnya bergerak tak teratur, berkilau di tempa cahaya matahari pukul dua. Aku meliriknya sekilas, lima detik, sebelum dia menyadarinya dan aku akhirnya membuang muka.
“Tidak tanya hal lain?”
“Semacam apa menurutmu?”
“Tidak ingin tahu bagaimana kabarku?”
Aku mendengus. Menggumam lirih tanpa suara, menyumpah-nyumpah. Setelah bertahun-tahun ia menghilang lalu menurutnya sekarang aku tak perlu canggung untuk menanyainya ‘apa kabar’? Bodoh.
“Untuk apa? Kamu terlihat lebih baik sekarang.” Jawabku basa-basi, mengedikkan bahu.
“Begitu ya?” ujarnya setengah tertawa, “baik kalau kamu tidak ingin bertanya. Kamu, apa kabar? Baik-baik saja?”
Aku tidak punya pilihan lain selain menjawab, ‘iya,’ dan anggukan kecil.
Meski sorot matanya tak lagi sama saat diamatinya aku menganggukkan kepala.
“Kamu membenciku?”
Aku tertegun. Spontan mengharahkan wajah ke arahnya. Dia masih menatapku dengan sorot muka yang tidak kumengerti.  Ada gestur lembut saat dia menatapku dengan binar mata bersahabat. Aku dibuat luruh, sarkatisku mencair.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Who knows?”
Aku ingin berteriak ditelinganya keras- keras. Memakinya dengan kata ‘Bodoh!” berkali-kali. Dia sama sekali tidak perlu bertanya apa pun, termasuk menginterogasiku apakah aku membencinya atau tidak. Terlalu retoris.
Karena dia sudah lebih dulu tahu bahwa bagiku membencinya adalah sesuatu yang mustahil. Sesuatu yang tidak mungkin bisa kulakukan, tanpa alasan.
“Bagaimana kuliahmu di sana?” aku mengganti pertanyaan basinya dengan topik yang lain. Mencairkan suasana.
So far so good. Kamu sendiri yang bilang kan? Aku terlihat lebih baik sekarang.”
“Tinggal di sana pasti menyenangkan ya?”
Dia mengedikkan bahu, tersenyum kecil. “Tidak jauh beda dengan di sini.”
“Begitu ya? Kupikir lebih menyenangkan di sana...”
             Ia, laki-laki itu tersenyum. Ada hela napas berat yang mati-matian ia tahan untuk dihembuskan. Sedang aku di sebelahnya sudah lebih dulu membisu. Urung melanjutkan kalimatku.
              “Aku minta maaf karena tidak berusaha menghubungimu,”
               “Terlalu berlebihan,” aku berusaha tertawa, menyorot satir wajah bersalahnya.“lagipula kenapa harus menghubungiku? Ada hal lain yang lebih penting untuk kaulakukan bukan?”
               Dia menatapku canggung, merenung.“Aku bisa menjelaskan kenapa aku tidak memberimu kabar waktu itu,”
                “Tidak perlu.” Aku menggeleng, tersenyum menatapnya jumawa, “pukul berapa sekarang?”
“Tiga lebih satu, kenapa?”
Aku berdiri sebagai jawaban atas tanyanya berusan.  
“Mau pergi kemana?”
“Kamu bisa bertanya dua tahun lagi, dan saat itu aku akan meminta maaf kepadamu karena aku tidak berusaha menghubungimu setalah ini.”
Kata-kataku terdengar seperti petir di siang bolong. Dalam hati aku bersorak. Ini sama sekali bukan pembalasan, hanya soal bagaimana seharusnya aku bersikap normal.
Dua tahun lalu, ia pergi, tanpa permisi.
Untuk kemudian datang lagi, dengan skala waktu yang tidak pernah terprediksi.
Dua tahun lalu, aku menunggunya dengan debar yang sama.
            Untuk kemudian mengerti bahwa menunggu seseorang yang tidak berniat datang adalah kesia-sian paling bodoh sedunia.
             Maka kali ini, dengan alasan yang tidak pernah dia katakan atas kepergiannya, aku melakukan hal yang sama. Meski berat, meski tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

             Jika dia bisa memilih datang dan pergi pada saat kapan pun yang dia mau? Lalu kenapa aku harus memilih tetap tinggal, dan menunggu?

PS; Didedikasikan kepada mereka yang tetap berjuang untuk menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang. Kepada mereka yang terlalu polos untuk memahami bahwa dunia ini tidak melulu berisi keajaiban, Hei! Ayo bangkit dari dudukmu, berkelanalah. Ada sesuatu yang lebih menarik di luar sana, yang tidak akan kamu dapatkan jika kamu masih duduk di sana dan berdiam diri saja, toh percuma, tak ada yang akan menghampiri, Pergilah, kamu bebas menentukan kebebasan, cari bahagiamu sendiri. Menunggu adalah kesia-siaan paling bodoh, kecuali untuk hal-hal yang memang sepatutnya diperjuangkan dan hal-hal lainnya yang sudah pasti datang dengan segala bentuk kepastian.


30/12/2014
22:055 WIB
Langit senja
Yogyakarta

Sabtu, 22 November 2014

Emp(a)ty

Biasanya aku apatis. Mati rasa pada segala macam ekspresi baik sedih atau bahagia. Tapi aku suka tertawa, terutama saat mendengar lelucon konyol dan menggelitik dari orang-orang disekelilingku. Ceritakan padaku sebuah cerita lucu, maka sudah cukup kau bisa dengar gelak tawaku. Asal, jangan suruh aku bercerita secara lisan tentang kisah sedih atau bahagia, karena saat itulah aku pasti kehabisan kata-kata. Aku susah mencerna. Bingung menyampaikan ekspresi. Kalaupun bibirku mampu merangkai banyak kata menjadi kerangka cerita yang kususun utuh, belum tentu mereka bisa mengerti maksud kalimatku secara menyeluruh. Satu dua berhasil, delapan dari sepuluh diantaranya sudah pasti gagal.

Jadi, aku memang bukan pencerita yang baik. Aku pernah sekilas membaca judul buku, dengan nama yang sama persis dengan salah satu sindrom. Sayangnya, memoriku tak cukup kuat untuk mengingat. Tapi aku tahu intinya, sindrom itu membuatmu selalu kesulitan menyampaiakan sesuatu, bahkan sekalipun bibirmu dijahit kamu tetap akan lebih unggul menyampaikan isi kepalamu,

Mungkin itulah sebabnya aku menulis. Dengan menulis aku menjadi lebih waras, Dengan menulis mereka bisa dengan mudah menangkap maksduku lewat kata-kata meski tanpa suara. Ya, barangkali karena itu.

Dan lagi, menurut sejarah yang kuingat. Belum pernah sekalipun, aku menunjukkan eskpresi atas respon yang kudapat selepas mendengar beberapa curhatan teman, cerita duka atau bahagia mereka, dengan ekspresi normal. saat mendengar curhatan sedih misalnya, biasanya aku hanya akan memandangi orang di depanku dengan sorot mata datar, anggukan kepala kecil, sesekali gerak telapak tanganku menepuk pelan bahu si empunya cerita sekadar memberi empati meski hanya sebatas itu saja aku sanggup memberi. Bukan aku tak bisa merasa, atau tak peka. Aku hanya, yah begitulah, susah dijelaskan. Lagipula aku juga tak mau berpusing-pusing ria untuk dimaklumi. Peduli apa?
Tapi lucunya, saat mereka berpikir aku tak memberi respon yang baik, tanpa sekalipun pernah mencoba menebak apa yang sesungguhnya terasa di dalam hati, aku justru merasakan sesak yang bertubi-tubi, Cerita yang kudengar dari telingaku menjalar serupa listrik pararel hingga menembus pori-pori. Aku merasakannya, aku bisa mengerti bagaimana rasanya. Aku hanya tak bisa menunjukkan ekspresi di depan orang lain sebagaimana mereka berekspresi lewat dirinya sendiri.

Tapi sore ini, saat kulihat tubuh tinggi milik seseorang berjalan diantara lorong penuh desinfektan dan aspirin yang menyengat, saat sosoknya kemudian menghambur bersama sosok-sosok yang lain, semua sisi kebekuanku luruh. Menyeretku untuk ikut membenamkan diri, memeluk tubuh tinggi itu diantara tangan-tangan lain yang mendekapnya dengan erat.
Guncang bahunya, dan isaknya yang tertahan dengan cepat menjalar ke seluruh organ. Aku memeluknya lebih erat. Lalu tanpa sadar, butir air itu, tanpa pernah kuduga sebelumnya, mengalir begitu saja. Respon pertama yang terasa begitu ganjil karena baru kali ini aku bisa menangis melihat orang lain menangis.

Lebih dari itu, tak hanya sekadar tepukan di bahu tanpa kata-kata seperti biasa, aku membisikinya dengan kalimat supermelankolis yang belum pernah kuucapkan kepada siapa pun sebelumnya sambil terisak air mata.

"Jangan nangis, kamu kuat. Kamu pasti kuat."

Lalu seperti itu. Lorong koridor berlantai putih menjadi saksi bahwa petang tadi sesuatu yang mengharukan terjadi. Sesuatu yang bisa menyesakkan hati siapa pun yang melihatnya, termasuk aku. Oleh indraku sendiri, juga hatiku.

Aku melihatmu berjalan
di lorong koridor berbau desinfektan
dari kejauhan matamu menerawang
kosong tanpa binar keceriaan
Aku tahu dibalik matamu air mata tersimpan
Tapi demi menyambut kami di ruang tunggu, kau menyembunyikannya mati-matian
Kamu mungkin sekuat itu
Hanya saja mungkin tidak
Saat melihat luruh kristal bening itu
jatuh dari matamu
Tangan-tangan terentang
Kamu menggapainya dengan sisa-sisa kekuatan
Direngkuhnya kamu dengan segala tangis yang tiba-tiba menjalar
Merasakan bagaimana sesak dadamu saat sesenggukan
Jangan kawan, jangan.
Kamu kuat, kamu tak sendirian
selalu ada pelangi setelah turun hujan
Tuhan menyayangimu
dan pertolonganNya selalu datang tepat waktu

pict from tumblr

Hujan
pada ruang sepi, dini hari
02:00 WIB
22/11/14
Langit Senja
Yogyakarta


Rabu, 19 November 2014

Temui Aku di Kafe

Aku menulis ini sambil sesekali membayangkan kamu saat sedang tersenyum dan tertawa lepas menertawakan lelucon yang sebenarnya tidak pernah kamu mengerti. Begitulah kamu, selalu tertawa tanpa tahu apa sebabnya.

Dan malam ini, pada kepulan asap rokok yang kesekian kali, aku berani bertaruh bahwa benar aku merindukanmu. Lebih daripada aku merindukan hujan di bulan Oktober. Lebih dari apa yang sanggup kamu bayangkan, karena aku memang tak pernah bilang.

Rin, aku menyukai caramu tertawa. Tawa yang polos dan seperti anak kecil. Terlepas dari semua perihal 'dewasa' yang dikatakan orang-orang di luar sana, yang kadang membuat mereka berpikir bahwa kamu tak waras dan nyaris sinting.

Rin, apanya yang salah darimu? Kenapa semua orang menilaimu sinting dan bodoh? Padahal, kamu hanya gadis biasa. Hanya seseorang yang juga ingin mencari bahagia dengan caranya sendiri. Kamu suka berdandan, memakai baju-baju bagus dan berkelas, duduk berlama-lama di kafe bersama teman-temanmu, menghabiskan waktu untuk membahas bedak, lipstik atau kosmetik, bercerita soal bagaimana hari-harimu-yang ajaibnya selalu terdengar menyenangkan itu-juga siapa artis idola yang kausuka. Sederhana. 

Aku tidak tahu Rin, tidak pernah tahu kenapa persepsi orang-orang bisa sebegitu menyebalkan. Tapi aku mengenal siapa kamu, aku mengerti benar siapa kamu yang sebenarnya. Jadi, aku memilih untuk tidak menghindar. Aku justru ingin mendekat, mengulurkan tangan, membantumu berdiri. Omong kosong walau seandainya saat itu kamu berdalih dan mengatakan bahwa kamu sedang baik-baik saja.

Aku tidak peduli saat semua orang tertegun karena melihatmu tengah mengisap putung rokok. Tidak peduli saat mereka mengataimu jalang lantaran kamu sedang duduk manis di bar sambil memegang botol minuman. Aku tidak peduli Rin, tidak pernah peduli.

Aku hanya peduli saat sore itu kamu tiba-tiba datang, duduk dengan tiba-tiba di depan mejaku. Di luar hujan, dan minum secangkir cokelat panas di  kafe kecil pinggir jalan selalu menyenangkan. Kamu tanpa perlu berbasa-basi meraih bungkus rokok di depanku, membukanya dengan mata menyipit lalu berkata, "Bagi satu ya! Mau beli di luar hujan."
Dan saat itu tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain hanya tersenyum.
Aku diam-diam mengamatimu yang begitu lincah memainkan kepulan asap rokok menjadi bulatan-bulatan kecil. Meski dalam hati sebenarnya aku bergidik ngeri, membayangkan seorang gadis berbibir tipis dan semanis kamu ternyata adalah pecandu tar dan nikotin.

Hingga sore itu, percakapan tentang sebungkus rokok dan secangkir cokelat panas menjadi awal perkenalanku dengan seorang gadis yang ternyata bernama Rinai. Rinai yang berarti hujan, dan betapa semesta begitu lucu karena pada saat hujan pula ia mempertemukan aku dengan kamu.

"Udah lama ngerokok?"
"Nggak inget. Sejak gue SMA sih." Jawabmu tak acuh,  "kenapa? Lo keberatan  gue mintain rokok lo? Eh, sorry jadinya gue malah minta dua."
 Aku buru-buru mengggeleng, "Ambil sesuka hati lo mau butuh berapa banyak. Gue nggak keberatan."
Dan kamu tertawa, menyipitkan mata, mengisap putung rokokmu yang masih tersisa.
"Lo ini manusia paling aneh yang pernah gue temui."
Aku mengeryit.
"Iya. Lo nggak kenal gue, tapi berbaik hati mau ngasih gue rokok. Biasanya, kalau gue minta ke orang lain, yang ada gue malah digampar. Lucu kan?" Lalu kamu tertawa, melihatnya aku juga ikut tertawa, antara merasa bodoh dan salah tingkah. Kamu tidak tahu Rin, melihatmu pertama kali saja sudah cukup mampu melumpuhkan segala penolakanku. Di depanmu aku seperti tidak berdaya, seolah kamu punya keajaiban besar yang mampu mengubahku menjadi robot dalam seketika,

Lalu sore itu, kamu menutup seluruh cerita dengan bilang bahwa kamu harus segera pulang. Hujan di luar sudah mulai reda. Dan entah mengapa, saat berjabat tangan denganmu dan melihatmu melangkah meninggalkan kursi di depanku, ada perasaan aneh yang tiba-tiba membuatku ngilu.

 Rinai... sejak saat itu, sejak saat aku melihat punggungmu perlahan-lahan menghilang dari pandangan, aku selalu duduk di bangku yang sama di kafe itu tiap musim hujan. Kadang dua kali seminggu, kadang tiga kali, tak jarang empat kali. Hanya demi sebuah harapan untuk dapat bertemu seorang gadis yang tiba-tiba muncul di depanku lalu membuka bungkus rokokku tanpa perlu merasa berdosa. Melihat seorang gadis yang dimatanya ada kesenduan yang terlihat nyata, tapi pandai bercerita banyak hal tentang sesuatu yang menyenangkan sampai aku dibuat tertawa.

Aku memandangi kepulan asap rokok yang barusan kuhembuskan dengan napas panjang. Ada ngilu yang tiba-tiba menjalar menuju paru-paru. Selamat Rin, kamu sukses membuatku merana setelah pertemuan singkat kita setahun belakangan.

Dan untukmu, yang setelah membaca kisah ini kemudian mengingat  bahwa aku adalah seseorang yang kaumintai dua putung rokok di kedai kopi pinggir jalan waktu itu, maukah kamu datang lagi? Duduk di depanku sambil menceritakan hal-hal lucu, aku tak keberatan kamu mau minta berapa banyak putung rokok dari bungkus rokok yang kubawa, aku tidak akan keberatan. Sungguh.

Rin, hari ini aku menyaksikan rintik hujan serupa namamu. Dan merasakan partikelnya sedingin udara di pagi buta, dingin yang mampu menggigilkan seluruh pori-pori, rasa yang sama saat setahun lalu aku menyaksikanmu berlalu dari hadapanku.

Rin, apa kabar?
Apa kamu sudah berhenti merokok sekarang?
Semoga kabarmu baik, semoga rutinitas merokokmu sudah berkurang.
Aku belum pernah bilang ini sebelumnya, tapi.. kamu cantik. Dan aku selalu percaya bahwa kamu adalah gadis yang baik.
Temui aku di kafe yang sama pukul tiga.
Aku ada di sana.


pict from tumblr
Sebuah fiksi
Lnagit Senja
Yogyakarta
12/10/14
setelah satu bulan lalu tersembunyi dalam daftar draft



Sabtu, 25 Oktober 2014

Selamat Ulang Tahun As Syafa Nada Amatullah

Haloo Syaf.

Selamat ulang tahun, ya.
Semoga semakin segalanya yang baik-baik.
Tambah disayang dan menyayangi teman-teman.
Sukses UN 2015 beserta SNMPTN dan jajarannya.
By the way, keep spirit on writing ya! Siapa bilang tulisanmu tidak indah untuk dibaca? ( fyi: i read your bios in your blog) Hei! You wrong! Tulisanmu baca-able!
Semoga mimpimu yang pernah kita share bareng dulu jadi kenyataan ya. Jadi penulis Syaf! Kamu bisa!

Satu lagi,
Sukses untuk proyekmu yang itu.

Udah, Segitu dulu aja ya. Maaf juga ngucapinnya telat dan cuma bisa via blog.

Sekali lagi.
Selamat bertambah usia, semoga segala harap lekas dikonspirasikan semesta agar menjadi nyata.

Anyone please open Syafa's blog. She's so talented. Be there!

26/10/14
Langit Senja
Yogyakarta

Jumat, 24 Oktober 2014

RIP Gayatri

Saya baru mengenal sosoknya setahun belakangan. Yang tidak sengaja saya simak liputannya dalam sebuah talkshow yang dihadirinya dan menempatkannya sebagai pembicara di Kick Andy Show.

Dari awal, begitu mengetahui dia adalah Puteri Ambon, saya langsung tersenyum lebar. Itu berarti dia berasal dari satu provinsi yang sama dengan saya. Pertama melihatnya, saya menebak dia adalah seorang perempuan dewasa dengan kisaran umur di atas dua puluh tahun, mengingat penampilan dan gaya bicaranya yang begitu berwibawa seolah-olah dirinya adalah mahasiswi lulusan fakultas hukum setingkat pengacara. Tapi begitu acara tiba pada sang pembawa acara menanyakan berapa usianya, saya sontak melongo. Tidak percaya. Menggeleng-geleng. Mana mungkin? Perempuan dengan tutur bahasa luar biasa tingkat tinggi dan punya pemikiran sedewasa itu ternyata masih remaja belia berumur belasan tahun. Enam belas atau tujuh belas, jika saya tak salah ingat.

Dia gadis yang sangat luar biasa. Tidak hanya dalam bidang bahasa tapi juga praktek ilmu sosial lainnya. Terbukti dari keikutsertaannya sebagai aktivis sekaligus pelopor berdirinya beberapa komunitas sosial budaya di kotanya. Dia bisa mengaplikasikan ilmunya dengan optimal di usianya yang masih sangat muda. Bahkan, dalam salah satu cerita disebutkan dia pernah menjadi ketua termuda sepanjang organisasi yang diikutinya itu berdiri, membawahi beberapa anggota yang berusia jauh di atasnya. Masih banyak, masih banyak lagi. Dan tidak perlu saya sebutkan lagi di sini apa saja kelebihan yang dia miliki, karena saya yakin, sejarah sudah mencatatnya dengan baik. Lebih daripada pengetahuan mengenai sosoknya yang saya miliki.

Saya mengagumi semangatnya yang luar biasa dalam belajar bahasa. Ilmu yang seringkali dipandang sebelah mata untuk sebagian orang yang lebih mendewakan angka dan teori di atas segalanya termasuk literasi. Saya mengagumi kemandiriannya untuk belajar, empat belas bahasa (meski beberapa sumber menyebutnya 11) bukanlah hal mudah untuk dipelajari secara otodidak. Tapi dia berhasil membuktikan bahwa tekad dan semangat bisa mengalahkan apa pun yang tadinya terlihat nihil dan mustahil menjadi mungkin.

Dia bukan berasal dari keluarga mampu hingga bisa membiayainya untuk mengikuti bimbingan belajar di sana-sini. Tapi semua itu tidak menghalanginya untuk terus meraih mimpi dan berprestasi. Kerja kerasnya terbayar lunas saat namanya mulai mendunia dengan dinobatkan sebagai Duta Anak Asean 2012-2013 sebagai delegasi tunggal pertama dari Maluku untuk mewakili Indonesa.

Sebagai anak yang terlahir dari tanah Maluku, saya mengaku bangga. Kemudian memimpikan suatu saat nanti saya harus bisa seperti Gayatri. Saya harus bisa menguasai bahasa asing. Dan fakta ini membuat saya menyadari bahwa Gayatri telah menginspirasi. Mungkin tidak hanya bagi saya, tapi juga jutaan orang lainnya.

Dan hari ini, Indonesia dikejutkan dengan berita duka bahwa Putri Ambon terbaik itu telah tutup usia. Saya tidak habis pikir, kenapa Tuhan begitu cepat memanggil orang-orang baik? Tapi seberapa banyak pun pikiran yang terlintas di pikiran saya, jawabannya hanya ada dua: Tuhan Maha Tahu, Tuhan Maha Berkehendak.

Saya hanya bisa berharap semoga akan ada Gayatri-Gayatri lainnya yang akan mengharumkan nama Indonesia khususnya dalam bidang bahasa. Semoga Tuhan menerima semua amal perbuatannya dan membayar kebaikan-kebaikan yang telah dia lakukan dengan beribu kali kebaikan. Setidaknya, Gayatri sudah menyumbangkan namanya dalam catatan sejarah. Setidaknya gadis berbakat itu telah mewariskan inspirasi dan motivasi ke banyak orang untuk mengejar impian dan menembus batas keterbatasan. .

Selamat jalan, kawan.

Kami ucapkan terimakasih

Indonesia mencintaimu


I've got this photo from Kick Andy Show's fanspage
24/10/14
Langit senja
Yogyakarta

Sabtu, 16 Agustus 2014

Jika

Dengarkan aku baik-baik Jim.

Kau tidak bisa memilih takdir mana yang harus kau jalani, atau hidup yang seperti apa yang ingin kaumiliki. Tidak bisa. Tidak akan pernah bisa.

Tapi kau, jelas bisa memilih sesuatu yang selalu bisa menjadi milikmu. Tentang banyak hal. Bukan hanya sekadar sedih atau bahagia, tertawa atau menangis, jatuh atau berdiri.Tetapi tentang sesuatu yang lebih sederhana. Sesederhana kebebasan dirimu sendiri untuk berbahagia atas semua hal yang terjadi dalam hidupmu. Kebebasan yang merubah sedu sedanmu menjadi tawa lepas sepanjang hari. Kebebasan yang lebih hidup, dan membuatmu mengerti  bahwa kebebasan itu adalah milikmu atas pilihanmu sendiri.

Kau selalu bisa memilih warna-warni yang kau lukis dalam kanvas hidupmu. Hanya saja, tidak semua warna menjadi sebab kenapa kau berbahagia. Jadi dengarkan aku, bahwa apa-apa yang bukan menjadi sebab kebahagiaanmu, itu bukan urusanmu. Hidupmu adalah hidupmu. Bahagiamu adalah bahagiamu. Sesederhana itu kau membuat hidupmu menjadi tak lagi abu-abu.

Tetaplah berdiri Jim, meski semua orang mengatakan bahwa hidupmu terlalu monoton dan biasa-biasa saja. Tetaplah berdiri, meski seluruh tekanan mencipta atmosfer sesak dalam tiap langkah yang kau pijak. Tetaplah berdiri, meski seluruh semesta berkonspirasi untuk mengujimu dengan badai bertubi-tubi.

Karena setelah itu semua, setelah semua badai yang berhasil kau arungi, selalu ada pelangi.

Dan,

Jika dunia ini merecokimu dengan segala sedih yang ia beri, maka ingatlah ini baik-baik, kamu tidak pernah 
sendiri.



15/08/14
23:35
Langit Senja

Yogyakarta

Minggu, 03 Agustus 2014

Di Balik Akasia

Ilustrasi/Kompasiana (kfk.kompas.com/Ib Putra Adnyana)

Ia berdiri di balik akasia besar di tepi jalan. Matahari memantulkan foton di kepalanya, 
sehingga rambutnya yang gondrong menutupi telinga itu terlihat menyala-nyala. Kemejanya yang kebesaran tersembul sebagian dari balik batang pohon, melambai-lambai tertiup angin. Dari balik punggungnya, aku mengamatinya sedang memperhatikan sesuatu.

Ia sedang menatap lurus-lurus pada beberapa bocah kecil yang sedang berlarian di tepi kolam. Sesekali aku melihat bahunya berguncang naik turun. Atau saat ia mengambil kerikil kecil di sekitarnya lalu melemparnya berulang-ulang ke sembarang tempat, begitu saja.
Ia tidak tahu bahwa aku mengamatinya saat ia mengisap tar dan nikotin. Asapnya menyebar ke segala penjuru. Menyelinap dari balik sisi batang akasia berupa kepulan asap pekat dan wangi mentol.

Ia tahu tali converse bitu tua di kedua kakinya lepas, bahkan mungkin sengaja ia yang melepasnya, tapi ia tidak tahu sulur talinya yang tergerai menjadi dua bagian itu dapat diamati dari balik batang pohon itu sewaktu-waktu, termasuk oleh aku.

Ia tidak sadar bahwa kuamati gestur tubuhnya sejak tadi. Kini, tubuhnya yang jangkung itu perlahan-lahan ditarik gravitasi, punggungnya yang bersender dibatang pohon itu perlahan-lahan roboh meluncur ke bawah, membuatnya berada pada posisi duduk, kakinya yang sebelumnya berdiri dibiarkannya lurus sejajar dengan badannya.

Ia masih tidak sadar aku mengamatinya. Tapi aku mengerti tatapannya belum beralih pada anak-anak yang masih bermain di sekitar kolam. Ia tidak sadar aku mengamatinya sedang serius memperhatikan sesuatu. Tapi aku lebih dari paham bahwa ia sedang mengamati sesuatu yang nilainya lebih dari sekadar bocah dan permainan.

Ia kembali melempar sebuah kerikil kecil. Selagi tangannya yang lain bergerak cekatan di saku celananya. Korek api dan sebungkus rokok mentolnya keluar. Menggantikan satu batang rokok yang sudah lenyap diisap paru-parunya.

Ia pengolah emosi yang baik, aku tahu. Bahkan saat dilihatnya anak-anak itu tertawa-tawa saling berkejaran, dua sudut di bibirnya ikut terangkat. Sesuatu yang bahkan hampir tidak pernah dilakukannya di hadapan orang-orang.

Ia memiliki rahang tegas dan struktur wajah keras. Semua orang yang melihatnya akan berpikir bahwa ia menyeramkan dan sarkas. Tapi tidak saat mereka mempunyai kesempatan untuk menyaksikan bagaimana cara ia tertawa, atau bagaimana saat melihat ekspresinya yang susah payah dijabarkan kata-kata. Penuh emosi dan ledakan, mistis tetapi melankolis.

Ia mengira semua orang akan menilainya manusia super yang tangguh. Tapi ia tidak sempat memprediksi bahwa siapa pun yang melihat kondisinya saat ini akan mengerti bahwa ia sebenarnya rapuh.

Ia bernama Jim, yang saat kutanya, “Kenapa tali sepatumu selalu diurai?”

Ia hanya menjawab, “Supaya aku tidak takut jatuh.”

Sebuah fiksi
24/07/2014
11:45 WIB
Langit Senja
Yogyakarta

Tags: Array


Jumat, 01 Agustus 2014

No Limit

Malam ini, adalah kata-kata yang retak
Delusi yang hampir sampai tapi tak pernah selesai
Malam ini, lidahku kelu lagi
Semua kata-kata hilang, faringku meradang
Malam ini, adalah bising rudal tanpa senapan
Memberangus hati tapi tak mati-mati
Malam ini, adalah aku yang punya nama
Tapi tidak semua menganggapku manusia
-Yogyakarta, 2 Agustus 2014. 1:30 WIB-


Teruntuk Kamu yang MahaHidup dan Menghidupi, yang membuat saya ada dan menjadikan saya keberadaan yang tidak pernah disia-siakan. Saya pernah membaca ini dalam sebuah tulisan, "Tuhan memberikan cintaNya untukmu lewat tangan-tangan lain." Dan malam ini, saya meyakini kalimat itu benar..
***
Sebelumnya, aku tidak pernah serumit ini. Bising suara ini sudah terlalu biasa dan aku sudah terbiasa menghadapinya. Hanya saja, jika tak ditambah dengan insomnia mungkin keadaannya akan berbeda. Aku sering mengatakan ke sejumlah orang bahwa aku spesies nocturnal, yang terjaga saat semua orang sedang terpejam pun sebaliknya. Aku sering kesulitan menemukan seseorang dengan jam tidur yang sama, minimal bisa kuajak berdiskusi barang sebentar soal beberapa hal untuk menghilangkan bosan. Hei, terjaga sendirian saat semua orang disekelilingmu sudah terlelap itu membosankan kan?
Tapi, malam ini, harus kuakui Tuhan MahaAsik. Seseorang tiba-tiba muncul dengan leluconnya yang konyol dan menghujaniku bertubi-tubi dengan lawakan. Tanpa kuminta, tanpa kujelaskan apa-apa.
Membuat seluruh bising itu lenyap tergantikan oleh tawa, membuatku berpikir bahwa mungkin Tuhan memang sengaja membuatnya insomnia. Ya, mungkin saja.
***
"Thanks God, for sending me someone who can make me laugh. Even, when he don't know that i was need a jokes."
-Chintaro-
2/08/14
2:00 WIB
Langit Senja
Yogyakarta
 

SKETSA TANPA RUPA Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger