Kamis, 27 April 2017

Tentang Nessa

Sore itu, ponselku berdering. Tertera panggilan di layarnya, ‘Nessa’. Ada sebersit senyum yang kemudian digantikan dengan rasa bimbang sesaat setelah aku menyadari apa itu artinya. Setelah bertahun-tahun menghilang, berusaha lenyap dari muka bumi, hanya untuk sebuah pertaruhan super tolol yang disebut ‘melupakan’ lalu sekarang tanpa sadar aku terseyum selebar ini demi melihat namanya muncul di layar ponselku? Gila.
Aku baru saja menyelesaikan meetingku di lantai dua puluh gedung pencakar langit tempatku bekerja, dengan sisa-sisa tenaga yang barusan kugunakan total untuk fokus dengan presentasi. Sebelum kemudian panggilan darinya, dan semua perasaan sialan yang muncul berbarengan dengan huruf-huruf pembentuk namanya itu, mengacaukan semuanya.
Lima menit. Dan setelahnya kewarasanku hilang. Aku mengorbankan sedikitnya seribu dua ratus hari lebih hanya untuk pergi, menghilang dan lenyap dari hadapannya bak di telan bumi. Lalu semuanya terlihat seperti lelucon karena bahkan untuk menjawab telepon darinya aku hanya butuh waktu kurang dari lima detik.
Aku diam sebentar ketika mendengar suaranya diujung sana, menahan napas berat.
“Halo, Bray. Ini elo kan?” suara perempuan yang sejak dulu selalu kukagumi jenis suaranya itu hari ini memanggil namaku setelah empat tahun kami tidak bertemu.
Aku diam. Tiga detik.
“Ya. Ada apa Nes?”
Cerdik. Aku bisa mengendalikan diriku dengan baik. Kututupi semua getar perasaan itu dengan nada suara senormal mungkin, meski setengah mati aku menahan diri untuk tidak berjingkrak lalu menghujaninya dengan kalimat murahan seperti “Nes, gue kangen banget sama elo!” detik dan saat itu juga.
“Sorry, gue lagi nggak sempet buat basa-basi nanyain gimana kabar lo segala macem,” ujarnya dengan suara tergesa-gesa, “gue lagi butuh banget pertolongan dari lo. Mau bantuin gue?”
Aku mencelos. Kalimatnya yang pertama berhasil membuat wajahku kebas. Perempuan ini tidak berubah sejak dulu untuk urusan ‘anti basa-basi’ bahkan setelah empat tahun lalu kami tidak saling berkomunikasi.
“Selagi gue bisa. Lo butuh bantuan apa?”
“Mobil gue mogok. Hujan deres banget di Senayan. Gue nggak bawa payung kalau mau turun manggil tukang bengkel. Jadi, please Bray lo ke sini. Bantuin gue. Gue tau kantor lo di daerah sini.”
Refleks, kulirik arloji di pergelangan tanganku. Setengah enam lebih empat. Beralih menatap kaca jendela, di luar hujan lebat. Bayangan Nesa yang sedang terjebak di balik kemudi mobil seorang diri di tengah hujan deras mengusikku. Tanpa pikir panjang aku segera turun ke lantai dasar menggunakan lift menuju loby.
“Lo dimana? Tungguin gue. Sepuluh menit lagi gue ke sana.”
***
Sebuah sedan silver terparkir di samping ruas jalan utama arah Senayan. Instingku mengatakan pengemudi di balik kaca jendela mobil tembus pandang itu adalah Nessa. Dan benar, karena tiba-tiba saja teleponku kembali berdering sesaat setelah aku melintasi sedan itu sambil membuka kaca jendela mobil.
“Mobil gue yang barusan lo lewatin.”
Aku berhenti. Serta merta menutup telepon itu sambil bergegas turun menuju bagasi, mengambil payung sebelum akhirnya menghampiri Nessa, mengetuk kaca jendela mobilnya.
Pintu kaca jendela mobil itu perlahan terbuka. Aku tahu jika situasinya lebih baik, pasti saat ini aku sedang berkesempatan melihat Nessa tersenyum sebagai salam perjumpaan setelah empat tahun lalu kami tidak bersua. Tapi bahkan dalam situasi seperti ini pun, dengan hanya menatap wajah Nessa tanpa sebersit senyum di wajahnya aku sudah kehabisan kata-kata.
“God Bless!”
Nesa keluar dari mobilnya dengan perlindungan payung di tanganku. Lihatlah, perempuan di sampingku ini karismatik. Tubuhnya semampai dengan masih ditambah sepatu hak tinggi sekitar lima centi. Mengenakan blouse warna putih lengkap dengan blezzer cokelat muda. Rambut cepol yang tertata rapi, dan rahang wajahnya yang mengingatkanku dengan aktor ternama Hollywood: Angelina Jolie.
“Apanya yang trouble?” tanyaku, berusaha mengalihkan perhatian.
“Gue nggak ngerti mesin. Coba lo cek dulu deh mesinnya. Gue curiga akinya bermasalah.”
Aku mengangguk. Beranjak menuju bagian depan mobil.
“Eh,” aku berhenti. Mendadak teringat sesuatu. “lo nggak mau nunggu di mobil aja?”
Aku menatap Nessa yang sejak tadi masih berdiri di sampingku. Sibuk menghalau tempias air hujan dengan tangannya.
“Nggak.” Ujarnya sambil menggelengkan kepala.
“Nanti baju kantor lo basah,” bujukku.
Nessa menggeleng lagi, lebih kuat.
“Nanti make up lo luntur.” Aku terkekeh, mencoba bergurau.
Tapi Nessa justru menggeleng lebih kuat dari sebelumnya bahkan ditambah dengan melotot.
Aku menelan ludah.
Aku mengenalnya lebih lama dari siapa pun, maksudku dari semua laki-laki yang pernah mengenalnya semasa SMA. Percuma saja membujuknya dengan kalimat beragam rupa, perempuan di sampingku ini keras kepala.
“Buruan lo cek deh!”
Aku menurut, segera membuka kap depan mobil. Beruntung, karena Nesa memanggil orang yang tepat untuk masalah teknisi seperti ini. Aku sedikit banyak mengerti tentang mesin dan otomotif. Tiga setengah tahun aku menyelesaikan studyku di bidang teknik elektro, memamah habis setiap jurnal ilmiah tentang mesin dan elektronika.
Nessa. Adalah salah satu dari alasan paling kuat yang membuatku mati-matian menyelesaikan studyku dalam waktu singkat. Alasan yang memicuku setiap hari untuk mendapat nilai terbaik di semua mata kuliah yang kupelajari. Hingga puncaknya, aku pergi ke Jerman. Meraih beasiswa, melanjutkan program masterku di sana.
“Mana sini, biar gue pegangin,”
Aku menurut, membiarkan Nessa mengambil alih payung ditanganku. Setidaknya aku butuh sepuluh menit mengoreksi bagian mesin yang bermasalah.
“Kabel radiator lo bermasalah. Jarang nyervis lo ya?”
Nesa meringis, mengangguk kecil. Oh God, lihat! Gigi kelinci yang berderet rapi itu, menyembul dari balik senyumnya yang tipis. Manis. Aku menatapnya tiga detik-tanpa sadar-sebelum akhirnya dia menepuk pundakku. Aku refleks terlonjak, mukaku kebas.
“Gimana? Lo bisa?”
Ini masalah kecil sebenarya, aku bisa menggunakan obeng dan peralatan seadanya yang kubawa dibagasi mobil .
Tapi bertemu dengannya lagi setelah empat tahun berlalu dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, kurasa bukan sesuatu yang menyenangkan. Maka aku terpaksa berbohong, memutar otak supaya aku bisa memperpanjang pertemuan kami. Aku bilang padanya bahwa aku tidak membawa peralatan yang kubutuhkan untuk memperbaiki kabel radiotarnya.
“Kalau lo mau, lo bisa gue anter pulang. Biar mobil lo ntar gue yang ngurus. Gue usahain besok pagi lo udah bisa make.”
“Are you serious? Nggak ada cara lain?”
Aku dengan polos menggeleng. Nessa mencebikkan bibir bawahnya-tanda ia sedikit kecewa. Tapi sesaat kemudian kulihat dia mengangguk, “Yaudah, gue pulang bareng elo ya?”
Aku bersorak dalam hati, mengangguk mengiyakan.
“Terus mobil gue?”
“Nanti gue telpon orang kantor supaya bawa teknisi ke sini.”
Nessa sepakat. Untuk kemudian masuk ke dalam mobilku, duduk di sebelah kemudi. Dari kaca jendela mobil, kuamati wajahnya baik-baik, sebelum aku menutup pintu. Seandainya perempuan dua puluh lima tahun itu paham situasi, maka ia akan mengerti bahwa menyetir mobil dengan dia duduk di sebelahku, bukan perkara mudah sama sekali.
“Bray,”
Aku menoleh sekilas untuk kemudian kembali berkonsentrasi penuh terhadap jalan raya,
“Kenapa Nes?”
“Apa kabar?”
Sumpah Demi Tuhan, pertanyaannya barusan seperti menampar-nampar syaraf kepalaku. Aku sama sekali tidak menduga dia akan bertanya soal kabar.
“Gue? Gue baik. Lo sendiri?”
Nessa mengangguk, “Gue juga sama.”
“Ngomong-ngomong, gimana lo bisa tahu kantor gue di daerah sini?” aku bertanya, teringat percakapan kami di telepon.
Nessa tertawa, “Hahaha, gue tahu dari akun media sosial lo.”
Aku refleks menelan ludah, menoleh ke arahnya lagi. Nessa sedang tertawa renyah, menghadap ke arah depan lurus-lurus, kepalanya tidak menoleh ke arahku, sedikit pun.
“Akun media sosial gue yang mana?”
“Semuanya. Mulai dari facebook lo, instagram, sampai twitter.”
“Are you kidding me?”
“Ngapain gue bercanda?”
“Then, kenapa lo nggak nge-follow gue?”
“Because being stalker is more insteresting, Brotha!“
“Sejak kapan?”
“Empat tahun lalu.”
Aku mematung.
“Empat tahun lalu sejak lo memutuskan untuk lanjut s2 ke Jerman. Dan setelah itu, kita nggak pernah saling komunikasi. Meskipun gue masih nyimpen nomor telepon lo, yang ternyata sampai sekarang masih aktif. Haha, gila setia banget lo ya. Satu tahun lagi udah mirip kredit cicilan motor tuh!”
Tawa renyahnya kudengar lagi. Aku masih tidak habis pikir. Apakah ini Nessa? Perempuan yang sudah kukagumi jauh hari sejak aku masih berseragam putih abu-abu? Apakah ini dia, perempuan yang dulu sering kubonceng saat berangkat sekolah menggunakan motor vespa? Apakah dia masih perempuan yang sama, yang pernah kukenal dengan sangat baik selama tiga tahun kami duduk di bangku SMA sembilan tahun lalu?
“Nes?”
“Ya?” kali ini, dia menoleh.
Kami bersitatap, diantara kemacetan yang memaksaku harus menghentikan laju mobilku sementara waktu.
“Kenapa baru sekarang?”
“’Maksud lo?”
“Kenapa baru sekarang lo menghubungi gue?”
“Menurut lo apa gue masih harus menghubungi seseorang yang waktu dia pergi, dia nggak pamit sama gue sama sekali? Gue kira lo menghindar. Jadi buat apa?”
Soalnya kalau gue pamit sama lo, gue mungkin nggak akan pernah jadi pergi Nes...
Pernyataan itu hanya bertahan di kepala. Enggan meluncur keluar dari mulutku.
Lalu, percakapan-percakapan setelah itu mengalir dengan sendirinya. Dari sana, kutemukan fakta bahwa perempuan di sebelahku ini adalah seorang manager di salah satu perusahaan terkemuka di Jakarta. Aku mendengarkan seluruh ceritanya dengan takzim. Membiarkannya berbicara soal apa pun. Meski lebih banyak soal masa lalu.
“Gue banyak belajar tentang etos kerja keras dari elo Bray. Waktu kita sama-sama SMA dulu, gue yang biasanya datang telat, terpaksa harus mengikuti jadwal berangkat sekolah lo yang selalu on time. Lo dateng pagi-pagi banget, jemput gue di depan rumah pake Vespa. Sumpah, itu kendaraan yang menurut gue lebih keren dari kendaraan mewah manapun.” Ujarnya. Matanya menatap ke depan lurus-lurus, seolah ia sedang menyaksikan reka adegan nostalgia masa putih abu kami pada sebuah layar yang ia ciptakan sendiri.
“Sampai akhirnya gue terbiasa disiplin. Gue rajin berangkat pagi, meski lo nggak setiap hari jemput gue di rumah. Ranking lo selalu bagus di kelas. Selalu menempati posisi tiga besar di sekolah. Hal yang membuat gue terpacu untuk terus giat belajar. Lo ini jenius, tapi gue tahu kadang lo punya bakat idiot. “
Nessa tertawa.
“Kayak waktu lo nembak si Dea, temen sekelas kita dulu waktu kelas satu, cuma buat membuktikan sama mereka kalau lo nggak maho. Haha, sinting! Padahal gue tahu lo cuma main-main, nggak suka sama dia beneran.”
Mukaku memerah. Dia masih ingat rupanya.
“Jadi kalau hari ini lo menempati posisi lo yang sekarang. Waktu hari itu gue denger kabar kalau lo dapet beasiswa S2 ke Jerman. Gue sama sekali nggak heran. Kerja keras lo, ketekunan lo belajar, membayar lunas semuanya. You deserve it!”
Kemacetan perlahan berkurang, aku menarik porsneling, mulai menjalankan kemudi mobilku. Percakapan ini benar-benar menyeretku pada masa lalu.
“Lo juga Nes. You grow up so fast! Cewek yang dulunya badung, sering bolos, jago nyontek dan di sekolah selalu bikin onar itu sekarang jadi manager perusahaan besar. There is nothing impossible, and you belive it!”
“Gue masih inget mimpi lo. Jadi wanita karir, pakai rok selutut, baju kantoran, duduk di depan komputer dengan meja dan kursi besar. Di ruangan pribadi lo sendiri. Di atas gedung nomor sekian puluh yang punya kaca jendela simetris, yang dari sana lo bisa melihat kota Jakarta dari atas gedung seperti New York versi Indonesia dengan skala yang lebih kecil. Itu fantastis!”
Nessa menoleh, cepolan rambutnya terlepas. Kini membentuk simpul rambut hitam panjang yang tergerai dan sedikit bergelombang. Aku menatapnya terkesima.
Ah! Dari dulu sampai sekarang lo masih tetap sempurna di mata gue.
“To be honest, gue mau ngucapin makasih banyak sama lo. Mungkin kalau waktu itu kita nggak sekelas, kalau gue nggak ketemu sama lo, gue nggak akan jadi gue yang sekarang,”
“It’s too much Nes!” aku menggeleng, “Lo bisa jadi diri lo yang sekarang karena lo punya tekad yang kuat untuk berubah. Sama sekali bukan karena gue.”
“Lo pernah bilang, semua orang bisa berubah asal dia mau. Jadi, makasih untuk pernah bilang itu. Makasih untuk pernah datang, ngajarin gue banyak hal. Gue berhutang banyak sama lo.”
Usiaku dua puluh enam. Lebih dari cukup untuk mengutarakan perasaan pada perempuan yang kucintai seperti layaknya laki-laki sejati. Maka sore ini, nyaliku seperti diuji. Benar kata mereka, laki-laki sepertiku mungkin bisa bicara cinta dengan mulus tanpa cacat pada seribu perempuan. Tapi pada satu yang benar-benar membuatnya jatuh cinta dengan amat sangat, rasanya akan amat sangat sulit.
Keringat dingin mengalir deras di pelipisku, telapak tanganku ikut basah. mulutku baru saja akan membuka dan memulai semuanya. Tapi sia-sia, dayaku seperti menipis. Mulutku terkatup lagi. Melihat ada sesuatu yang ganjil di hadapannya, Nesa menatapku menyelidik.
“Bray, lo kenapa? Sakit?”
Aku menggeleng. Mati-matian membuat lengkung senyum supaya ia percaya semuanya baik-baik saja.
“Nes,” bergetar, aku memanggilnya. Masih dalam keadaan menyetir.
Dia menatapku dan bertanya dengan tatapan, “ada apa?”
“Gue tau ini terkesan terburu-buru setelah pertemuan kita empat tahun lalu, tapi izinkan gue memohon sesuatu. Apakah, apakah lo bersedia jadi istri gue Nes? Apakah lo mau jadi seseorang yang nantinya akan duduk di sebelah gue, berangkat dan pulang kerja naik mobil gue setiap hari, seperti waktu kita berangat dan pulang sekolah sama-sama naik vespa dulu?”
Tanpa kuduga, reaksinya justru malah tertawa. Tawa yang bukan tawa seperti ketika anak perempuan mendapat boneka baru dari ayahnya, tapi tawa yang lain. Tawa yang di dalamnya ada rasa getir.
“Kenapa baru sekarang?” tanyanya.
“Karena gue tidak ingin menunggu selama empat tahun berikutnya, atau empat tahun yang lain.” Kujawab.
“Brian,” ia memanggil namaku tanpa memenggalnya.
“Elo itu tampan, pinter, bisa diandalin, idola gue sejak jaman SMA. Nggak nyangka orang yang gue suka bertahun-tahun itu akhirnya ngomong di depan gue. Dan nggak tanggung-tanggung, minta gue buat jadi istrinya, bukan cuma sekedar pacar atau temen biasa seperti yang selalu lo bilang selama ini. Haha, bangunin gue tolong kalau ini cuma mimpi.”
“Lo suka sama gue?”
Faringku terasa seperti dicekik, refleks menoleh ke arahnya. Menatapnya dengan pandangan “mana mungkin?”
Nessa tersenyum, “Iya, sebelum ada seseorang yang berani menyatakannya lebih dulu. Dia mungkin nggak sesempurna elo di mata gue. Tapi seenggaknya, dia menghargai bahwa gue ada, dia nggak membiarkan gue menghabiskan waktu percuma untuk menunggu sesuatu yang nggak pasti. ”
“Bray, lo mungkin ngajarin gue banyak hal. Tapi sayangnya, lo nggak pernah ngajarin gue cara menunggu seseorang tanpa kepastian.”
“Hari ini, maafkan gue harus mengatakan ini. Tapi izinkan gue datang sebagai teman baik. Bulan depan gue merit, dateng ya!”
Nessa menepuk pelan bahuku, mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Amplop merah muda dengan nama Nesa dan seseorang di sebelahnya.
Airlangga Haryanto
Rivalku yang sejak dulu sudah berjuang mati-matian demi merebut hatinya sejak jaman SMA.
Hari ini atas nama perasaan yang bertahun-tahun menghantuiku tanpa pernah berani kuungkapkan. Aku menyebut diriku sendiri sebagai pecundang.
Selamat Nes, hari ini persaingan itu berakhir sudah. Aku kalah.
****
Malang, 11 Maret 2017
22:05 WIB
PS: draft tulisan lama yang baru sempat dilanjutkan setelah sekian lama vakum.
 Image result for girl tumblr drawing\
pict by tumblr


Jika Boleh

Jika boleh, aku ingin menukar waktumu
Menumpas habis bentang jarak
Menghapus semua spasi
Tanpa sisa

Biar kau luruh
melebur
Menjadi kata
Meski hanya satu alenia

Kediri, 30/01/17
0:25 WIB
Image result for time tumblr 
pict by tumblr

Minggu, 08 Januari 2017

Sebuah Dialog Tentang Melepaskan


Sekarang pukul delapan lebih tiga puluh, lewat satu jam lalu sejak ia memutuskan untuk duduk di salah satu bangku kafe yang selalu didatanginya seorang diri itu setiap malam minggu. Semua orang-termasuk pelayan kafe itu-seringkali bertanya-tanya, kenapa ia suka sekali datang sendirian sementara rata-rata pengunjung kafe itu datang kesana untuk mencari keramaian? 
“Apakah kamu menyukainya?” Kutanya
Gadis itu tersenyum kecut, mengangguk pelan tanpa kata-kata.
“Sejak kapan?”
“Delapan tahun lalu,”
“Kau gila?” Aku refleks memekik, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh ke arah meja kami.
“Kenapa?”
“Itu berarti sejak kamu masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar?”
“Mungkin saja lebih, seandainya takdir membuat kami bertemu sebelum itu.”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Percuma, dia tidak akan percaya.”
“Itu karena kamu bersikap seolah tidak peduli, terlalu pandai membohongi diri sendiri.”
“Aku tidak bermaksud begitu,”
“Lalu, apa?”
Mata gadis itu berkaca-kaca, mengalihkan perhatiannya pada satu titik sebelum akhirnya dia membuka suara.
“Aku hanya-kau tahu? Aku ini absurd. Tidak semua orang bisa mengerti jalan pikiranku, tidak semua orang akan paham dengan apa yang aku katakan, sekalipun sudah kujelaskan panjang lebar. Jadi jika selama ini kamu lebih sering melihatku menulis daripada mendengarku berbicara, inilah salah satu alasannya. Aku ingin bilang padamu, tanpa bermaksud untuk membuatmu peduli. Menjadi aku itu tidak mudah. Terus terang saja.”
“Apa dia pernah menyatakan perasaannya kepadamu?”
Gadis itu mengangguk.
“Lalu, apa dia bilang?”
“Bahwa dia menyukaiku, dan lalu bertanya apa aku mau jadi kekasihnya.”
“Apa katamu?”
“Aku bilang tidak.”
“Kau gila!”
“Kamu hanya tidak tahu rasanya berada di posisiku saat itu.”
“Memangnya, bagaimana?
“Kamu tahu rasanya jatuh cinta dengan seseorang begitu lama? Tapi tidak banyak yang bisa kaulakukan selain hanya menunggu dan terus menunggu? Membiarkannya datang dan pergi kapan pun sesukanya. Saat dia bisa dengan leluasa berlabuh pada banyak hati di luar sana, kamu tidak punya pilihan lain selain bertahan di tempatmu. Memilih untuk tetap menunggunya datang menghampiri, meski itu artinya kamu harus merelakan hatimu patah berkali-kali.“
“Dan lalu, saat tiba pada momen di mana kamu mulai melupakannya, dia muncul lagi dalam hidupmu dengan tiba-tiba. Kamu hampir melupa segala hal tentang dia, mulai menggantinya  dengan seseorang yang berbeda. Hanya saja, saat seseorang itu ternyata adalah orang yang mahir mematahkan, dia datang berperan bagai pahlawan kesiangan. Sehingga akhirnya kamu harus jatuh cinta lagi, pada orang yang sama, untuk kesekian kalinya.”
 “Kamu kira itu tidak membutuhkan banyak energi? Aku hanya konsisten dengan satu orang soal urusan perasaan. Tapi nyatanya, konsekuensinya tidak pernah sesederhana itu. Saat dia bilang dia menyukaiku, sungguh ada pertanyaan besar di kepalaku yang tidak kuasa kulontarkan dan hanya bisa kusimpan erat-erat sendirian. Aku ingin protes di depannya dan bertanya, kenapa baru sekarang? Kenapa baru bilang saat aku sudah mulai menimbun harapanku padamu dan tidak lagi mengharapkanmu sebanyak dulu? Kenapa baru bilang disaat aku mulai melupakanmu dan membuka hatiku untuk orang lain? Kenapa baru bilang setelah kamu menjelajahi banyak hati, sementara aku harus menunggumu selama itu dengan bertahan seorang diri?”
“Aku hanya, entahlah harus bagaimana aku menjelaskannya. Tidak terbayangkan rasanya di posisiku saat itu. Seseorang yang kauharapkan bertahun-tahun, seseorang yang kedatangannya  bagaikan undian berhadiah sebab tidak pernah bisa kauprediksi kapan waktunya tiba, kini ada tepat di depanmu tanpa tendensi. Menyatakan perasaannya, fakta yang membuatmu sulit berlogika dan bertanya-tanya, “apakah dia benar-benar menyukaiku?" Ini gila.”
“Jadi sebenarnya, apakah saat itu kamu ingin menjawab ‘iya’?”
Gadis itu mengangguk.
“Berat sekali mengatakan ‘tidak’ untuk sesuatu yang sangat kamu inginkan. Tidak pernah mudah melakukannya. Butuh keberanian besar untuk melepaskan. Tapi tetap harus kulakukan.”
“Lalu kalau bagimu itu sulit, kenapa tetap kaulakukan? Kalau saja saat itu kamu mengatakan ‘iya’, mungkin seterusnya tidak akan serumit ini.”
“Kalau saat itu aku menerimanya menjadi kekasihku, tetap tidak ada yang bisa menjamin kelak kami akan benar-benar bisa bersatu. Sebut aku konvensional, tapi aku bukan tipe orang yang dengan mudah menjadikan parameter perasaan seseorang dengan hubungan bernama pacaran.
“Bagiku, kalau kau cinta dengan seseorang. Mau menempati posisi apa pun kau dalam hidup seseorang yang kaucintai, tidak akan mengubah apa pun dalam dirimu untuk orang itu. Bagiku cinta bukan hanya soal diterima atau menerima, ditolak atau menolak. Cinta itu harga diri, kadar yang nilainya tidak akan pernah bisa berkurang, selama dibungkus dengan ketulusan. Kalau kau tulus, bagaimana pun ia menganggapmu, sekali pun seandainya baginya kamu tidak masuk dalam daftar seseorang yang pantas menetap dihatinya, kamu akan tetap mencintainya. Tanpa syarat, tanpa imbalan, tanpa pengecualian. Sesederhana alasan karena kamu hanya mencintainya. Dan itu sudah lebih dari cukup ”
“Apa kamu pernah menyesal menolaknya?”
“Iya. Sedikit. Meski sebenarnya bukan. Bukan karena itu. Aku bukan menyesali keputusanku untuk menolaknya menjadi kekasihku. Yang kusesali adalah keputusannya untuk menyatakan perasaannya di waktu yang tidak tepat.”
“Di bagian mana yang menurutmu tidak tepat?”
“Dia tidak pernah tahu ada sisi dalam diriku yang tidak perlu kuceritakan pada siapa pun. Menceritakannya pada orang lain hanya akan menimbulkan empati. Dan aku, bukan tipe orang yang suka dikasihani. Aku belum siap berkomitmen dengan laki-laki mana pun saat itu, sekalipun aku percaya bahwa dia adalah orang baik. Ada hal yang jauh lebih penting untuk segera kuhadapi dari sekedar menuruti kata hati. Duniaku saat itu sedang dirundung abu-abu. Di kepalaku hanya ada ibuku, ibuku, dan ibuku yang ingin kubahagiakan dengan caraku sendiri. Bagaimana mungkin aku hanya memikirkan perasaanku sendiri sementara ibuku sedang dilanda kesedihan bertubi-tubi? Bagaimana mungkin aku sempat memikirkan perasaanku terhadap seseorang-betapa pun besar aku menyukainya-sementara aku belum bisa membuat ibuku bahagia? Seandainya saja, dia bisa menunggu sedikit lebih lama. Menyatakan perasaannya dalam versi yang berbeda, memintaku menjadi lebih dari sekedar teman baiknya di saat aku merasa segala hal sudah berjalan baik-baik saja, disaat kurasa waktunya memang sudah tepat, disaat semuanya dirasa sudah siap. Sekali lagi, seandainya dia mau bersabar lebih lama. Aku mungkin tidak akan berpikir dua kali lagi untuk mengatakan ‘iya’”
“Bukankah dia akan tetap menunggumu?”
“Awalnya, sempat kupikir iya. Bahwa dia akan tetap berdiri di sana, menjadi orang yang peduli dan kukira tidak akan meninggalkanku pergi. Nyatanya aku keliru, bahkan setelah kini ia tahu bagaimana perasaanku, dia tetap memilih pergi. Faktanya hati manusia bisa berubah dalam kurun waktu satuan detik, lucu sekali.“
“Kenapa ia memutuskan pergi?”
“Aku tidak tahu. Hanya saja kalau aku boleh menebak, mungkin dia mengira aku menyukainya karena dia yang sekarang. Yang ia tidak tahu, aku sudah menyukainya sejak dulu. Jauh sejak dia belum menjadi dia yang saat ini.”
“Kenapa kamu tidak mencoba menjelaskan? Kenapa kamu memilih membiarkannya pergi tanpa penjelasan?”
“Buat apa? Aku tidak akan menjelaskan sesuatu kepada seseorang yang memang tidak ingin menerima penjelasan. Meski sebenarnya aku ingin menjelaskan banyak hal padanya. Bahwa jika kubilang aku menyukainya, itu adalah pernyataan. Bukan untuk meminta jawaban. Aku ingin bilang padanya bahwa aku mengatakannya karena aku ingin, karena aku tidak ingin menunggu selama delapan tahun yang lain. Sama sekali bukan berniat untuk memintanya menjadi kekasihku, tidak sedikit pun berniat memaksanya untuk membalas perasaanku. Aku menyukainya dan bagiku itu adalah pernyataan yang cukup jelas. Terserah dia mau bagaimana terhadapku, aku tidak peduli.”
“Namun, yang membuat dadaku sesak adalah bukan saat mengetahui kenyataan bahwa hatinya bukan untukku lagi. Lebih dari itu, aku sedih karena kehilangan salah satu orang terbaik di hidupku. Aku kehilangan seseorang yang bisa bebas kucurhati tentang banyak hal tanpa perlu merasa risih dan sungkan, seseorang yang dengannya aku berani berkeluh kesah, tanpa perlu merasa cemas membuka topengku selama ini yang tampak selalu terlihat kuat dan baik-baik saja di hadapan orang-orang, seseorang yang kukenal cukup baik dalam waktu yang cukup lama dan kini harus kembali menjadi orang asing. Aku tidak peduli apakah dia masih atau sudah tidak lagi memiliki perasaan terhadapku, yang kupedulikan adalah kenapa dia harus menghindar? Jika aku masih tetap menjadi orang yang sewajarnya dia kenal saat dia menyatakan perasaanya, kenapa dia tidak bisa melakukan hal yang sama? Kenapa dia memilih pergi? Seperti dia tidak lagi mengenaliku, menempatkanku menjadi orang asing? Apa aku seburuk itu sehingga dia merasa harus perlu menghindar supaya aku tidak lagi bisa masuk ke kehidupannya?”
“Itu terlalu berlebihan. Mungkin dia punya alasan lain kenapa ia memerlakukanmu seperti itu. Dan sama sepertimu, dia barangkali punya sisi dalam hidupnya yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Kalau kamu tidak mendapatkan penjelasannya hari ini, semoga besok lusa meski entah kapan penjelasan itu akan tiba, kamu harus percaya bahwa semua kisah di dunia ini akan berakhir bahagia. Kalau kaurasa tidak, berarti akhir cerita itu belum selesai.”
“Apa pun itu, aku ingin mengajari diriku sendiri tentang arti melepaskan dan menerima.  Bahwa apa pun yang kupaksa betapa pun kerasnya, jika Tuhan tidak mengizinkan itu terjadi, maka sampai kapan pun tidak akan pernah terjadi. Jadi, aku memilih membiarkan semuanya mengalir seperti air. Biarlah, jika hari ini dan seterusnya dia memilih pergi. Aku tidak akan memaksanya agar tetap tinggal. Seperti yang kulakukan sebelumnya, beginilah seharusnya aku. Aku tidak bisa membencinya, dan kalau pun aku bisa, tetap tidak akan kulakukan. Terserah orang mau menilai dia buruk, terserah jika perlakuannyaa padaku pernah membuat hatiku patah, aku tetap akan bilang bahwa dia orang baik. Aku ingin meminjam istilah Pidi Baiq untuk menutup akhir ceritaku malam ini, bahwa jika aku mencintainya itu urusanku. Bagaimana ia kepadaku, itu urusannya.”

Malang, 1 Agustus 2017

Tumblr Wallpaper poster


                                                                        source: tumblr



Jumat, 15 April 2016

Lima Milyar Sekian Juta Milisekon

Bagaimana bisa aku memikirkanmu siang dan malam?
               7x24 jam? Sinting.
                Belum jika diurai dengan satuan waktu secara matematis. Tiga puluh delapan bulan.
                Kalikan empat, kalikan dua belas, kalikan tiga, kalikan enam puluh, kalikan enam puluh lagi, kalikan enam puluh lagi. Tambahkan dua bulan yang tersisa.
                Maka angka fantastis yang akan kau dapat adalah: 5.515.776.000 milisekon.
                Aku sudah jadi milyader dunia kalau saja itu nominal uang.
***
                Dunia ini kompleks. Keteraturan itu absurd. Perasaan adalah definisi paling tidak rasional. Sekalipun dijabarkan dalam jutaan alinea, diberi label teori dari A sampai Z.
                Sekarang pukul 03.00 pagi di tempatmu.
                Wajahmu pasti baru saja terbilas air wudhu. Kebiasaanmu, rutinitas yang nyaris alpa engkau tinggalkan di sepertiga malam.  Aku membayangkan hidung, kening, dan dagumu membenam ditelapak bumi. Memanjatkan doa-doa yang diterbangkan sampai ke langit.  Mengadu dan berceloteh pada Tuhan lewat ritual yang engkau sebut-sebut sebagai penghambaan paling romantis antara manusia dan Tuhannya.  Sujud.
                Sekarang pukul 03.15 pagi di tempatmu.
Lima belas menit setelah rutinitasmu usai. Lembar kitab itu kuyakin sedang kaubaca dengan khusuknya, dengan alunan suara paling metafora.  Aku membayangkan nyaring suaramu bahkan meski sekali pun belum pernah kudengar kaubernyanyi.
 Dan tahukah engkau bahwa dibalik ketidakpahaman tentang apa yang sebenarnya kau lakukan, aku masih berusaha untuk mengerti?
Aku mengerti ada sekat-sekat yang tidak bisa kulanggar dan wajib kupatuhi. Suka atau tidak suka, terpaksa atau sukarela. Aku berada diantara dua sekat yang sama-sama tidak ingin kupilih. Meski salah satunya benar, karena sejatinya aku tidak pernah ingin dikekang.
Namun terbebas dari dua himpitan sekat itu bagiku sama sulitnya dengan menggapai kejora ditengah konstelasi bintang seluruh jagat raya. Terasa musykil dan terdengar mustahil. Tapi aku serius soal pengandaian itu. Aku tidak sedang bercanda, hal ini terlalu serius untuk diberi label main-main.
**
Tiga minggu lalu Aisyah jatuh sakit. A-i-s-y-a-h. Perempuan bermata teduh itu, aku curiga ada surga kecil di matanya. Surga yang hanya mampu dimiliki oleh seseorang dengan rutinitas sama sepertimu. Jujur, aku benci harus mengatakan ini. Namun sungguh kuakui, aku iri.
  Aku iri dengannya yang tanpa harus melakukan apa-apa bisa membuatmu jatuh cinta. Sesederhana itu, sesederhana karena dia adalah Asiyah. Tanpa harus menjadi siapa-siapa, tanpa perlu menjadi sempurna.  
“Bagaimana keadaannya?”
Katamu, kondisinya sudah membaik. Dia hanya butuh istirahat. Terlalu banyak aktivitas membuat kondisi fisiknya terkuras.
“Jadi, sebenarnya dia sakit apa?”
“Dokter bilang anemia, tapi dia sudah diperbolehkan pulang hari ini, tidak perlu rawat inap. Kamu tidak perlu khawatir.”
Tidak perlu khawatir katamu?
Padahal  raut cemasmu saat membawanya ke rumah sakit karena dia pingsan di tengah acara kampus tadi siang, persis seolah dia sedang mengidap kanker stadium akhir.
Aku cuma mengangguk dan tersenyum getir.
Hebat. Kekuatan magis apa yang bisa mempengaruhi seorang laki-laki super idealis sepertimu-yang pantang melanggar satu kewajibannya sekali pun-tapi siang ini dengan ringannya meninggalkan acara yang berbulan-bulan dia rancang demi mengantarkan seseorang ke rumah sakit meski sebenarnya itu bisa diwakilkan?  
Asiyah, kalau aku diberi kesempatan besar untuk bertanya padamu meski cuma sekali.
Bagaimana rasanya dikhawatirkan oleh seseorang yang benar kaucintai?
***
“Jangan lupa berdoa untuk kesembuhannya,” senyummu ditengah terik matahari pukul dua siang. Tiga puluh menit sebelum akhirnya aku kembali ke acara kampus. Melanjutkan tugasku sebagai pangurus.
“Doa apa yang harus kubaca?”
“Apa pun, yang kaubisa.”
“Apa kamu juga akan mendokannya?” aku bertanya, setengah menggoda. Tertawa kecil.
“Tentu saja. Ada pahala berlipat ganda bagi mereka yang mendoakan saudaranya yang sedang sakit.”
 “Karena itu?”
“Apanya?”
“Karena itu kamu berdoa untuk kesembuhannya?”
Kamu tertawa dan menggeleng, “aku tetap akan mendoakannya meskipun tidak mendapat apa-apa.”
“Jadi begitu ya?”
Dahimu berkerut, memandangiku dengan tanda tanya yang berlarut-larut.
“Kenapa?”
Aku menggeleng. “jadi, agar juga bisa kaudoakan, apa aku harus sakit dulu?”
Kali ini kamu benar-benar tertawa. Menggeleng dengan ekspresi “apa-apaan kamu ini” yang secara terang-terangan kaulempar tepat di bola mataku.
Aku mengibaskan tangan, mencoba bergurau. “Lupakan. Itu cuma bualan. Oh ya, soal jalannya seminar nanti, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan bilang bahwa Kapel acara kita sedang terlibat urusan penting. Tugasmu aku ambil alih, biar Asiyah nanti aku cari siapa yang mau menggantikan. Aku pulang duluan,”
Kamu tersenyum dan mengangguk, mengucapkan terimakasih sebelum aku pergi.
***
Sekarang pukul 03.00 pagi untuk yang ke sekian kalinya di tempatmu.
Rutinitasmu masih tetap sama.
Namun kini aku mengerti keteraturan yang kaulakukan tidak akan pernah berjalan sama lagi.
Waktu berjalan dan semua peristiwa bergerak teratur mengikuti alur.
Kamu , tidak terkecuali.
A-i-s-y-a-h.  Kubayangkan saat ini dia tengah berada di belakang shafmu. Membaca kata ‘aamiin’ di penghujung alfatihah yang kaubaca.
Ah! Betapa beruntungnya.
***
Aku tahu sebongkah perasaan dan definisi ingin memiliki itu berbeda arti. Aku tidak lagi ingin melanggar batas kewarasanku sendiri. Sehingga engkau tidak perlu bilang bahwa aku ini waras, sebab aku mewaraskan diriku sendiri dengan tidak menggilakan kamu. Aku menyukaimu tanpa syarat, tanpa istilah yang dibuat-buat. Bahkan tanpa peduli beda ruang dan hal tabu yang bernama keyakinan.
***
                Pada 174.182.4000 milisekon aku menyerah.
                Tahu kenapa? Karena terlambat kusadari bahwa hanya di mata Aisyah lah engkau bisa menemukan surga.
                Sebab aku bukan dia yang bisa mengikuti gerak sujudmu dari belakang.  
Aku hanya bisa berdoa untukmu dengan caraku sendiri, di tempat yang berbeda dengan ruang ibadahmu.  Rasanya, cinta memang tidak pernah sesederhana itu.


               
 pict from here

16/04/16
2:05 pagi
SIF

Selasa, 05 April 2016

Aku Tidak Serumit yang Kamu Pikirkan

Aku ini tipe perempuan yang tidak pernah berdamai dengan keteraturan. Jam tidurku saja berantakan. Apalagi soal kehidupan taratur yang mengharuskanku untuk bangun pagi, bebersih, memasak dan mencuci.
Aku melakukan semuanya semauku, sebebasku. Aku suka ngopi dan tidur pagi-pagi. Aku beraktivitas saat semua manusia sedang sibuk bermimpi. Aku tidak suka memasak, tidak rajin bebersih dan rutinitas mencuciku bisa dihitung menggunakan jari.
Aku suka jalan-jalan dan sendirian. Aku menyukai banyak hal yang boleh jadi dibenci banyak orang. Bisa saja, kamu salah satunya.
Dan kalau pada akhirnya kamu disuruh memilih, masihkah kamu mau dengan perempuan sepertiku?
Kalau jawabanmu iya.
Selamat.
Berarti kamu adalah laki-laki paling berlapang dada sedunia.
Dan kalau benar kamu memilihku atas dasar mencintai tanpa alasan, aku mau meminta satu hal ini padamu, boleh kan?
Bangunkan aku sholat tahajud.
Jadi aku tidak akan minum kopi lagi agar bisa tidur lebih awal dan bangun di jam normal.
Sehingga dengan begitu aku bisa merubah semua kebiasaan-kebiasaanku yang sebelumnya kaubenci itu.
Kalau aku nggak ngopi, kalau aku bangun pagi, aku bisa teratur bebersih memasak dan mencuci.
Mudah saja kan?
Aku memang tidak serumit yang kamu pikirkan.
2:00 a.m
Kota Kembang
SIF

Akan Datang Seseorang dalam Hidupmu

Nanti, akan datang seseorang dalam hidupmu. Mengetuk pintu hatimu yang semula kaututup rapat-rapat, mengucap selamat datang dan meminta izin untuk tinggal.
Sekuat apa pun kau menolak, sekeras apa pun kau menyanggah, secerdik apa pun kau menyembunyikan kunci, daya magisnya tetap akan berhasil membuat sisi kebekuanmu luruh.
Sehingga tanpa terpaksa kau memberinya izin, menyanggupi permintaannya tanpa syarat.
Dia yang datang dihidupmu tanpa pernah kau duga-duga sebelumnya. Seseorang yang mengingatkanmu tentang kelembutan hati seorang Ibu, kasih sayang seorang ayah, dan rasa nyaman ketika kau berada di rumah.
Dengannya, rasanya kamu sanggup menghadapi dunia tanpa rasa takut. Meski seluruh dunia mencela dan kamu merasa tidak memiliki apa-apa, namun bersamanya kamu telah merasa cukup.
Dia akan datang di waktu yang tepat. Di saat kamu tidak lagi ingin mencari dan memilih ditemukan.
Nanti, jika tiba waktu dimana kamu ditemukan olehnya. Maka ketahuilah, saat itu semesta sedang membayar lunas luka hatimu dengan bahagia yang berlipat ganda.
1:42
pada dini hari yang sunyi
Kota Kembang
SIF

Minggu, 03 April 2016

Sepucuk Doa Mbah Sar

 Sore itu, aku sedang duduk di meja makan. Hal sepele yang biasanya kulakukan seorang diri di rumah jika tidak ada kerjaan. Aku hanya duduk, mengawang memikirkan apa saja yang terlintas di kepala. Tanpa berbuat apa-apa.
                Lalu tiba-tiba, dari arah dapur sesosok perempuan menghampiriku. Senyumnya mengembang.
                “Den,” sapanya.
                Aku tersenyum, mengangguk. Memberinya isyarat agar ikut duduk.
                Maka seperti biasanya, mengalirlah percakapan diantara kami. Dia dengan kisah nostalgia masa mudanya, dan aku lebih banyak diam mendengarkan.  Kudengarkan kisah masa lalunya tentang romansa masa muda.
                “Dulu Den, saya kalau kemana-mana sama pacar saya cuma naik sepeda. Itu pun kami jarang sekali berpergian berdua. Jarang bertemu dan komunikasi mboten segampang sakniki.”
                Aku nyengir, mengangguk kecil. Membiarkannya melanjutkan ceritanya.
                “Ah! Dulu semuanya masih terlalu berpedoman sama norma. Anak gadis mboten elok kalau pergi-pergi berdua apalagi sama yang bukan makhromnya. Orangtua jaman dulu terlalu ketat mengatur anak-anaknya soal itu, Den. Kalau mau serius ya langsung nikah. Mboten enten istilah main-main atau pacaran kayak sekarang.”
                Sebenarnya moodku hari itu sedang tidak kondusif membicarakan apa pun, termasuk soal ini.  Bicara soal komitmen bagiku adalah sesuatu yang absurd. Terlalu riskan untuk kutelaah, berat sekali untuk kumengerti.
                Tapi aku tidak punya pilihan lain selain terus mendengarkan, demi kode etik. Seru sebenarnya melihat bola matanya yang berbinar tiap kali cerita itu mengalir dari bibirnya yang mulai renta. Sampai akhirnya aku menyadari satu hal.
                Benar. Tidak biasanya dia bercerita dan mengajakku bicara tentang perasaan. Baru kali ini, dan aku mulai menyadari apa itu artinya. Mungkin, dia ingin menasehatiku lewat cara yang lain. Aku tahu bagaimana mengertinya perempuan itu tentang keras kepalanya aku selama ini. Aku juga tahu perempuan itu sebenarnya mengerti bagaimana bekunya hatiku lebih dari siapa pun.
                “Den,”
                Dia kembali menyapaku setelah sebelumnya aku hanya bungkam.
                Kula pesen kalih njenengan, pisan niki mawon kulo ngendika. Kalau besok njenengan suka sama laki-laki, pilih satu mawon yang terbaik. Cukup kalih setunggal tiyang mawon. Ampun ganti-ganti, nggih Den.”
                Aku diam, mencerna kalimatnya dalam-dalam.
                Nggih Mbah, “ kataku mengangguk. Meyakinkan dengan menatapnya sungguh-sungguh.
***
                Percakapan itu berlangsung beberapa hari sebelum aku meninggalkan rumah. Sebelum akhirnya malam itu aku meminta diri untuk pergi. Malam saat beliau sembunyi dibelakang rumah karena tidak tega kupamiti. Aku tidak tahu kenapa langkahku terasa berat malam itu. Separuh hatiku bahagia karena mimpiku menjadi anak rantau akhirnya terealisasi juga, tapi berat membayangkan bagaimana hidupku nanti di kota orang tanpa Mbah Sar.
                Demi Tuhan, sepanjang hidupku aku tidak akan pernah lupa. Bagaimana pengabdiannya selama ini untuk keluarga kami-untuk diriku sendiri terutama. Mbah Sar yang setiap hari setia bangun pagi, memasak, mencuci, menyiapkan segala keperluan, perlengkapan dan makan untukku selama di rumah.
                Mbah Sar yang mengerti benar bagaimana kondisiku lebih dari siapa pun orang di rumah itu. Aku berhutang budi banyak hal kepadanya. Bahkan jika harus kubayar dengan sisa umurku untuk membuatnya bahagia, kurasa itu tidak akan pernah cukup.
                Sudah enam bulan lebih, aku tidak bertemu dengan sosoknya lagi.  Aku ingin menangis, memutar balik waktu. Tapi tidak bisa, aku tidak punya kendali soal itu.
                Aku ingin bertemu dengannya dalam keadaan sukses. Sehingga mimpiku untuk memberangkatkannya naik haji bisa terealisasi. Sehingga pencapain-pencapaianku bisa mengukir senyumnya, jawaban dari doa-doanya yang selama ini beliau panjatkan untukku.
                Den, kula mboten mandek doake njenengan. Mugi-mugi sesuk jenengan dadi tiyang sukses, bahagia uripe, lan mugi ampun lali kalih kula.”
                 Aaamiin.
                 Aamiin.
                Aamiin Ya Allah
                Bahagia selalu di sana mbah.
                Menualah dengan penuh suka cita di sisi keluargamu.
                Tunggu anak asuhmu yang bandel dan suka bikin onar ini jadi orang sukses.

                Insya Allah, lima tahun lagi. Mbah Sar naik haji.



 pict from here

Jumat, 01 April 2016

Dear 3.am

Aku ini nocturnal.

Kamu tidur, aku bangun.

Kamu bangun, aku baru tidur.

Gitu terus berhari-hari. Rutinitas yang seolah sudah mendarah daging.

Aku bukan nggak berusaha tidur tepat waktu. Nyatanya tidak hanya sekali, di bawah jam 12 aku mematikan ponsel, lampu, dan komputer jinjing lalu memutuskan tidur.

Dua jam berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam tapi pikiran kemana-mana. Bisa jadi ini yang disebut insomnia.

Jadi aku tidak sepenuhnya tidur sebenarnya meski memejam lama. Maka lebih banyak misiku untuk tidur lebih awal itu gagal total.

Di atas jam dua belas, aku lebih sering beranjak dari tempat tidur. Mengulang aktivitas malamku lagi.

Kupikir lebih baik begini. Karena serius, merem lama tapi nggak tidur-tidur juga itu bikin capek, nguras tenaga.

Lebih baik tetap terjaga sambil nunggu wangsit ngantuk itu datang sendiri.

Ngapain aja?

Ya nggak ngapa-ngapain.

Lebih sering corat-coret, ngutak-atik sosmed, atau keseloan lain yang awam dilakukan orang-orang. Bedanya mereka lebih banyak melakukan itu saat siang, aku malam.

Kapan insyaf jadi kalong?

Nggak tahu.

Belum dapat ilham.

Memang enak?

Wah enggak. Kamu bersyukur saja kalau masih bisa tidur nyenyak dan teratur.

Apa kabar badan kamu?

Semacam mendzolimi diri sendiri sebenarnya. Tapi nggak apa-apa. Badanku sudah kebal. Sudah terbiasa.

Pengen nggak berhenti dari rutinitas begadang saban hari?

Jangan ditanya. Aku setuju benar dengan Bang Rhoma. Begadang boleh saja, asal ada perlunya. Yang berlebihan memang nggak baik.

2/04/16
1:44 am














 

SKETSA TANPA RUPA Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger