Kamis, 10 Januari 2019

Lucu Juga Cara Tuhan Menamparku Hari Itu



               
Malioboro. TransJogja. Jalur 1 A, adalah tujuanku pagi itu. Jalur itu adalah rute yang akan membawa penumpang menuju Titik Nol Kilometer hingga Prambanan. Sebenarnya, aku sedang tidak bertujuan. Tidak tahu mau kemana, jadi aku hanya ingin berkendara. Berkeliling Jogja, sampai nanti kembali berhenti di halte tempat aku menaiki bis semula. Duduk di kursi paling belakang, di dekat jendela. Kupasang headsetku, memutar salah satu playlist lagu kesukaanku. Menyenderkan kepalaku ke kaca. Memilih menepi dari keramaian sebab hari itu aku sedang ingin menghindar.
                Menghindar dari rutinitas di sekelilingku yang begitu banyak menguras waktu, menyerap begitu banyak energi, membuatku ingin menepi sementara. Kesedihan kadang-kadang hanya butuh ruang. Aku memilih menciptkan ruang bagi diriku sendiri untuk berekspresi, sementara berpergian sendiri adalah satu-satunya cara yang tidak pernah gagal sejauh ini.
                Aku sedang tenggelam dalam alunan musik di headsetku, ketika kemudian seseorang membuat lamunanku buyar begitu saja ketika kudengar suaranya berkata:
                “Mbak maaf ya, saya pindah duduk di sini. Karena di sana (ia menunjuk kursi yang berjejer vertikal, saling berhadapan dengan kursi di depannya), saya pusing kalau duduknya menyamping lihat jalanan. Jadi saya pindah ke sini, biar ndak pusing.” Ujarnya sopan.
                Aku tersenyum demi kode etik, mengangguk mempersilakannya duduk.
                Ia adalah seorang laki-laki paruh baya. Wajahnya tak lagi muda, berpakaian rapi khas pekerja kantoran. Membawa tas selempang kecil. Dia duduk di sebelahku setelah sebelumnya meminta izin, di sampingnya lagi, dua kursi di sebelahku telah terisi. Dua orang perempuan yang mengisi empat baris bangku di belakang, termasuk aku dan laki-laki paruh baya itu.
                “Mbak, tadi naik dari halte mana?” ia bertanya.
                Aku melepas headsetku, mematikan tombol pemutar musik.
                “Dari Malioboro Pak, di depan benteng Vredeburg."
        “Oh, di depan gedung DPRD ya? Mbak, dulu saya rumahnya di Kepatihan. Di dekat Malioboro,”
                “Tadi saya naik dari RS Hidayatullah, saya parkir di sana. Terus saya naik Transjogja ini,”
                Kudengarkan ia bercerita. Tentang ia yang terlanjur berangkat ke kantor pagi itu tetapi lupa kalau ternyata hari itu libur, sehingga memutuskan untuk pergi naik TransJogja, mengisi waktu luangnya.
                “Tadi saya update status di WA, saya foto-foto kan Mbak bisnya. Terus teman-teman kerja saya bilang kok nggak ajak-ajak, padahal saya cuma sekedar coba-coba naik. Wong saya ini kan orang Jogja, masak nggak pernah naik Transjogja.” Ia tertawa, menunjukkan foto kursi Transjogja itu kepadaku.
                “Kalau saya pulang, ya nggak ada siapa-siapa di rumah. Padahal biasanya saya baru pulang kerja jam empat, sekarang masih jam setengah sembilan. Daripada sepi di rumah Mbak, ”
                Sampai di situ, rasa penasaranku sedikit mulai terjawab. Tentang mengapa seseorang yang usianya tidak muda lagi, masih memilih mengisi waktu luangnya untuk berpergian sendirian menghilangkan sepi. Tentang mengapa ia tampak begitu antusias menceritakan apa kegiatannya hari itu kepada seseorang yang bahkan baru ditemuinya di dalam busway kurang dari setengah jam.
               Ya, dia-laki-laki paruh baya itu-kesepian. Dia mencoba membunuh rasa sepi dengan caranya sendiri. Sama sepertiku. Bedanya ia menghilangkah rasa sepinya, aku menghilangkan rasa sedihku.
           Sebenarnya aku ingin bertanya tentang keluarganya, tetapi itu bukan privasiku. Aku tidak pernah menyinggung soal keluarga kepada siapa pun kecuali orang tersebut yang menceritakan sendiri tentang kondisiya. Jika ternyata mereka tidak ingin, itu sama sekali bukan hakku untuk tahu.   
            Sampai akhirnya, ia sendiri yang memulai ceritanya. Satu hal yang kupercaya dalam sebuah komunikasi: Jika seseorang mulai mempercayaimu, ia akan dengan sendirinya memulai ceritanya tanpa harus kaupertanyai.
            “Saya dirumah sendiri Mbak, anak-anak saya semua sudah berkeluarga. Sudah merantau jauh ke luar kota. Yang satu jadi Bidan, satunya lagi Polisi. Nggak ada siapa-siapa di rumah, istri saya sudah almarhum 7 tahun lalu.
          Di rumah, saya sering kesepian. Nggak ada yang bisa saya ajak cerita, makanya jalan-jalan begini salah satu cara supaya saya nggak merasa sepi. Ya seperti naik TransJogja ini, nggak apa-apa selama itu untuk hal yang positif.”
          Di balik kaca matanya yang tebal aku bisa membaca raut wajahnya yang sedih tetapi sekuat tenaga berusaha ditutupi. Aku tahu matanya berkaca-kaca.
           “Kalau lebaran, putranya pulang Pak?”
        “Iya Mbak, tapi ya kadang-kadang. Soalnya cutinya susah, apalagi kalau Bidan. Mau bagaimana lagi, mereka semua sudah berkeluarga sendiri-sendiri. Saya nggak mau menyusahkan,”
                “Oiya Mbak, ini cucu saya.”         
                Ditunjukkannya sebuah foto, dua anak kecil, satu laki-laki dan satu perempuan, berpose di salah salah satu tempat wisata.
                “Lebaran dua tahun lalu ini Mbak, mereka ini kalau sudah sama saya lupa sama Mama Papanya. Diajak orangtuanya malah nggak mau,” kisahnya, lalu tertawa.
                “Mbak, saya cerita begini nggak apa-apa ya? Maaf ya Mbak kalau saya cerita,”
                Aku buru-buru menggeleng, “Nggak apa-apa Pak, saya malah seneng dengerin ceritanya.”
                Percakapan itu masih terus berlanjut, tentang anak-anaknya, pengalamannya saat ia masih muda, cerita tentang kondisi keluarganya, dan ia yang setiap pagi berbelanja sayur untuk dimasak seorang diri.
     Saat kutanya, “Masak sendiri Pak?”
                “Iya Mbak, soalnya kalau beli kurang sehat,”
                Kau bisa bayangkan bagaiamana ia yang sudah tergolong tua itu  harus mengurus dirinya sendiri setiap hari, tanpa anak dan istri? Kesepian, kebosanan, dan apa pun itu yang membuatnya bertahan sampai sejauh itu.
     Sampai tiba pada saat ia menanayakan apakah aku sudah punya kekasih atau belum.
                “Mbak sudah punya pacar?”
                Aku menggeleng, tetapi kulihat raut wajahnya seperti tidak yakin dengan jawabanku. Tidak apa-apa, aku tidak berusaha meyakinkan ia untuk percaya.
              “Oh ya nggak apa-apa. Tapi saya juga pernah muda, saya pernah jatuh cinta berkali-kali, jatuh bangun sampai akhirnya bertemu dan menikah dengan istri saya ini,”
                “Saya menikah sama istri saya, sampai sekarang ia sudah almarhum 7 tahun yang lalu. Tapi saya nggak mau cari pasangan yang lain lagi. Kalau pun ada, rasanya sudah berbeda. Sudah nggak seperti perasaan saya ke istri saya yang dulu.”
                “Mbak, kalau milih laki-laki harus benar-benar hati-hati ya. Karena kalau salah, bukan dia yang rugi, tapi Mbaknya. Mbaknya masih muda, fokus cari ilmu dulu, kerja, bikin orangtua bangga.”
            “Yakin, nanti kalau mbaknya sudah jadi orang berhasil akan dibukakan sendiri jalan jodohnya. Yang penting tawakal tapi tetap harus ikhtiar,.”
                      Perasaanku seperti diaduk-aduk, detik itu juga.
                Lucu juga cara Tuhan menamparku hari itu. Di saat aku sedang merasa letih dengan hidupku, ada seseorang yang kuyakin bukan karena sebuah kebetulan berbagi kisah hidupnya. Ketika aku sedang merasa penat dengan keluargaku, ada seseorang yang begitu menginginkan kehadiran sebuah keluarga di dalam hidupnya.
                Ketika aku merasa tidak ada yang bisa mengerti apa yang kupikirkan selama ini, ada seseorang yang memberikanku segala macam nasehat.  Sesuatu yang jelas singkat, tetapi sampai sekarang kalimatnya masih terus berkelabat.
                Hari itu aku menemukan satu lagi cerita, sebuah pelajaran hidup dari seseorang yang kutemui di TransJogja.
                Sampai aku turun dari halte semula aku berangkat,  mengucap kalimat perpisahan. Aku tidak tahu siapa nama Bapak itu. Sebelum turun, aku mengucap terimakasih berkali-kali untuk apa yang kudengar dari ceritanya.
                “Hati-hati ya Mbak!”
                Aku tersenyum. Turun dari bis yang kunaiki. Bebanku lebur.


                Yogyakarta, 9 Januari 2019


Hasil gambar untuk transjogja dalam fotografi

 pict from here
               

               
               
               
                 
               
               

               

               
               

               
               

Sabtu, 05 Januari 2019

Lampau


Suatu hari, di satu malam saat aku merasa hidupku sedang berantakan dan tidak baik-baik saja, kamu dengan berbaik hati datang menemuiku. Aku pulang dalam keadaan patah, membuka pintu rumah, lalu kamu menjadi yang pertama kali menyapaku tepat di balik pintu dengan matamu yang berbinar. Mengelus-elus kakiku. Seolah dengan begitu adalah suatu cara hingga kamu bisa berkata: “Jangan sedih, kan ada aku.”
                Aku tidak menghiraukanmu saat itu, tetapi kamu tetap bersikeras mengikuti. Aku sedang muak berbicara dengan siapa-siapa, jadi aku memilih tenggelam di antara bantal-bantal, sebab juga tak ada yang bisa kuajak bicara. Tetapi, kamu bersedia menungguiku di bawah tempat tidur. Seolah mengerti malam itu tak dapat kubagi kesedihan dengan siapa pun selain kepada dinding tembok.
                Rasa-rasanya, malam itu ingin sekali kubagi tangisku. Namun keras kepalaku membuatnya mengkristal, mengendapkan air mata yang seharusnya sudah bergulir berjatuhan. Kamu adalah temanku bercerita paling setia. Sebab sering kubagi keluhku padamu tiap malam ketika aku merasa letih, disaat menulis tidak lagi cukup efektif untuk membuat kesedihanku lekas pulih.
                Denganmu, aku tak butuh komentar-komentar atau kalimat-kalimat penghiburan yang membuatku merasa baik-baik saja atau semacamnya, kendati begitu aku tahu betapa tulus kamu mendengarku berbicara tanpa sekalipun memotongnya, tanpa sedikit pun terlontar kalimat dari mulutmu untuk menghiburku.
                Meski caraku bercerita adalah suatu hal yang mungkin tidak dapat kamu mengerti menurut caramu, aku tahu kamu bisa merasa. Kadang, kesedihan hanya butuh telinga. Dan kedua telingamu sudah lebih dari cukup bagiku.
                Pernah suatu hari aku di rumah sendirian. Tak ada siapa pun di sana, lalu tiba-tiba listrik padam. Aku nyaris panik dan ketakutan di kamarku, kemudian dengan begitu saja kamu bersuara. Berteriak  seolah memanggil nama dan mencariku. Kamu datang, aku merasa punya teman jadi tidak lagi ketakutan.
                Kamu adalah yang sejak kecil selalu kusayang-sayang. Yang kutemukan dengan tubuh belepotan dalam keadaan lapar. Kamu adalah yang setiap malam berteriak dari halaman rumahku, seolah mencari perhatian agar kuhampiri di saat aku sedang belajar di ruang tamu, kadang kamu masuk ke dalam tanpa permisi saat pintuku sedang terbuka dan tidak dikunci. Kamu adalah temanku bertumbuh di masa putih abu.
 Kamu tidak perlu lagi bertanya perasaanku padamu dulu sedalam apa. Kamu tidak akan pernah tahu bahwa aku menangisimu sampai sesenggukan, mengiba habis-habisan dan merasa bersalah pada diriku sendiri saat aku datang ke rumah dan melihat tubuhmu dalam keadaan terkapar.
Aku menangis dan berkata padamu berulangkali,
“Kalau kamu pergi, nanti siapa yang tak ajakin cerita?”
Hari itu, adalah titik dimana aku merasa asing dan sendiri. Kamu pergi, pada hari itu. Selama-lamanya. Aku seperti kehilangan sahabat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis sejadi-jadinya atas kepergian seseorang. Barangkali aku terlalu menghayal. Tapi kamu seperti bukan hanya sekedar ‘kamu’ di mata orang-orang. Kamu nyata dan hidup dalam semestaku. Sampai saat ini, setelah enam tahun berlalu. Kamu tetap di sini. Tidak kemana-mana.
Aku ingat saat hampir setiap hari aku mendapatimu di depan pintu rumah, menungguku  pulang sekolah. Aku ingat saat sampai pukul dua dini hari aku masih menghapal materi, dan kamu duduk di atas tumpukan buku-bukuku, menemaniku. Aku ingat pada setiap cerita yang kubagi bersamamu. Tentang hari-hari yang sesak, dan semua hal abu-abu yang bahkan tak pernah kubagi dengan siapa pun, kecuali denganmu.
Banyak hal yang kulupa, tetapi ingatan tentangmu menjadi hal paling menyenangkan saat aku mampu mengingatnya.
Baik-baik di sana. Mungkin, kamu sedang berbahagia di sana dengan ibu dan sudara-suadaramu.
Terimakasih sudah menjadi teman akrab  dalam kurun waktu yang tidak singkat.

Dari aku, seseorang yang memberimu nama ‘Karyok’-kucing kampung kesayangan yang tidak akan pernah tergantikan.







                 

               
               
                 

               

Kamis, 30 Agustus 2018

Nasi Goreng Khas Padang di Malang, Gurihnya Nendang!


sumber: dokumentasi pribadi

                Selain dijuluki kota wisata karena wisata alamnya yang keren dan mempesona, Malang juga terkenal dengan kulinernya. Salah satu kuliner yang paling banyak dijajakan di kota Malang adalah nasi goreng. Siapa sih, yang tak suka nasi goreng? Kuliner khas Indonesia ini begitu banyak digemari. Dari semua golongan dan latar belakang, nasi goreng memang selalu punya tempat istimewa di hati. Nah, di Indonesia makanan lokal dengan bahan dasar nasi bercambur bumbu rempah ini memiliki ciri khas yang beragam. Bahkan seiring dengan perkembangan zaman, nasi goreng berkembang menjadi berbagai varian cita rasa. Seperti nasi goreng merah, nasi goreng pete, nasi goreng ati, nasi goreng teri, dan masih banyak lagi.
                Tak sulit menemukan nasi goreng di kota apel ini. Banyak sekali pedagang kaki lima atau warung makan yang menyajikan olahan nasi goreng sebagai menu utama mereka. Apalagi saat malam hari, sudah menjadi pemandangan awam melihat penjual nasi goreng berjejer rapi di pinggir jalan. Nasi goreng seperti sudah jadi maskot makanan wajib yang paling banyak dicari. Bayangkan saja, hampir di setiap sudutnya, nasi goreng Malang selalu punya cerita.
                Tentunya setiap kedai nasi goreng punya ciri khas tersendiri. Tapi ada satu kedai khusus nasi goreng di Malang yang menyajikan menu nasi goreng yang lain dari biasanya. Bagi pecinta nasi goreng atau bukan, menu nasi goreng ini wajib dicoba karena menawarkan sensasi rasa yang berbeda.
Kedai tersebut bernama Palanta Junior, menyajikan menu nasi goreng padang yang cukup terkenal dan banyak diminati di Kota Malang. Tak sulit menemukan lokasinya yang terletak di Jalan Raya Sumbersari No.307. Dulunya nasi goreng Palanta Junior ini berjualan di sekitar belakang kampus ITN. Sekarang berpindah lokasi di perempatan Sumbersari. Sangat dekat dari kampus Brawijaya dan Sigura-gura. Letaknya dipinggir jalan di sebelah lampu lalu lintas persis, sehingga cukup strategis.
 Dari namanya saja sudah bikin penasaran kan? Lalu apa yang membedakan nasi goreng ini dengan yang lain? Berbahan dasar rempah khas padang membuat rasa nasi goreng ini lebih gurih dan beraroma. Meski bernama nasi goreng padang, tapi rasanya berbeda dari rasa rendang khas masakan rumah makan padang pada umumnya. Selain itu, dari segi tampilannya, nasi goreng padang ini memiliki karakteristik tersendiri.  Hal itu terlihat dari warna nasi yang cenderung lebih pekat dibanding warna nasi goreng biasanya karena campuran bumbu-bumbu rempahnya yang cukup kuat. Dilengkapi dengan timun, kerupuk, dan taburan bawang goreng diatasnya, membuat nasi goreng padang ini semakin menggugah selera.
                Bagi pecinta nasi goreng atau masakan padang, kuliner yang satu ini cocok untuk dinikmati selagi masih hangat di malam hari. Nasi goreng Palanta Junior ini buka dari mulai pukul enam  sore sampai empat pagi. Semakin malam, kedai nasi goreng yang banyak digemari ini semakin ramai. Khusus untuk anak rantau yang lapar tengah malam, menu yang satu ini cocok dijadikan pilihan.
                Selain cita rasanya yang gurih dan nikmat, harga yang ditawarkan pun cukup bersahabat. Untuk seporsi nasi goreng padang ditambah dengan telur cukup dibandrol dengan harga 14 ribu. Pembeli juga bisa request telur apa yang ingin dipesan. Dadar, ceplok matang, atau setengah matang? Bebas dipesan sesuai selera. Khusus untuk telur dadar, cita rasa yang ditawarkan pun sama persis seperti telur padang ala masakan Rumah Makan Padang. Kalau orang padang menyebutnya, lamak bana (enak banget)! Gimana tertarik mencoba?

Rabu, 22 Agustus 2018

Sendiri Itu Tidak Dosa

                “Nonton film ke bioskop harus berdua?”
                “Jalan-jalan ke toko buku, minum kopi di kedai kopi, nongkrong di kafe sambil menghabiskan waktu melakukan hal yang kamu suka, travelling ke luar kota. Sendiri. ”
                Salah?
                Kenapa perempuan senang membatasi dirinya?
                Padahal, kau punya kebebasan.
                Aku tidak tahu mana yang lebih menyedihkan. Kemana-mana sendirian, atau tidak berani sendiri kemana-mana? Kupikir, opsi kedua bukan pilihan.
                Sendiri itu tidak dosa, Sayang. Orang-orang saja yang salah mengartikan.
                Kau tetap bisa melakukan apa pun sendirian, menghabiskan waktu dengan dirimu sendiri, sekali pun kau punya pasangan. Kenapa takut dibatasi karena persepsi? Takutlah kalau kamu tidak bisa mandiri.
                Kau harus berani. Tangguh. Kuat.
                Bahkan seandainya ada seorang laki-laki yang selalu siap bersedia ada untukmu selama 24 jam penuh, kau tetap tidak boleh bergantung sepenuhnya pada mereka. Terbiasalah melakukan semuanya sendirian, sebisamu. Terbiasalah bergantung sepenuhnya pada dirimu sendiri.
                Sebab apa?
                Sebab kau harus cukup dewasa bahwa tidak semua orang akan siap siaga ada untukmu, begitu pun kamu yang tidak siap siaga selalu ada untuk mereka. Tak perlu menuntut apa pun dari orang lain. Selama kau bisa, lakukan dengan tanganmu sendiri.
                Kalau kamu masih kuat mengangkat air galon dengan tenagamu sendiri, lakukan.
                Kalau kamu masih bisa menjangkau suatu tempat dengan usahamu sendiri, pergilah.
                Kalau kamu masih bisa bersenang-senang tanpa membutuhkan orang lain untuk menemanimu, enjoyed it!.
                Hidup terlalu rumit untuk menjelaskan pada orang-orang kenapa dan mengapa, maka jangan sibuk dengarkan apa kata mereka.
                Aku bukan bermaksud melarangmu meminta bantuan orang lain, hei dengarkan ini: manusia itu makhluk sosial. Kamu tetap butuh mereka. Mereka juga butuh dirimu.  Yang ingin kutekankan di sini adalah, bahwa kalau kamu masih bisa mengandalkan dirimu sendiri untuk melakukan sesuatu, kenapa harus meminta orang lain untuk membantu? Sesederhana itu.
                Jadi, jangan takut sendiri.
                Sendiri itu tidak menyedihkan.
                Yang menyedihkan adalah, mereka yang tidak berani sendirian kemana-mana. 


pict from here
Malang, 22 Agustus 2018
20:40 WIB







               
               

               
               
               

Kamis, 16 Agustus 2018

Deadera (satu)


Kau masih ingat malam itu? Aku sedang duduk di salah satu gerbong kereta, menunggu keberangkatan kereta yang akan membawaku menuju Bandung. Kereta itu molor, menyisakan selang kebarangkatan beberapa menit lebih lama dari jadwal seharusnya.
Saat itu, Malang sedang dirundung cuaca dingin dan langit berwarna mendung. Kupikir sebantar lagi hujan akan turun. Itu berarti aku akan menikmati perjalanan kali ini dengan suasana sedikit melankolis. Kuputar lagu-lagu The Beatles melalui aplikasi Joox di ponselku untuk mendukung suasana. Memasang headset di kedua telinga. Sambil menghitung mundur dalam hati, kapan tepatnya kereta itu akan melaju.
Lima menit sebelum akhirnya masinis kereta menekan tuas kemudinya, seorang perempuan tiba-tiba berlari tergopoh-gopoh dari pintu gerbong dengan tas carrier dipunggungnya yang terlihat cukup bervolume. Waktu itu, aku tidak menyadarinya karena tiba-tiba saja ia sudah berdiri di depan lorong kursi tempatku duduk.
“Kursi nomer 16E. Boleh saya duduk?”
 Serta merta, demi bisa mendengar jelas ucapannya aku melepas headsetku.
“Boleh saya duduk?” ulangnya lagi.
Baru kemudian aku mengerti maksudnya, berdiri keluar dari tempat dudukku. Memberi ruang padanya agar ia bisa duduk di kursi dekat jendela. Nomor kursiku 17E.
“Maaf,” ia terlihat kerepotan mengatur letak carriernya. Meletakkannya di bawah kursi, hati-hati agar tidak mengenai kakiku.
“Boleh saya bantu angakat carriernya di atas? Mungkin akan lebih nyaman, kalau kamu nggak keberatan.” Aku menawarkan diri.
Ia mengangguk. Kuangkat tas carriernya ke atas tempat duduk kami.
“Nah sudah,” aku menatapnya sekilas sambil tersenyum.
Ia mengangguk, “Terimakasih.”
Kereta itu kelas ekonomi. Ada satu bangku lagi di depanku. Berhadap-hadapan, tapi tidak berpenghuni. Mungkin akan diisi oleh penumpang dari stasiun berikutnya.
Aku berniat melihat ke arah luar jendela, ketika tanpa sadar fokus mataku justru tertuju pada perempuan di sebelahku. Baru kusadari dari jarak sedekat ini, ternyata dia tidak seberantakan yang kukira. Tadi saat baru masuk ke dalam kereta, aku ingat rambutnya masih acak-acakan. Kini telah berubah menjadi rambut ekor kuda sebahu. Kapan ia mengikatnya? Entahlah aku tidak terlalu memperhatikan.
Ia memakai atasan baju kemeja kotak berwarna biru tua. Tampak kebesaran dipakai pada badannya yang terlihat kurus. Di pergelangan tangannya, berjejer rapi gelang berwarna-warni. Matanya dibingkai kacamata berframe persegi. Wajahnya, ah! Aku tidak bisa lebih detail mendeskribsikannya sebab ia lebih asik memalingkan wajahnya ke arah  jendela.
Aku ingin mengajaknya ngobrol, sekedar basa-basi. Kupikir, itu bisa menghilangkan sedikit kejenuhan di kereta. Hei, empat belas jam di kereta tanpa ngobrol sepatah kata pun dengan orang yang duduk di sebelahmu terdengar ganjil sekali bukan?”
“Mau ke Bandung juga?” aku memberanikan diri bertanya.
Ia sedikit terperanjat mendengar suaraku. Waktu itu, aku jadi sadar dia sedang melamun. Entah memikirkan apa.
“Iya, saya mau ke Bandung.”
Demi kode etik, dia menoleh ke arahku. Tepat saat itu, saat ia menoleh menatapku, aku jadi menyadari sesuatu. Bukan, bukan karena perempuan di sebelahku ini ternyata berparas menarik. Tapi dengan jelas aku bisa melihat matanya yang sendu di balik kacamata itu.
“Kamu menangis?”
Masih ada sisa bulir air mata di kelopak mata bawahnya, meski aku tahu sebelum menoleh ke arahku ia sudah berusaha menghapusnya. Tapi meski terhapus semuanya, aku tetap bisa mengetahui ia baru saja menangis dari kantung matanya yang sembab.
“Oh enggak, saya cuma agak sedikit pilek. Jadi mata saya berair.”
Aku bukan anak kecil, aku tahu dia berbohong.
“Ke Bandung mau ke kemana?” ia buru-buru mengalihkan topik, ganti bertanya
“Kamu menangis?” aku mengabaikan pertanyaannya. Bertanya lagi.
Dia menggeleng. Baiklah, ini agak sedikit lebih rumit. Jadi aku akan berhenti bertanya.
“Namaku Rey,” aku mengulurkan tanganku.
“Dea,” ia menyalamiku.
“Dea?"
“Deadera.”
Langit mulai gelap saat  itu, gerimis turun dan hujan mulai mengguyur kota Malang. Perjalanan ini masih terlalu panjang. Perempuan bernama Dea itu tidak tahu bahwa  tiga puluh menit ke belakang aku sibuk memikirkan topik obrolan supaya ia berhenti memalingkan muka ke arah jendela. Membuyarkan fokus lamunannya agar ia tidak punya kesempatan lagi untuk menangis. Ini terdengar konyol dan agak sedikit gila, karena kenapa aku harus mempedulikan seseorang yang baru menghabiskan waktunya kurang dari satu jam bersamaku di kereta?
Ayolah, aku hanya tidak suka melihat perempuan menangis. Apalagi, jelas-jelas dia duduk di sebelahku. Meski aku tidak mengenal dia sebelumnya, tapi aku seperti bisa merasakan ada beban berat yang sedang bertumpu dipundaknya. Meski aku tidak tahu apa.
“Kamu kuliah di Malang juga?”
“Suka makan ayam nelongso?”
“Kalau STMJ Ijen?"
“Pernah nyoba mi soden di depan Selecta nggak?”
“Kapan-kapan kamu harus ke Brewok, kue pancong dan kopi kapitennya juara!"
 “Ada nasi goreng padang enak di Sumber Sari. Kamu pernah coba?"
“Kamu suka pergi ke Batu? Pernah naik paralayang belum?”
Aku menanyakan banyak hal padanya, dan payah sekali karena aku cuma bisa bertanya hal-hal sepele yang bahkan bisa ditanyakan oleh anak SD. Dia hanya menanggapi pertanyaanku seperlunya. Sesekali cuma menggeleng dan mengangguk. Aku tidak peduli meski aku tidak pandai membuat lelucon, aku hanya ingin menghiburnya sebisaku.
Ia tersenyum sesaat, menatapku agak sedikit lama.
"Terimakasih,” 
Sebentar, aku tidak salah dengar kan?
“Terimakasih karena aku tahu kamu sedang berusaha menghiburku. Tapi sepertinya, kamu nggak perlu repot-repot. Aku nggak semenyedihkan yang kamu lihat,” ia tertawa pelan.
Aku diam. Siapa pun yang melihat sendu matanya, pasti akan melakukan hal yang sama.
“Bagaimana rasanya pulang?,” ia tiba-tiba bertanya.
Dahiku berkeryit, tidak mengerti maksud pertanyaannya.
“Maksudku bagaimana perasaanmu saat kamu pulang? Apa kamu senang?”
Tentu saja aku senang. Pulang adalah sebaik-baik cara untuk menghilangkan segala kalut dan resah. Tempat berlindung paling nyaman dari kerasnya dunia yang kadang membuatmu merasa terlalu kecil di luar sana.
“Jelaskan padaku, aku cuma ingin tahu bagaimana rasanya.”
“Seperti, waktu kamu dapat hadiah ulang tahun setelah menunggu satu tahun di ulang tahunmu berikutnya. Kamu megerti kan?”
Dea menggeleng, “Aku nggak bisa merasakan perasaan semacam itu.”
"Bahkan meski sekarang aku sedang berada di kereta, aku tetap merasa tubuhku bukan di sini.”
“Apa maksudnya?”
Dia menggeleng, “Bukan apa-apa, kamu nggak ngantuk?”
Aku menelan ludah, mengira dia akan bercerita lebih banyak, ternyata dugaanku salah. Ia lagi-lagi justru mengalihkan  topik pembicaraan ke lain hal.
“Kamu mau tidur? Maaf sudah membuatmu mengobrol,” Aku merasa bersalah. Wajahnya terlihat lelah sekali.
“Nggak apa-apa,” ujarnya sambil tersenyum.
“Saya tidur dulu ya,”
Ia kemudian menyenderkan kepalanya di samping jendela. Perlahan memejamkan matanya. Aku tidak tahu dia tidur sungguhan atau hanya sedang berusaha mengindari percakapan denganku. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada aku harus melihatnya terus-menerus menatap ke luar jendela, sambil sesekali menyeka air matanya. Diam-diam, aku mengamatinya saat ia sedang tertidur. Damai dan meneduhkan. Padahal, dari sedu sedan matanya, hatinya sedang berantakan. Belum pernah aku merasa sekacau ini hanya karena memandang cara tidur seseorang. Ya Tuhan, kenapa dadaku tiba-tiba berdebaran?
               
                  Hasil gambar untuk train tumblr
pict from here


17/08/2018, 3:20
Malang, 18 derajat



               
               
               
               
               
                 
               
               
               
               
               
               

Senin, 06 Agustus 2018

Enam Agustus yang ke Dua Puluh Satu Kali untuk Putri

Sebelum kamu membaca ini sampai selesai, pertama-tama aku ingin bilang padamu bahwa aku bersyukur sebab telah terlahir seseorang seperti 'kamu' di dunia.  Kabar baiknya, kamu ditakdirkan menjadi sahabatku.

Hari ini, umurmu dua puluh satu. Cepat sekali waktu berlalu karena rasa-rasanya baru kemarin kita menghabiskan waktu bermain di sawah seharian, mamanjat pohon jambu milik tetangga, mencari ikan sapu-sapu di sawah dekat rumahmu. Rasanya baru kemarin kita bercerita banyak hal tentang hal-hal yang akan kita lakukan saat kita dewasa, berbagi mimpi-mimpi dan semua hal yang ingin kita raih di masa depan nanti. Cepat sekali karena seperti baru kemarin kita sama-sama berpose memakai seragam wisuda esde. Terlalu banyak hal menyenangkan, suka-duka yang kita lewati bersama sejak masih kanak-kanak, remaja, hingga sekarang menginjak dewasa.
Beruntung aku mengenalmu sebagai seorang sahabat. Salah satu perempuan kuat yang berjasa dalam hidupku sebab selalu menguatkanku. Aku sungguh berterimakasih untuk banyak hal yang kamu lakukan untukku selama ini, untuk setiap ceritaku yang bersedia kaudengar tanpa mengenal kata bosan, untuk semua semangatmu demi membuatku bangkit kembali saat kubilang aku hampir menyerah. 

Hari ini, usiamu dua puluh satu. Tidak ada pesta perayaan dan lempar tepung yang bisa kulakukan seperti saat dulu aku masih tinggal di Jogja. Tapi kalau boleh jujur, aku ingin mengulanginya lagi. Memberimu kejutan bersama anggota geng yang lain, menghabiskan energi dengan tertawa sampai larut malam, lalu pulang dengan dada yang masih tetap penuh dengan letup kebahagiaan. Sebab bagi kita semua 'bahagiamu adalah bahagiaku juga.'


Hari ini, usiamu dua puluh satu. Terlalu banyak doa yang akan terlalu panjang jika kutuliskan. Tapi yang pasti kamu tahu, aku mendoakanmu bahagia selalu. Semoga setelah ini dan seterusnya, hidupmu semakin dipenuhi berkah yang berlimpah-limpah. Semoga diberi kekuatan untuk menjadi semakin kuat. Semoga apa pun yang kamu semogakan segera terealisasikan. 

Tetap jadi Putri yang rendah hati dan makin bermanfaat untuk banyak orang. Tetap jadi perempuan tangguh, penyayang, dan berdiri diatas kakinya sendiri. Tapi yang terutama, tetap jadi dirimu sendiri. Kamu hebat tanpa harus jadi orang lain. Kamu cantik apa adanya dirimu. Selalu bersyukur, dan jangan lupa bahagia. Sebab kamu istimewa.


Selamat ulang tahun Putri Sola Agustin,

Bahagia selalu.

Peluk jauh dan hangat dari Malang yang dingin.

Sahabatmu yang terseksi,
Sinta IF


Image may contain: 1 person, smiling, closeup








Bagaimana Kalau

Malam ini, seluruh tubuhku menggigil. Tidak ada musim dingin di kotaku, tapi aku seperti bisa merasakan sensasinya setiap kali suhu ruangan berada tepat di bawah angka lima belas derajat celcius. Seperti malam ini, dan beberapa malam lain yang sudah-sudah.
Jauh lebih mudah kulalui seandainya aku tidak sedang mengingatmu. Meski sudah terlalu lama, tapi biarkan laju memori otakku bekerja.
            Kau dulu pernah bertanya, “Kapan kamu pulang?”
            Kubilang, “Aku tidak tahu,”
            “Kamu tidak merindukan kotamu?”
            Aku menggeleng, “Belum, nanti barangkali.”
            “Kalau kamu pulang, aku mungkin sudah tidak di sini lagi,”
            “Kamu mau kemana?” kutanya.
            “Ke suatu tempat yang jauh, ada mimpiku di sana.”
            Terus terang saja aku mendadak kehabisan kata-kata.
            Tanpa berani bereaksi.
            Terlalu ciut nyali.
            “Kalau aku pergi, kamu bagaimana?"
        Aku terdiam lama. Aku tidak tahu maksudmu apa, jadi kutanya lagi, “Bagaimana apa?”
       “Bagaimana kalau kamu pulang, aku tidak bisa menemuimu?” di ujung telepon, suaramu bergetar. Aku tak cukup peka untuk mengenali pita suara manusia, tapi aku bisa merasakan nada suaramu berbeda.
            “Tidak apa-apa, aku akan menyapamu di telepon.”
            “Kamu tidak ingin menemuiku?”
            “Kapan-kapan mungkin, kalau ada waktu.”
            Lalu kamu tertawa. “Kenapa kamu selalu tidak bisa menjawab hal-hal yang bisa membuatku senang saat mendengarnya?”
            “Semacam apa?”
            “Ya aku ingin menemuimu. Sesederhana itu tidak bisa?”
            “Apakah harus?”        
       Kamu menggeleng, “Tidak, aku hanya sedang ingin menyenangkan diriku sendiri saja.”
            Hening. Saling terjebak dalam pikiran masing-masing.
            “Sudah, tidurlah. Berhenti begadang.”
            “Kau juga.”
            “Satu lagi,”
            “Apa?”
            “Kau anggap aku sahabat kan?”
            “Ya,"
            “Kalau begitu, doakan sahabatmu ini lekas punya pacar supaya dia tidak lagi mengusik orang yang selalu menganggap dirinya sahabatnya. Deal?”

           Aku pura-pura tertawa. Tapi diam-diam menangis dalam hati. Ah sial! Kenapa begitu mudah membohongi diri sendiri?

Image result for tumblr girl leaving

            

           
           

           
                       


Selasa, 10 Juli 2018

Teruntuk Seorang Sahabat yang Menamakan Bonekanya 'Bobi'


                Hallo, Mega Isma Juwita!
                Kalau kamu membaca ini, aku mau meminta maaf karena tidak memberimu ucapan di hari spesialmu. Aku ingat, ulang tahunmu tanggal 7. Hanya saja, aku berniat ingin memberimu ucapan pada detik-detik terakhir di tanggal ulang tahunmu. Jadi aku menunggu tengah malam untuk memberimu ucapan, tapi ternyata  begadang sampai pukul empat pagi untuk  mengerjakan revisi, dan bangun jam 7 untuk melanjutkan mengerjakan lagi seharian agar aku bisa ikut yudisium  membuatku tepar. Jadi, aku melewatkan ulang tahunmu. Maafkan.
                Lewat tulisan ini, aku ingin menebus permintaan maafku, jadi....

                Selamat ulang tahun, ya!
              Semoga di usiamu yang sudah tidak lagi muda ini (ahzeg tua! :p), kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga segala keinginanmu terwujud. Semoga bisa menjadi kebanggaan untuk orang-orang yang kamu cintai, dan mencintaimu. Tetap jadi orang baik dan jangan bosan berbuat baik. Makin bermanfaat untuk banyak orang! Percayalah, suatu hari nanti akan datang seseorang yang datang di hidupmu, lalu ia berkata “aku beruntung pernah mengenalmu,”
                Termasuk aku.
                Terimakasih karena sudah berbaik hati untuk mendengar segala keluh kesahku selama ini. Terimakasih sudah mengulurkan telinga, menjadi orang yang mengertiku dengan sabar meski seringkali aku membosankan. Terimakasih sudah menjadi sahabatku Meg! Lucky me to have a bestfriend like you!
                Terlalu banyak doa yang akan sangat panjang jika kutuliskan. Tapi satu intinya: semoga kamu selalu bahagia. Semoga nanti aku bisa melihatmu bahagia dengan seseorang yang mencintaimu dan kamu cintai, jika sudah tiba waktunya. Dan semoga itu ‘dia’ ya Meg! Aamiin.

                Sekali lagi, selamat 21 tahun.



                Your sexiest friend,
                Sinta IF

               
               

      

Kamis, 31 Mei 2018

Kenapa Aku Harus Menulis?

Tidak pernah mudah menjadi seseorang yang lebih banyak membungkam mulutnya demi kata-kata. Tidak pernah menyenangkan menjadi seseorang yang hanya punya cukup keberanian untuk menuangkan pemikiran dan isi hatinya lewat tulisan. Meski semua orang tahu bahwa menulis adalah keberanian. Keberanian menjadi diri sendiri. Berani merdeka dibalik kata-kata yang dituliskannya.
            Barangkali, aku punya sindrom khusus yang membuatku kesulitan mengungkap maksud perkataanku lewat lisan. Sehingga aku lebih banyak memendam. Pun jika harus terpaksa kuluapkan, aku harus bersikeras memutar otak, agar orang-orang bisa mencerna apa maksud dan mauku. Semua itu, hanya bisa kulakukan saat aku menulis.
            Dengan menulis, segalanya terasa lebih mudah. Seharusnya, aku menyadari sejak awal bahwa menulis adalah murni keharusan. Tidak peduli apakah itu hobi yang harus ditekuni, tidak peduli apakah nantinya seseorang yang membuat tulisan akan benar-benar menerbitkan sebuah buku dan menyebut dirinya sebagai penulis.
            Seharusnya, menulis adalah pekerjaan yang kata –Pramoedya- adalah bekerja untuk keabadian.  Jadi, mau tak mau, suka tak suka, menulis saja. Setidaknya bebanmu akan berkurang saat paragraf demi paragraf yang bersumber dari keresahan dan kegundahanmu itu dapat tertuang.
            Menulis adalah sarana yang membuatmu bebas bercerita tanpa harus butuh telinga untuk didengar. Menulis adalah sarana untuk berlatih jujur pada dirimu sendiri. Menulis adalah bahasa paling rumit yang tidak pernah mudah dipahami oleh orang-orang yang tidak terbiasa menulis, tapi ketika seseorang telah menganggap menulis adalah sebuah candu, maka ia akan dengan mudah mengerti maksud dari isi tulisan orang lain tanpa harus sibuk menerka-nerka apa maksud dibalik tulisannya.
            Aku mengerti bahwa ketika aku menulis, menuangkan perasaanku dalam deretan aksara, aku tidak butuh lagi pengakuan untuk didengar oleh orang lain. Cukup aku dan tulisanku, dan bagiku itu sudah lebih dari cukup. Dan ya, satu lagi. Menulis adalah cara paling mudah untuk menangis, tanpa sibuk menguras dan menyeka air mata. Begitu kan?
            Di satu sisi, kadang aku merasa aku adalah seorang introvert. Orang-orang yang suka menulis erat kaitannya dengan 'introvert'. Aku punya sebuah dunia rahasia yang selalu kututup rapat-rapat bahkan pada beberapa orang yang kuanggap cukup dekat. Aku membaur, tapi di saat yang sama juga memiliki sekat. Aku berteman dengan banyak orang, tapi satu-satuny teman yang paling kupercayai adalah diriku sendiri.
            Aku ingin menyebut diriku sendiri introvert, tapi aku tidak membenci keramaian. Aku tidak senang mengisolasi diri sendiri. Aku mencintai kebebasan dan senang mengobservasi orang-orang.
            Hanya kadang-kadang, pada saat-saat tertentu aku begitu menyukai hening, sepi, dan senyap. Aku menyukai ritual minum kopi di kedai kopi, duduk diam menyendiri sambil berhadapan dengan layar selebar empat belas inci. Aku  butuh ruang dan waktu khusus untuk sementara waktu menepi dari hingar bingar, menghindar dari keramaian. Meski seringkali mendapat sorot tatapan aneh saat aku pergi sendirian di kedai kopi, atau jalan-jalan ke suatu tempat seorang diri.
            Aku sedang belajar menerima dua sisi dalam diriku yang berbeda. Entah pakar psikologi menyebutnya Ambrivert atau bagaimana. Tapi satu hal yang bisa kusimpulkan dari diriku dan ada hubungannya dengan menulis adalah; semua orang bisa mendengarkanmu bercerita tentang apa pun, tapi tidak semua orang bisa mengerti dirimu. Sementara saat kamu menulis, setidak mengerti apa pun orang-orang saat membaca tulisanmu, setidaknya kamu bisa memahami dirimu sendiri.
            Dan bukankah tidak ada pemahaman yang lebih menghibur hati, selain memahami diri sendiri? Menulis itu tidak mudah memang, tapi akan lebih tidak mudah lagi jika kita tidak menulis.  
           


Malang, Dialectica Synergy
01/06/2017
1:03 WIB

    
Hasil gambar untuk tumblr coffee and laptop
pict from here
 

SKETSA TANPA RUPA Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger