Minggu, 01 September 2013

Biodata Cinta

Jadi siang itu di sela-sela pelajaran bahasa Indonesia Tono menawari kami beberapa lembar kertas berisi biodata. Tepatnya menawari Azizah, Rey dan aku. Tempat duduk Tono dan Rey saat itu masih di belakang mejaku. Maka demi memerhatikan penawarannya aku dan Azizah menoleh ke belakang dan mendengarkan dia berorasi layaknya seles sedang menewarkan produk dagangannya.
"Aku punya biodata lho, kalian mau ngisi nggak?" katanya riang sambil memamerkan kertas ditangannya kepada kami bertiga.
"Apa tuh?" bingung aku bertanya.
"Ini biodata cinta. Kalian pada ngisi ya?" bujuknya pada kami.
Aku memerhatikan kertas itu dengan rinci, kuraih satu lembar dari tangannya. Kemudian membaca tulisan disana. Dan betapa kagetnya aku karena-sumpah-isi biodata itu benar-benar sukses membuatku ngakak terpingkal-pingkal.
"Ahahaha, apaaan nih?" aku mulai bertanya, "masa ada pertanyaan jumlah mantan pacar, nama pacar siapa terus sama orang yang disukai siapa sih? haha, nggak mutu banget biodatamu!" aku masih tertawa, Tono mengeryitkan dahinya.
"Heh, jangan ngeledek ya! Itu biodata bagus tau! Kamu isi deh, kalian juga. Ya?"
Aku masih sibuk mengamati biodata itu sambil geleng-geleng kepala sendiri. Selain pertanyaan-pertanyaannya yang absurd, biodata itu juga terkesan lucu sekaligus nggak nguatin. Selanjutnya pandanganku beralih pada dua orang yang daritadi mendengarkan instruksi Tono dengan takzim. Kulihat wajah mereka berseri-seri, terlihat sekali kalo mereka memang sangat antusias mengisi biodata itu. Dasar!
"Nih! Isi ya!" Tono mulai membagikan kertas itu pada kami.
Sekilas kulirik Azizah yang langsung mengambil bolpoint begitu biodata itu dibagikan.
"Serius mau kamu isi Zah?"
"Iya dong."
Pandanganku kuedarkan lagi ke arah Rey. Dia nampaknya juga tengah asyik dengan biodata ditangannya. Ya ampun, kesambet apa sih mereka?
Mereka sudah mulai mengisi tiap-tiap pertanyaan dari biodata itu ketika aku masih dengan santainya melirik iseng ke arah jawaban mereka dan belum mengisi apa-apa.
"Zah serius kamu mau ngisi kalo yang kamu suka itu Rey?" aku berbisik-bisik kearahnya. Azizah nyengir entah apa maksudnya. Aku lupa apa yang dia isi disana untuk pertanyaan siapa orang yang kamu sukai dari biodata itu. Tapi yang jelas, tangannya masih terus bergerak menuliskan isi dari tiap-tiap pertanyaan.
Berhubung biodata ditanganku masih kosong dan Tono si empunya biodata terus-menerus memaksaku untuk mengisi biodata itu maka aku menyerah. Terlintas ide cemerlang dipikiranku. Oke, bukannya dia tadi bilang disuruh ngisi sejujur-jujurnya dan setahu-tahunya? Berhubung aku nggak tahu mau kuisi apa biodata itu jadi aku memutuskan untuk nggak menjawab satu buah pertanyaanpun yang ada. Nehi!
Dengan cepat aku mengisi biodata itu dengan menuliskan tanda setrip untuk setiap jawabannya. Intinya aku nggak menjawab apa-apa, cuma kutulis tanda setrip. Iya tanda setrip. Karena nggak tau kenapa, sejak awal tadi firasatku sudah nggak enak.
Tono mengomandoi kami untuk segara mengumpulkan biodata itu. Tiba giliranku wajahnya cemberut.
"Lho, kok kosong sih Sin? Kan aku minta diisi!"
"Hahaha, nggak ah! Aku bingung mau ngisi apa. Tanda setrip aja ya!"
Wajahnya masih cemberut tapi akhirnya bilang juga, "Yaudah deh sini, kalo nggak mau kamu isi biar aku aja yang isi!"
Aku terkekeh. Tono segera mengambil bolpoint dan mengisi biodata itu. Aku benar-benar heran, kayaknya tiga orang yang mengitariku ini benar-benar lagi kesambet makhluk aneh entah dari atmosfer mana.


Dan ternyata firasatku terbukti. Nggak berselang lama saat Tono tengah mengisi biodata itu, kudengar suara Bu Rub memanggil kami.
"Kalian sedang apa? Itu kertas apa yang kalian bawa?"
Deg! kami bertiga panik. Salah sendiri pas jam pelajaran gini masih sempat-sempatnya melakukan kekonyolan seperti ini. Astaga!
Kami cuma bisa pasrah saat Bu Rub akhirnya berjalan dan mendekati meja kami. Tangannya menyamber biodata-biodata yang telah terisi tadi dari atas meja. Tono kelihatan pucat, Rey dan Azizah apalagi. Gimana nggak? Mereka kan sudah mengisi biodata-biodata itu?
Bu Rub tercenung beberapa saat ketika memandangi kertas itu.
"Biodata Cinta!" entah memang disengaja atau tidak, beliau membaca judul biodata itu dengan suara keras. Sehingga teman-teman kami yang lain bisa mendengarnya. Reaksi yang mereka berikan  nggak lain dan nggak bukan adalah tawa riuh cekikian.
Aku nggak bisa menjelaskan gimana gondoknya Tono dan kedua makhluk polos itu. Wajah mereka bertiga sudah merah meriah mirip kepiting rebus dihinggapi rasa malu dan menyesal karena telah mengisi biodatanya.
 Fiyuuuuhhh. Tuhan terimakasiiih! Bersyukur sekali lagi karena akhirnya-meski ikut terlibat-aku selamat. Coba kalo tadi aku mengisi biodata itu dan bukan Tono yang gantian mengisinya? Pasti jawabanku tadi akan terbaca oleh Bu Rub dan bisa jadi teman-temanku yang lainnya.
Melihat wajah mereka yang memelas begitu aku merasa iba sekaligus menahan tawa. Hahaha, lagian siapa suruh mengisi biodata super nggak penting itu?
Beruntung, karena Bu Rub hanya membaca judul biodata itu dan bukan data didalamnya. Tapi meski begitu, tetap saja biodata-biodata itu akhirnya disita juga. Kami berempat saling beradu pandang nyaris tak percaya begitu melihat Bu Rub berlalu sambil membawa tiga lembar biodata itu.
Kali ini cuma mereka bertiga yang saling bertatapan dengan mimik muka memelas. Saling menatap-menunduk-menatap-menunduk lagi. Begitu seterusnya. Kuperhatikan ekspresi Azizah dan Rey yang kompak memandangi Tono dengan muka jengkel. Haha, maklum saja biang keroknya kan si Tono? Coba kalo dia nggak bikin biodata itu dan membujuk kami untuk mengisi, pasti nggak akan seperti ini. Tapi tunggu! Salah sendiri mereka berdua mengiyakan bujukannya? Hahaha. Kupandangi lagi mereka satu persatu.
"Tuh kan aku bilang juga apa? Untung punyaku nggak kuisi. Jadi aku aman! Horeeee!" aku berujar penuh kemenangan. Mendengar kalimatku mereka bertiga melengos. Mungkin jengkel karena disaat-saat seperti itu justru cuma aku yang masuk ke zona aman. Dan mungkin juga menyesal karena seharusnya mereka mau mendengar nasehatku sedikit agar berpikir dua kali untuk mengisi biodata supernggakjelas itu.
Hahaha, Aku bahkan tertawa lagi mengingat kejadian itu saat ini. Konyol! Aku jahat ya? Gimana nggak ngakak, kalian konyol begitu! *sigh
21.29 WIB
Langit Senja :D








Senin, 05 Agustus 2013

Kepadamu Motivatorku, Terimakasih

Kalau kalian bertanya kenapa saya suka menulis? alasannya sederhana; menulis adalah bagian dari hidup saya. Karena saya memahami, kehidupan tak melulu soal realita tapi juga fiksi. Kalau ada yang bertanya, "kamu mau jadi penulis?" saya hanya bisa mengaminkannya dalam hati atau kadang dalam lisan, cukup tersenyum lantas menganggukkan kepala.
Menulis adalah cita-cita saya sejak saya kelas tiga esde. Dulu, sebelum tidur ibu saya suka bercerita, bukan dongeng. Melainkan kisah-kisah yang tokoh-tokohnya diimajinasikan sendiri oleh Ibu. Mendengar ceritanya sebelum tidur, membuat saya senang bermain-main imajinasi. Bahkan sebelum Ibu memulai kebiasaannya untuk bercerita, semenjak kelas tiga saya sudah tertarik dengan dunia tulis menulis.
Berhubung dulu belum ada fasilitas menulis seperti sekarang( baca; laptop) jadi saya lebih sering menulis-nulis dikertas kosong. Atau kertas apa pun, yang penting saya bisa mencoret-coretkan imajinasi di dalamnya.
Setiap kali ditanya hobi, saya pasti akan menjawab "baca dan menulis." lalu seorang guru pernah bertanya, "buku pelajaran ya?" saya menggeleng tegas. "Bukan! Buku cerita!".
Dan kebiasaan menulis itu pun masih berlanjut sampai sekarang. Tentu saja, banyak hal dan kesempatan yang sering saya lewatkan dalam dunia kepenulisan. Saya ini tipikal orang yang tidak punya rasa percaya diri tinggi, sering gengsi. Jadi, begitu ada ajang kepenulisan di tingkat smp atau forum-forum umum lainnya, biasanya nyali saya sudah menipis. Menciut.
Beberapa teman dan kerabat pernah  berkata, "kenapa nggak coba dikirim di majalah atau koran lokal aja? Siapa tahu dipublik?"
Mendengar kata-kata publikasi sebuah karya saja, kupu-kupu di kepala saya sudah penuh sesak berterbangan. Bayangkan, apa yang lebih membahagiakan bagi seorang penulis selain karyanya diapresiasi, dinikmati, lalu disana tertera namanya sebagai tokoh penciptanya? Sungguh, kebahagiaan dari mereka yang menulis sebenarnya sederhana.
Tapi hingga saat ini saya belum mencobanya. Saya masih harus terus belajar. Menulis dan menulis. Lagi, saya menulis adalah untuk diri saya sendiri. Untuk sesuatu yang melegakan jiwa saya ketika saya menulisnya. Soal seberapa puas seorang pembaca terhadap karya saya itu adalah urusan kesekian. Selebihnya saya menyerahkan pada mereka untuk mengapresiasi sendiri. Simple.
Seperti yang pernah Dee bilang, "Saya menulis apa yang ingin saya baca, bukan apa yang ingin mereka tulis."
Jadi, terimakasih untuk kalian semua yang sudah berbaik hati mengunjungi blog saya yang super sederhana ini. Membaca beberapa postingan yang saya tulis, memberi apresiasi yang membuat saya sedikit lebih bangga atas apa yang sudah saya tulis. sungguh terimakasih.
Terimakasih untuk setiap masukan, kritik dan saran. Untuk setiap kata motivasi dan semangat untuk tetap terus menulis. Yang bersikeras meyakinkan saya bahwa tulisan saya layak baca ketika saya berpikir tulisan saya tidak sebagus tulisan lain. Guys! kalian adalah semangat saya! 
Teman-teman sepuluh bhe, khususnya yang sering membaca tulisan saya; aqshal, syafa, faris, arum, rika, vio, abed juga yang lainnya. Pun meski tidak membaca apa yang tulis, saya tahu kalian semua adalah motivator saya untuk menulis.
Kalau kalian tahu, disaat saya mulai malas menulis, kehilangan semangat merangkai kata-karena kalian dan apa yang kalian motivasikan-membuat saya seketika bangkit lagi. Lalu menulis dan menulis lagi. begitu seterusnya.
Maka, apa yang lebih membahagiakan dari memiliki teman-teman sebaik dan sehebat kalian? Kalian adalah teman-teman saya yang baik, terimakasih. Sekali lagi terimakasih.
Saya masih akan terus menulis, entah apa profesi saya kelak, entah akan jadi apa saya nantinya saya tetap akan terus menulis. Karena bagi saya, menulis bukanlah profesi, tapi kebutuhan.
Doakan saya, hingga suatu saat nanti kalian akan menemukan nama saya tertera ditumpukan buku-buku yang kalian baca. Dan saya bisa menyaksikan sendiri, ada nama saya disana-dibuku yang saya tulis itu-bak melihat bintang kejora, mata saya seolah bergemerlapan karena begitu terharunya. Suatu saat nanti. Pasti!
Ini juga sebagian dari mimpi, selama Tuhan masih menciptakan bulan untuk dipijaki astrounout, buat apa takut bermimpi!?
-----

Tadi sore, selepas memposting tulisan saya yang berjudul "Mengertilah Kamu Indah", beberapa komentar bermunculan. salah satunya adalah Faris, teman saya di kelas sepuluh bhe-sekaligus sohib saya berbuat keonaran juga kebadungan di kelas ( peace Ris! haha). Dia bilang minta ijin men-share postingan saya, katanya biar saya terkenal . haha, saya lantas tertawa cekikian sendiri. Mengiyakan komentarnya, lalu bilang terimakasih.
Setelahnya, dipostingannya yang berisi postingan saya tadi Febriana (lo harus bersyukur, disini gue gak manggil lo dengan sebutan L.... lagi) teman sekelas saya yang sama gilanya dengan saya-sekaligus partner paling setia saya bermain poker dibelakang kelas-ikut berkomentar. 
Dia menuliskan link blog saya, lalu mendoakan saya biar jadi penulis sukses. Saya sungguh terharu, lalu mengaminkan doanya. Masih saya baca disana sebuah komentar Faris, yang membuat saya sedikit keki, katanya "dilogika ajadeh, cewek tomboy bisa bikin notes kayak gitu? heran aku." saya lalu menghela napas pendek, antara senang dan sedih, kurang peminim apa aku iniii? aku seksi begini dibilang tomboy? *maaafamnesia*
Baikalah. Inti dari posting ini sebenarnya adalah ucapan terimakasih. Tidak mungkin saya menuliskan betapa banyak rasa terimakasih saya yang keluar dari dalam hati. Sekali lagi sungguh terimakasih. Sekian. Selamat malam.
0.34
Langit senja, Yogyakarta
06/08/2013



Kamis, 25 Juli 2013

Kangenku yang Tak Segera Kamu Gubris

Kangenku yang mana lagi yang nggak segera kamu gubris?- Chinatsu Shintaro (@GueD5)
Halo Tuan, selamat malam!
Aku nggak tahu apa yang sedang kamu lakukan sekarang, bagaimana kabarmu dan apa kesibukanmu.
Tuan, sudah berapa lama kita tak jumpa? Kamu bisakah menghitungnya? Berapa detik? Menit? Atau mungkin jam?
Aku nggak tau kenapa waktu memerankan perannya dengan begitu antagonis. Dia berjalan cepat, tanpa memberiku sedikit jeda untuk tahu apa artinya luka.
Yang aku tahu, luka adalah jarak ketika sejengkal jemari antar dua orang menjelma menjadi jarak antara langit dan bumi.
Seakan waktu adalah benda hidup yang berotasi tanpa partikel. Melebur begitu saja, menciptakan ruang kosong yang tak terdefinisi.
Tuan, aku menyerah dibatasi ruang, aku menyerah dibatasi almanak usang.
Karena kangen ini begitu magis menyita tiap rotasi dikepalaku; segalanya berputar kamu.
Kamu mungkin nggak tahu siksa dari sebuah rindu, tapi aku merasakannya selalu.
Kangenku kini entah sudah yang keberapa ratus kali. Meski kamu yang menjadi obyek kangenku belum tentu tahu sama sekali.
Jadi, kangenku yang mana lagi yang nggak segera kamu gubris? Sepertinya memang begitu adanya, Tuan, aku nggak hiperbolis.
Cukup
Akan aku sampaikan isyarat rinduku lewat sepoi angin malam yang menelisik pelan melewati celah jendelaku
Pada guguran ranting-ranting kecil yang jatuh ditelapak tanah
Di langit-langit kamar atau mungkin dinding-dinding tembok yang menggigil
Dan kalau aku lebih beruntung lagi
Barangkali aku bisa mengisyaratkan rindu melalui gendang telingamu
Berkata pelan diselingi kata lucu
“Aku kangen kamu.”
24-06-2013 21.45 WIB
Ini hanya celoteh anak abege
Diantara waktu luang
Dan rasa kangen yang menyerang
Kata-kata ini untukmu, Tuan
Langit Senja! :D

Sabtu, 26 Januari 2013

Halo

Halo Jogja!
Halo Indonesia!
Halo kalian semua!
Saya sedang senang sekaligus terharu*jingkrak-jingkrak*
Bagaimana tidak sodara-sodara, tulisan saya yang berjudul sketsa dan satu hari yang lalau saya posting di blog ini, ternyata tidak seamburadul yang saya kira.
Puji syukur,tulisan saya tersebut menjadi HL di situs kompasiana.
Saya baru menyadarinya kemarin sore setelah pulang dari latihan pleton inti. Ketika saya membuka layar laptop saya, dan membuka akun saya di situs kompasiana. Ternyata oh ternyata, tulisan saya berubah. Semula yang tak saya beri ilustrasi (baca: gambar) menjadi ada ilustrasinya. Dan itu menunjukan tulisan saya dijadikan HL.Seketika itu, saya lalu jingkrak-jingkarak. Senang bukan main.
Ya Tuhan, akhirnya tulisan saya jadi HL juga. Saya berlebihan? Tentu saja. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama menulis di situs itu, akhirnya untuk pertama kalinya tulisan saya jadi HL. *jingkrak-jingkraklagi*
Saya sungguh senang, apa yang lebih menyenangkan untuk penulis amatiran seperti saya ini, selain karyanya bisa diapresiasi oleh orang lain dan syukur-syukur bisa menginpirasi?
Sudahlah, saya bahkan tidak pernah berharap sedikit pun tulisan sketsa saya, akan menjadi HL. Saya juga tidak menyangka, celoteh saya tentang masa empat tahun silam itu bisa diapresiasi.
Saya tidak bermaksud menyombongkan diri. Sungguh. Apa yang bisa saya sombongkan dari tulisan-tulisan saya yang masih amatiran ini?.
Saya juga sedang belajar. Menulis dan menulis. Entah apa pekerjaaan saya kelak, entah mau jadi apa saya esok, saya tidak peduli. Yang jelas saya tidak akan berhenti menulis dan menulis Bahkan jika sendainya tulisan saya tak diapresiasi pun, saya tetap akan menulis Itu dunia saya. :)
Saya tidak mempedulikan tulisan saya menjadi HL atau di puji banyak orang. Karena bagi saya, ada kebahagiaan tersendiri ketika saya menulis.
-----
Rey, celotehku tentangmu empat tahun yang lalu menjadi HL pertamaku.
Aku sungguh tidak menyangka Rey.
Bagaimana mungkin?
Bukankah itu hanya cerita konyol saat kita SD?
Ah Rey, sudahlah.
Ini juga berkatmu.
Terimakasih, sudah mempersilakan aku masuk dalam duniamu.
Lalu aku bisa menulis, mereka-reka lagi tentang sosokmu.
Empat tahun yang lalu.
 45 menit sebelum persiapan lomba tonti
Dan aku masih sibuk memainkan jemari
Tak apa, kali ini saja sebelum aku mandi
Lalu berkemas diri
Doakan aku sukses hari ini
Hihihihihihi
Langit Senja :D




Jumat, 25 Januari 2013

Sketsa


Aku hanya ingin bercerita, tapi suaraku seakan tersekat di udara. Bercerita tentangmu, khususnya. Rey. Kamu pria polos dengan senyum simpul. Aku masih mengingat detail semuanya, empat tahun yang lalu.
Saat aku dan kamu masih menjadi anak-anak polos dan lugu. Saat semua hal menyedihkan tentang dunia, kita abaikan dan malah asyik bergelut dengan permainan. Apa yang salah dari bocah ingusan seperti kita Rey? Kita hanya saling tertawa dan berbuat onar apa saja, semau yang kita suka bukan?
Apa yang salah Rey ketika aku sering meninju bahumu dan menjahilimu tiap kali kita bertemu? Kau justru akan balas mengejekku, lalu kita akan beradu argumen, saling mengolok dan menjatuhkan. Tapi sungguh, aku menakmati semua permainan bodoh yang kulakukan bersamamu. Lagipula, saat itu kita masih kecil Rey, masih polos. Belum tahu soal politik, awam dengan kata hukum, dan filosofi hidup lainnya yang sama sekali belum kita pahami.
Rey, sudahlah. Aku enggan bercerita lagi kepadamu. Sungguh, ini hanya soal kenangan, bukan perasaan. Tapi bolehkah bila saat ini aku bercerita kepadamu tentang perasaan? Reym apa kau mau mendengarkan?
----------
Empat tahun yang lalu.
Kamu tiba-tiba datang Rey. Mulai menjamah ruang duniaku. Menjadi salah tokoh dalam skenario takdir milikku.
Rey, saat kau datang, semuanya berubah. Sahabatku Rey. Iya, semenjak mengenalmu, dunianya menjadi penuh warna. Seakan-akan tiap detik kupu-kupu melayang di dalam perutnya. Seakan-akan semua rasi bintang terpampang jelas di bening matanya. Itu semua karenamu Rey, dia jatuh cinta. Sungguh sangat jatuh cinta. Kepadamu.
Rey, semenjak aku mengetahui satu rahasia kecil dalam hatinya bahwa dia menyukaimu, semenjak itu pula duniaku berubah.Sahabat mana yang tak turut bahagia bila sahabatnya sedang jatuh cinta? Lalu aku mulai sering melakukan hal-hal bodoh. Aku sering menjahili sahabatku, sekaligus menjahilimu. Aku sering menggodanya dengan kata-kata konyol. Menyebut namamu dengan sengaja di depannya. Lalu dia pasti akan tertawa Rey, pipinya akan merona.
Aku jadi lebih sering mengejekmu, memberimu kode-kode dengan isyarat yang sama. Hanya agar kau tertarik dengan semua celotehku lalu kau juga balas menyukainya. Lalu kau pasti akan melotot kearahku, melayangkan tinju ke bahuku yang selalu saja hanya pura-pura kaulakukan agar aku tak lagi mengganggumu.
Rey, dengarlah. Saat itu, aku tak benar-benar berniat mengganggumu. Aku hanya ingin menunjukan padamu, bahwa sahabatku menyukaimu. Itu saja, Rey.
---------
Empat tahun silam.
Rey harusnya kau tahu, sahabatku itu benar-benar menyukaimu waktu itu. Percayalah, rasa sukanya tulus. Aku mengenalnya dekat Rey, dan bagaimana mungkin aku tak peka bila dia benar-benar jatuh cinta?
Rey, dulu aku sering membuat hal-hal konyol. Aku sering memanggil namamu dengan nama sahabatku. Begitu sebaliknya.
Rey, dulu aku sering mencipta hal-hal gila. Aku sering mencari momen-momen yang tepat untukmu dan sahabatku. Aku terlalu sering berusaha membuat momen yang tepat, agar kalian bisa merasa dekat, agar sahabatku senang, dan kau balas menyukainya.
Tapi kau selalu marah Rey bila aku melakukan semua itu padamu. Kau pasti akan memarahiku, mengomel dan balas mengejek semaumu. Aku masih bisa terima Rey. Tapi ketika emosimu memuncak dan kau melampiaskannya dengan mencemooh sahabatku, aku tidak bisa terima. Aku akan marah padamu, lalu pasti akan melanyangkan tinju ke bahumu.
Sudahlah Rey, jika kuceritakan segalanya saat itu, kau mungkin tak kan percaya. Lagipula, apa yang bisa kaupercayai dari seseorang sepertiku? Yang selalu membuatmu merasa jengkel tiap hari karena tingkah gilaku, yang selalu membuat bahumu sakit selama dua hari lebih karena tinju kepalan tanganku dibahumu?
Rey, mungkin ketika kau membaca ini, kau masih belum mengerti. Ini soal realita Rey, bukan kata-kata yang hanya penuh dengan reka.
-------
Empat tahun silam.
Rey, aku enggan menjelaskan segalanya. Nyatanya, setiap momen yang kucipta bersamamu berhasil menyita tiap lembar memory yang kupunya.
Aku seperti orang linglung Rey. Seperti orang gila yang tak menyadari relalita perasaannya sendiri. Aku terjebak dalam permainan bodohku sendiri Rey. Hatiku benar-benar tersekat, pikiranku berkabut, aku sekarat.
Mungkinkan disebabkan olehmu? Mungkinkah jebakan itu datang dari tiap frekuensi yang sering kucipta bersamamu melalui olok-olokan dan kegilaan?
Rey, dengarlah. Aku lelah, aku bosan mereka perasaanku sendiri. Aku hanya tahu tiga hal kecil saat perasaan asing itu mulai tumbuh; sahabatku menyukaimu, kamu adalah orang yang disukainya, dan aku adalah sahabatnya yang ingin membantunya untuk dekat denganmu.
--------
Empat tahun silam.
Rey, jika setiap orang bebas memilih, aku akan banyak melakukan pilihan dalam hidupku. Tapi sayangnya, Tuhan tak mengijinkan. Aku bahkan tak pernah meminta satu hal kecil ini pada Tuhan; jatuh cinta kepadamu. Sungguh Rey. Aku tidak pernah memintanya. Tapi nyatanya, aku memang hanya manusia, bisakah jika harus malawan arus perasaan mahadahsyat yang disebut cinta? Rey, sudahlah. Mataku mulai berembun. Aku mengingatmu (lagi).
---------
Empat tahun yang lalu.
Lihatlah Rey, ketika perasaan suka sahabatku kepadamu hampir berada di titik puncak. Dan aku enggan berbuat apa-apa lagi. Aku mulai lelah dengan tingkah bodoku sendiri. Aku takut, jika tingkah bodohku justru akan membuat perasaan aneh itu muncul lagi dan aku terjebak didalamnya.
Rey, bagaimana mungkin aku tak terjebak? Aku bahkan tak mengerti perasaan aneh yang selalu mengusikku berhari-hari, aku bahkan tak mengenali perasaanku sendiri. Aku asing dengan duniaku sendiri, aku asing Rey.
Rey kautahu? Semenjak perasaan itu datang, dan mulai meracuni tiap denyut peredaran darah, aku jadi merasa bersalah.
Harusnya aku tak membiarkan diriku mengidap perasaan asing itu Rey. Bagaimana mungkin aku menyakiti sahabatku sendiri? Kau dunianya, dan bagaimana mungkin aku merampasnya? Aku tahu aku mungkin bukan orang yang baik, tapi aku tak kan membiarkan diriku menghianati sahabatku sendiri. Apa kau masih belum jelas sampai disini Rey?
------
Empat tahun silam.
Aku sudah tahu beberapa hal yang selalu berusaha kausembunyikan. Sudahlah Rey, nyatanya aku bisa dengan mudah menebak kode dan isyarat rahasiamu. Seperti kode yang pernah kaukatakan diujung telephone waktu itu "aku suka 'layangan' ". Aku tahu itu Rey, tapi aku berusaha tak peduli. Aku urung bercerita tentang itu pada sahabatku. Aku tak mau mengobrak-abrik hatinya yang halus dan bisa retak kapan saja bila ia tersakiti. Aku tak mau itu terjadi Rey.
-------
Empat tahun silam.
Rey, saat ini aku bukan gadis kecil lagi seperti yang kau lihat empat tahun yang lalu. Aku sekarang sudah jauh lebih paham dan dewasa, bahwa cinta memang tak pernah bisa dipaksakan Rey. Aku terlalu egois, selalu saja mengatur-atur perasaanmu. Menuntutmu untuk jatuh cinta pada sahabatku. Apa hakku untuk memaksamu menyukai seseorang yang memang tak kausukai?
------
Tiga tahun yang lalu.
Ketahuilah Rey, jika saat itu kau benar-benar mengatakan semuanya. Aku bahkan bisa saja mengabaikannya. Sekali lagi Rey, sahabatku lebih penting darimu. Biar aku saja yang tahu tentang perasaan idiot ini. Biar aku saja Rey.
Rey, kau pasti sudah paham semuanya. Meskipun aku masih tak percaya dan sulit berlogika
Rey, apa pun yang terjadi dulu, saat ini dan entah kapan akan terulang lagi. Percayalah, aku masih mengingatmu. Sebagai puzzle-puzzle berserakan yang masih kurapikan ulang, sebagai sketsa-sketsa tanpa rupa yang masih kusimpan rapi dalam saku kepala.
-----
Rey, sudahlah masa itu sudah berlalu. Untuk apa kausesali. Barangkali kau malah lupa sama sekali, dan aku justru sibuk mengingatnya setengah mati.
Rey jangan khawatir, sahabatku sudah mendapatkan penggantimu. Jangan tanyakan denganku Rey, aku lebih suka menikmati kesendirianku sendiri.
Rey, sudahlah aku enggan berkata lagi padamu dengan banyak metafora. Kau sudah tahu segalanya lewat tatapanku di pintu keluar gedung wisuda; tempatmu dan tempatku terakhir kali menghabiskan masa olok-olokan dan kegilaan.
Kau sudah tahu segalanya Rey. Bahagialah dengan duniamu yang sekarang. Anggap saja aku sahabatmu. Posisimu sama Rey dengan sahabat-sahabatku saat ini. Tapi saat selanjutnya, aku tak bisa memprediksi.
Rey, maaf aku terlalu banyak bercerita. Kau boleh tertawa usai membaca kisah ini, (bila kau membacanya). Sungguh Rey, aku hanya sedang merefleksi jiwaku. Aku hanya ingin mengganti masa empat tahun silam dengan satu lembar tulisan tak bernyawa ini. Sesederhana itu Rey.
----
Aku menyelami setiap waktu dan kegilaan yang kucipta bersamamu
Lalu tanpa sadar, jiwaku sendiri yang menjadi gila
Aku linglung setengah mati dengan perasaanku sendiri
Aku menyelami setiap detik dan frekuensi yang kulalui bersamamu
Lewat candaan dan pertengkaran kecil
Lalu tanpa sebab, jiwaku sekarat
Aku mati rasa, asing segalanya
Karenamukah?
Tanda tanya
? 
Diantara bau menyengat paracetamol,
Diantara banyak tumpukan diktat-diktat yang menyekat.
Diantara kegalauan yang tak bersebab,
Aku masih bisa menulis tentang sosokmu
Mengorek semua remahan masa lalu.
Sesederhana itu.
17.13 WIB25-01-2013
Langit Senja :)

Untuk siapa pun yang membaca, khususnya sahabat-sahabatku, anggap saja ini dongeng seribu satu kisah. Jangan iba dan menganggap ini cerita duka. Aku justru lega sudah menuliskan semuanya. Meskipun mataku mulai berembun, dan suaraku tercekat di udara. Disaat seperti ini, pantaskah aku merindukanmu? Pantaskah aku memikirkanmu lagi? :)
Aku hanya ingin berkata satu hal kecil . "Aku rindu kamu." Itu saja, cukup. Ini untukmu Rey, dalam samaran yang masih kubuat maya.

Sabtu, 12 Januari 2013

Aku, Kamu dan Pohon Pinus

Hari itu saya ulang tahun. Ini pucket bunga buat saya, katanya di koridor sekolah waktu itu. Saya menatapnya sejenak, sedikit ragu saya berkata, “Buat gua?”. Dia lalu mengangguk, tersenyum simpul.
“Tapi gua nggak suka bunga. Maaf.”
Saya tahu dia kecewa, bahkan teramat sangat. Wajahnya berubah murung seketika. Lagipula saya memang tak suka bunga, bunga membuat hidung saya terasa gatal dan bersin-bersin bila mencium aromanya.
“Eh, tapi kalau lu kasih gua coklat gua mau!” Saya cepat merespon raut wajahnya, berusaha membuat keadaan senormal mungkin.
“Tapi gua nggak bawa coklat, adanya permen karet. Lu mau?” Dia tampak ragu-ragu menjawab perkataan saya.
Saya melonjak-lonjak riang di depannya, dia tertawa. “Mau-mau!” Tanpa basa-basi saya lalu merampas beberapa bungkus permen karet yang barusaja ia keluarkan dari saku celananya. Saya tertawa riang, “Hahaha, thanks ya!”
Dia juga ikut tertawa, menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu mengacak-acak rambut saya. “Padahal gua cuma kasih lu permen karet. Kayak gua ngasih lu berlian aja!”
“Hahaha, daripada lu ngasih gua bunga? Bisa berabe gua hahahaha!” Saya menepis tangannya yang masih usil mengacak-acak rambut saya.
Membuka satu bungkus permen karet. Lalu memasukkannya ke mulut saya dengan lahapnya.
***
Saya tak pernah meminta banyak hal darinya. Bahkan hanya untuk sekadar memintanya menemani saya pergi pun, tak pernah. Saya tak tega bila harus melihatnya murung seharian karena kekasihnya sibuk mengomelinya.
Pacarnya akan marah besar jika seharian dia tak memberi kabar dan ternyata pergi bersama perempuan lain sekalipun itu sahabatnya. Saya teramat tak tega.
Dulu memang dia sering mengajak saya pergi bersama, wajar saja dia sahabat baik saya. Tapi semenjak dia berkata pada saya bahwa dia sudah punya kekasih, saya selalu mengelak bila diajaknya pergi sekalipun dengan kekasihnya.
Mungkin bagi saya, dia tetaplah sahabat baik saya, pun dia sebaliknya. Tapi bagi kekasihnya? Saya tak ingin melukai perasaannya. Saya tidak ingin membuatnya berpikiran yang bukan-bukan. Saya tidak ingin dia salah paham lalu melampiaskan kekecewaannya pada sahabat saya. Itu saja.
***
Saya menghirup aroma pinus dalam-dalam. Disini udara sejuk, saya suka mengahabiskan waktu saya disini. Di jalan setapak tempat saya dan sahabat saya biasa bersepeda (tapi itu dulu). Di kanan-kiri jalan penuh rimbun pohon pinus, saya selalu terkesima. Dulu dia sering mengabadikan gambar saya di tempat ini. Sekarang? Sudahlah, toh dia sudah bersenang-senang dengan kekasihnya disana.
Lalu sore itu entah ada angin apa, tiba-tiba dia datang dengan sepeda fixinya. Dia berteriak memanggil nama saya dan tangannya melambai dari kejauhan. Saya yang sedang asyik menikmati pemandangan di tepi jalan menoleh. Melambaikan tangan.
Dia menyandarkan sepedanya di dekat sepeda saya. Lalu beranjak duduk di samping saya.
Hening.
Kami masih sibuk dengan pikiran masing-masing, sebelum akhirnya dia membuka suara dan berkata.
“Apa kabar?” Suaranya terdengar begitu ramah, saya terperangah.
“Baik, lu sendiri?”
“Baik,” Dia mengangguk.
Hening.
Entahlah, ini terlalu absurd untuk dijelaskan. Semenjak dia punya kekasih baru dan kami lama tak lagi bersua, akankah harus secanggung ini ketika hendak berbicara? Bukankah dia sahabat saya?
“Pacar lu, apa kabar?” Saya berusaha membuat senyum simpul semanis mungkin.
“Pacar gua? Maksud lu? Ratna?”
Saya mengangguk siapa lagi?
Heh,” dia tertawa kecut, “Gua udah putus sama dia.”
Saya terkaget-kaget mendengar pengakuannya. Bukankah katanya dia sangat mencintai kekasihnya?
“Iya, gua putus. Lu jangan bengong gitu dong!”
“Kenapa?”
“Karna kita udah nggak cocok.”
Saya hanya mengangguk, enggan menanggapi lebih lanjut. Itu sama sekali bukan urusan saya.
Seketika saya paham, kenapa tiba-tiba dia datang mengahmpiri saya disini. Semata-mata hanya karena dia telah bebas dari kekasihnya. Segampang itukah?
“Gua mau ngomong sama lu, sebenernya gua suka sama lu.” dia berkata dengan begitu ringannya. Saya muak, tersenyum kecut, acuh tak acuh menjawab perkataannya. “Bulshit,”
Kalau dia memang menyukai saya, kenapa dulu dia tak pernah mengatakannya ? Apa maksudnya ketika dia justru memilih  pergi dengan kekasih barunya dan tak lagi bercerita kabar pada saya, sahabat sekaligus orang yang katanya dia suka?
“Na?”
Saya menoleh,
“Maafin gua.”
“Nggak ada yang perlu dimaafin. lu nggak salah apa-apa.”
“Harusnya gua bilang sama lu dari dulu.”
Saya lagi-lagi menggeleng, “Nggak perlu.”
“Gua pacaran sama Ratna supaya gua bisa lupa sama perasaan gua sendiri. Dan sebenernya yang gua suka itu elu bukan dia, asal lu tau,”
Hening.
“Na?”
“Ya?” Saya masih menatap rerimbunan pinus di depan saya.
“Maafin gua.”
“Santai aja!” Saya menoleh, lalu menepuk-nepuk bahunya. “Lu tetap sahabat gua!”
Dia mengangguk, bola matanya meredup. “Sahabat?”
“Ya, apalagi?” Saya tersenyum.
Ketika melihat senyum sumringah di wajah saya, redup matanya mulai menyala. Dia tak lagi terlihat murung. Lalu dengan keyakinan penuh dia berkata, “Iya, lu sahabat gua!”
Dan dia lalu tertawa tanpa paksa. Saya hanya bisa tertawa kecil. Menatapnya diam-diam. Lalu kembali mengarahkan pandangan saya pada hamparan pohon pinus. Sebegini sakitnya kah perasaan?
Maaf, bukan aku tak mencintaimu. kau sahabat baikku dan bagaimana mungkin aku tak cinta? Aku sedang menunjukkan rasa cinta kepadamu dengan caraku yang berbeda. Dengan tetap menagasihimu sebagaimana biasanya. Sahabat. Itu saja cukup. Aku tak ingin lebih. Sekali lagi, kamu sahabatku, dan aku mencintaimu. :’)
PS: ini hanya fiksi sodara-sodara. Kalian pernah mengalami hal yang sama dengan cerita ini? Kalau ada, ini bisa disebut ‘based on the true story.’ wkwkwk. Read and commented? Thanks :)
7012013 22.26
 Langit Senja :)

Sumber Foto disini :)


Senin, 31 Desember 2012

Sosaku Kobayashi

Aku tahu beliau begitu rapuh. Tapi tak dibiarkannya kami menangkap sorot letih diwajahnya.
Dengan sisa kekuatan dan semangatnya yang begitu besar untuk kami, beliau tetap mengajari kami sebagaimana biasanya: ceria.
Aku tak habis pikir, bagaimana ia yang serenta dan selemah itu karena penyakitnya, tetapi tetap bersemangat untuk mengajari kami, muridnya. Hatiku jadi teriris, dan mungkin mereka (temanku) juga ikut merasakannya.
Beliau yang mempunyai semangat besar walau demi kami, ia harus rela menahan rasa sakitnya. Beliau yang tak pernah absent dengan panggilan istimewanya "Nak," pada kami. Beliau yang tak pernah bosan mendongengkan kami bermacam-macam kisah mengagumkan. Beliau yang tak pernah lepas dengan kata-kata motivasinya untuk kami, dan kata yang mungkin tak akan pernah kami lupa darinya adalah "Nak! Ingat, sukses atau tidaknya dirimu berada dalam genggamanmu, berjuanglah. Jangan menyerah dengan keadaan. Bayangkanlah betapa hebatnya bangsa ini kelak, karena calon pahlawan-pahlawan masa depan telah siap dengan perjuangan dan pengorbanan. Maka ingat dirimu, siapa pun kau, kau adalah calon penerus. Dan kalian tahu siapa calon penerus yang akan sukses di masa depan? Dialah orang-orang yang selalu memaksa dirinya untuk melakukan "ya", walau demi itu ia harus rela membuang semua rasa kemalasannya, ingat itu ya Nak?"
kami hanya mengangguk.
Terimakasih untuk jasamu yang sungguh luar biasa untuk kami.
~untuk menggambarkan, betapa menajubkannya sosokmu bagi kami; beliau yang menurutku sepadan dengan Sosaku Kobayashi(guru kami yang akan selalu kami kenang dalam sejarah kehidupan kami)
16 Januari 2012 16.48 WIB
Untukmu guru matematika favoritku di SMP
Yang selalu sabar mendidik murid-muridmu yang selalu malas mengerjakan tugas-tugas
Termasuk aku
Tapi kau hebat, kau berhasil membuat kami percaya bahwa kami bisa
Lihatlah, betapa hebatnya kau, bahkan nilai matematikaku saat tryout tak pernah lepas dari nilai empat dan lima
Tapi atas bimbinganmu yang luar aku berhasil mendapatkan nilai 8,75 :') saat ujian nasional
Begitu juga dengan nilai-nilai mereka yang lainnya
Jauh lebih baik dari yang mereka kira
Terimakasih Bpk. Isbiyanto
 Semoga sakitmu yang sering mengganggu pekerjaanmu dulu lekas sembuh O:)
Aamiin
Sekali lagi, terimakasih :)
Langit Senja :')

Minggu, 30 Desember 2012

Senja di Natsepa#2



Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di Pantai Liang. Pantai itu terletak di Desa Liang Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, dan hanya berjarak sekitar tiga puluh satu kilometer dari kota Ambon.

            Pantai ini, tak kalah menariknya dari Pantai Natsepa. Bahkan pernah dinobatkan sebagai pantai terindah pertama di Indonesia berdasarkan hasil penelitian Badan PBB yang mengurusi pembangunan global (UNDP) 1990, karena memiliki panorama bawah laut yang sangat menawan.

            Itulah sebabnya kenapa Azka sangat ingin berkunjung ke pantai ini, lagipula terakhir kali ia kesini dua tahun yang lalu. Dia juga rindu pantai ini, meskipun dia lebih merindukan Natsepa

            Satu jam berlalu. Mereka berdua masih asik bermain-main di bibir pantai, mengabadikan panoramanya dalam lensa kamera yang selalu Azka bawa di tas ranselnya.

            Tapi lima menit kemudian, setelah mereka puas menikmati panorama Liang, mereka memutuskan pulang.

            “Sha pulang dari sini anterin gue ke Natsepa ya!”

            “Lah, bukannya baru kemarin kita kesana?”

            “Ayolah! Lagian daket dari rumah ini!” Azka menarik tangan Rakasha, mengajaknya pergi.

            Azka memang sangat menyukai pantai terutama Natsepa, dan beruntungnya dia karena sahabatnya, Rakasha juga menyukai hal yang sama. Dulu, dua tahun yang lalu mereka sering berkunjung ke pantai mana pun yang mereka suka.

Mereka sering pergi berdua naik angkot semasa Azka masih tinggal disini. Membuat petualangan yang mengagumkan. Menjelajahi pantai-pantai. Pergi ke tempat bersejarah di kota Ambon. Mengunjungi Patung Pattimura di Lapangan Merdeka,  Patung Martha Christina Tiahahu di Karang Panjang atau  ke Bunker/Terowongan bawah tanah V.O.C. di Benteng Atas dan masih banyak tempat-tempat lainnya. Semua tempat di kota itu mereka telusuri.

            Tapi itu dulu, sebelum Azka akhirnya pergi, melanjutkan studynya di Ibu Kota Negara. Sebelum seragam SMPnya berubah menjadi putih abu-abu.

***

            Lima  tahun yang lalu, di Pantai Natsepa Indah

            Seorang gadis kecil yang hendak menginjak remaja, berkulit sawo matang, berkemeja merah, rambutnya dikucir kuda, memakai topi putih, dan gelang metalik di pergelangan tangannya. Berlari-lari kecil menyusuri bibir pantai dengan wajah riangnya.

            Kedua orang tuanya mengawasinya dari kejauhan. Sesekali tersenyum melihat tingkah puterinya.

            Seorang anak laki-laki hampir remaja, wajahnya peranakan china, berkaos biru, bertopi biru, dan di tangan kirinya terpasang jam tangan, juga warna biru. Berdiri memerhatikan gadis itu. Diam-diam mengintip dari balik pohon kelapa. Orang tuanya juga mengawasinya. Bukan tersenyum, tapi geleng-geleng melihat tingkah puteranya.

            Gadis itu masih bermain di bibir pantai. Menyambar ranting rotan di dekat pohon kelapa di sekitarnya, lalu menulis di pasir putih dengan ranting itu, ‘Azka’. Anak laki-laki yang memerhatikannya diam-diam dari balik pohon kelapa itu tersenyum, ‘Jadi, namanya Azka?’

            Pandangannya masih mengarah pada gadis itu. Lalu mimik wajahnya berubah pucat ketika gadis itu berlalu dari tempatnya semula. Dia panik, mengedarkan pandangannya ke segala arah, tidak ada. Dia kemana? Kenapa tiba-tiba dia merasa sedih ketika gadis itu pergi? Bukankah dia belum benar-benar mengenal gadis itu? Hanya sebatas tahu coretan namanya di pasir putih?

            Gadis yang dicarinya ternyata sudah berdiri di depan warung. Dia ingin membeli rujak natsepa, rujak buah berbumbu kacang yang selalu menjadi kegemarannya saat ia berkunjung di pantai itu. Saat pesananya sudah siap, lalu ia membawa rujaknya ke bibir pantai lagi. Menyantapnya sambil menikmati deburan ombak.

            Ketika melihat gadis itu datang lagi, anak laki-laki itu tersenyum, matanya berbinar-binar. Gadis yang dicarinya ternyata kembali lagi. Dan kabar baiknya, dia sekarang duduk di bibir pantai yang hanya berjarak lima langkah persis dari pohon kelapa yang menjadi tempat persembunyiannya. Dia bahkan berjingkrak-jingkrak karena teramat senangnya.

            Gadis itu masih belum menyadari bahwa ia sedang diamati oleh seseorang. Hingga telinganya mendengar gemerisik dari balik pohon kelapa di dekatnya, dia lari mendekat. Matanya menatap heran pada anak laki-laki itu. “Kamu ngapain disini?”

            “Oh, eh, enggak, gue lagi berteduh aja.” Nada bicaranya naik turun, dia teramat malu.

            Gadis kecil itu mengeryitkan keningnya, gue? Anak ini sepertinya bukan penduduk asli kota ini. Gaya bahasanya berbeda, kulitnya putih, dia bukan orang sini.

            “Oh,”

            Anak laki-laki di depannya mengangguk.

            “Kamu kenapa nggak main di sana?” Telunjuknya menunjuk bibir pantai yang semula ia tempati, “kan seru!”

            Anak laki-laki itu menggeleng.

            “Ayo ikut aku, eh ikut gue kesana!” Dia nyengir meniru kata “gue” yang tadi disebut lelaki kecil itu. Anak laki-laki itu juga nyengir.

            Mereka lalu duduk berdua, di bibir pantai. Orang tua mereka masih ditempatnya semula. Duduk di kursi tenda tepian pantai sambil mengawasi anak-anak mereka.

            Gadis kecil itu, menawari anak laki-laki itu rujak natsepanya. Mereka makan berdua.

            “Ini namanya rujak natsepa, kamu harus coba! Enak.”

            Anak laki-laki itu tersenyum, tangannya mencomot rujak dari wadah makanan ditangan gadis itu. “Enak,”’

            “Haha, iyalah. Oiya kamu tinggal di daerah sini?”

            “Iya, gue baru aja pindah dari Jakarta.”

            “Jakarta? Itu kan tempat kelahiran papa.”

            “Oya?”

            Gadis itu mengangguk, “Iya, dulu papa lahir disana, lalu pindah kesini dan menikah dengan mama.”, mata gadis itu berbinar-binar, “terus kamu kok pindah ke sini?”

            “Ayah gue pindah tugas disini. Jadi kami sekeluarga ikut pindah,”

            “Oh, pantesan bahasa kamu beda sama logat gue.”

            Anak laki-laki itu tertawa, “Haha, kalau ‘kamu’ itu ‘elo’, itu bahasa yang sering orang Jakarta gunakan.”

            “Oh, iya elo.” Gadis itu nyengir lagi.

            “Nama lo?” Ragu anak laki-laki itu bertanya.

            “Azka. Elo?”

            “Rakasha”

            Dia mengulurkan tangan, gadis kecil itu menerima jabat tangannya.

            Saat itu, detik itu, menit itu juga, Pantai Natsepa menjadi saksi kisah persahabatan mereka berdua.

***

            Sehari setelah pertemuan itu...

Takdir memang tidak bisa direka. Siapa yang mengira mereka akan bertemu lagi? Ternyata Tuhan berbaik hati, mengabulkan permintaan anak laki-laki itu.

Rakasha dan keluarganya ternyata pindah di kompleks perumahan yang sama dengan Azka. Jadilah sejak saat itu, mereka semakin akrab. Mereka menjadi sahabat yang baik, hingga mereka menginjak remaja, bahkan hingga saat ini.

            Hal itu mebuat semua kisah remaja mereka mengalir indah. Sangat indah. Apa yang lebih menyenangkan selain menikmati kisah masa kecilmu bersama seseorang yang teramat berharga dalam hidupmu?

***

Bersambung Senja di Natsepa#3 :D

 

Senja di Natsepa #1



Gadis itu menghirup nafas dalam-dalam, menikmati hembusan angin semilir yang sedari tadi menggelitik kulit arinya. Sungguh, ini pantai yang menarik. Pantai yang menjadi objek paling menonjol di kota kelahirannya,  kota Ambon.
Iya, Pantai Natsepa, disinilah segala kenangan kisah persahabatannya bermula, pantai inilah yang menjadi saksi kisah-kisah masa kecilnya, pantai yang memiliki kenangan penuh dalam sejarah hidupnya. Dia bahkan tak pernah bosan berkunjung ke sini, berkali-kali, tanpa kenal batas dan dimensi.
            Keindahan panoramanya yang mengagumkan, air lautnya yang bening tanpa sedikit pun sampah yang menggenang, pasir putihnya yang menawan, juga hembusan anginnya yang anggun, meneduhkan. Siapa yang tak terpesona?
            Dia suka menikmati kesunyian disini, mengabadikan objek-objek yang dianggapnya menarik. Dan nanti, ketika mentari mulai meninggalkan peraduan, dia akan berteriak riang, berlari-lari kecil menyusuri bibir pantai, lantas duduk takzim di atas tanah berpasir. Menatap penuh  jejak rona jingga di ufuk barat. Ini menyenangkan.
            Dan disinilah dia sekarang, duduk termangu seorang diri. Menikamati senja yang mulai menyisakan gelap.
            “Hoi!” Seseorang membuyarkan lamunannya. Dia terlonjak, kaget.
            “Eh, elo, ngagetin aja sih!”
            “Lagian elo ngapain melamun disini? Haha.”
            “Refreshing lah, deadline gue padet banget sekarang.”
            “Dih, sok-sokan sibuk,” Pria itu mengacak-acak rambutnya.
            “Hahaha, biar.”
            Mereka saling tertawa, lalu pandangannya kembali terarah pada langit senja. Matahari nyaris tak bersisa.
            “Elo kok suka banget sih kesini? Nggak bosen?”
            Gadis itu menggeleng, “Bosen? Nggak ada kata bosen dalam kamus gue buat pantai seindah ini.”
            “Oya?”
            Yang ditanya hanya mengangguk. Mereka diam sesaat.
“Eh, elo kapan balik ke Jakarta?”
            Gadis itu menoleh, menatap lamat pria itu, “Elo ngusir gue?”
            “Bukan! Bukan itu maksud gue, gue cuma mau mastiin aja, elo bakal lama tinggal disini,”
            “Hahaha, woles aja kali! Iya, gue tahu maksud lo. Tapi gue disini cuma bentar. Cuma libur semester ini.”
            Begitu mendengar kalimat gadis itu, hembusan nafas pria itu terasa berat. Bukankah baru sebentar ia bertemu dengan sahabat kecilnya itu? Kenapa sekarang harus pergi lagi?
            “Oh,”
            Gadis itu menepuk bahunya, “Santai aja, gue pasti kesini lagi kok.”
            Pria itu tersenyum kecut. Memaksa bibirnya  membuat senyum simpul semanis mungkin. Mereka kini berdua, duduk takzim dibibir pantai berpasir putih. Dihiasi nyiur kelapa, perahu yang melintas di sepanjang pantai, juga pemandangan sunset yang mulai menyisakan siluet senja.
***
            Pukul 15.00 WIT, Di rumah Rakasha. Di kompleks perumahan yang dulu juga ditempati Azka. Di pusat kota Ambon.
            “Eh elo lama nggak ngajakin gue ke  Pantai Liang kan? Ajakin gue kesana yuk!”
            “Lo yakin Ka?”
            “Yakin lah Sha,”
            “Oke cabut!”
            “Eh Ka! Elo mau kemana?” Tangannya menarik lengan sahabatnya.
            “Ke garasi. Kita bawa mobil.”
            Gadis itu menggeleng, pria yang di depannya mengeryitkan dahi. “Jadi maksud lo?”
            “Siapa suruh kita bawa mobil, hahaha kita bakal naik angkot.”
            “Serius?”
            “Ah! Lama lo, ayo!”
            Gadis itu tertawa lebar, sekali lagi menarik lengan sahabatnya, Rakasha. Lalu mereka berlari kecil ke jalan raya, menunggu angkot.
            Rakasha hanya geleng-geleng kepala ketika memerhatikan ulah sahabatnya, Azka. Gadis ini, meskipun sudah lebih dewasa dari lima tahun yang lalu, tapi tingkah konyolnya masih selalu ada. Tak pernah hilang, Rakasha nyengir
“Eh itu angkotnya udah dateng,” Azka melonjak-lonjak. Tangannya masih memegang lengan Rakasha.
“Iya, iya gue tahu! Tapi tangan lo lepasin dong, sakit woy!” Rakasha meringis.
“Haha, sory, gue kebawa suasana ni, kan lama gue nggak naik angkot sini.”
Tanpa basa-basi, Azka lalu menyeret Rakasha naik ke atas angkot. “Tuh kan, pegangan tangan lo kenceng banget. Lo cewek apa cowok sih? Kekar banget!”
Rakasha masih mengomel. Azka tak peduli, malah asik bersenandung. Beruntung, mereka duduk bersebelahan di deretan bangku depan. Persis di dekat pintu masuk angkot. Setidaknya duduk di bangku itu terasa lebih sejuk karena udara bebas keluar masuk.
“Rasanya masih sama kayak dulu ya?”
“Haha, kayak nggak pernah naik angkot aja lo,”
Azka melotot, tangannya menepuk bahu Rakasha. “Aduh!” Rakasha hanya cengengesan.
“Lagian kalo di Jakarta naik angkotnya nggak seasik ini. Disini lebih nyaman.”
“Berdoa aja, semoga Jakarta macetnya bisa berkurang dan lo bisa leluasa naik angkot dengan aman dan nyaman, hahaha”
“Elo kok malah cengengesan sih, ini gue lagi berargumen. Ngerti?!”
“Siapa bilang elo lagi lagi nyanyi sambil joget-joget. Gue juga berargumen kan?”
“Terserah lo deh,”
“Gue ketawa kan bukan karna ngetawain argumen lo Ka,”
“Lah?” Azka bengong. Lantas emangnya Rakasha tadi ngetawain apaan?
“Lucu aja lihat tampang antusias lo,hahaha.”
Azka sekali lagi menepuk bahu Rakasha. Mereka sama-sama tertawa. Sepanjang perjalan menuju Pantai Liang itu,  hanya mereka berdua yang membuat kehebohan di dalam angkot. Penumpang angkot yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua. Sesekali ada yang melotot ke arah mereka, mengisyaratkan agar mereka berdua tenang selama perjalanan.
Tapi, dua orang itu hanya cengengesan bila di pelototi seperti itu, lalu Azka akan berbisik ke telinga Rakasha, “Wuih, lo liat bapak-bapak yang melototin kita itu nggak Sha?”
Yang dibisiki melirik ke arah yang dimaksud, mengangguk. “Mainstream banget ye?” Yang dibisiki cekikian,”Inget Mak Lampir musuhnya Grandong kan lo?” Rakasha mengangguk lagi
 “Menurut lo Antara Mak Lampir sama Grandong, mana yang lebih mirip sama tatapannya dia, kalo gue sih dua-duanya hahaha” Kali ini Rakasha menggeleng.
 “Shutt, dianya ngelihatin kita lagi tuh, diem!” Rakasha mengingatkan sambil memasang jari telunjuk di depan bibir, isyarat tutup mulut.
“Hahaha,” Tapi Azka malah tertawa lagi.
“Ini anak!” Dan Azka akhirnya bisa berhenti tertawa setelah Rakasha membungkam mulutnya dengan tangannya.
“Emmmppffhh”
“Hahahaha, rasain!”
***
Bersambung Senja di Natsepa#2 :D
 

SKETSA TANPA RUPA Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger